PSIKOSOMATIS, BERSYUKUR DAN BAHAGIA



Hello :) sudah lama rasanya nggak menulis blog. Memang tahun 2019 ini, aku lebih fokus dengan self-development untuk diri sendiri. Jika pada tahun 2014-2016 menulis blog adalah salah satu hal yang menjadi fokusku untuk menyalurkan energi, tahun 2019 ini aku lebih fokus menyalurkan energi, kasih sayang, ide dan pikiran kepada orang-orang terdekatku.

Kenapa? Karena aku ingin mereka menjadi prioritas utamaku. Bukan berarti nggak mau bagi-bagi cerita lagi di blog, tapi saat ini prioritasku sedikit bergeser.

APAKABAR, ANDRA?


Setiap hari aku pun menanyakan pertanyaan yang sama dalam hati. Kabarku baik, sehat, lebih bahagia, lebih damai, walaupun tanggung jawab dalam pekerjaan, sebagai orang tua, dan sebagai individu semakin besar.

Tahun 2019, merupakan tahun dimana aku merasakan lahir kembali. Jiwa raga seakan terbuka dan siap menerima energi-energi yang lebih besar dari diriku. Cerita sedikit ya..

Dua tahun terakhir tuh aku langganan sakit, sampai sering banget masuk UGD. Alasannya pun selalu sama, nggak jauh-jauh urusan dengan perut. Keracunan lah, sakit perut lah, mual dan muntah lah.. pokoknya adaaaa aja masalahnya dengan perut. Beberapa kali mertuaku sempat bilang ke suamiku, “Sepertinya Andra banyak pikiran dan kecemasan.”

Satu dua kali mendengar kalimat tersebut, aku selalu mengacuhkan. Tak sadar dan tidak mau mengakui bahwa kalimat itu benar adanya. Sampai akhirnya suatu hari perutku sakit luar biasa, selama 1 minggu aku nggak bisa beraktivitas. Beneran bedrest aja, dan sakitttt banget sampai gak bisa makan :(

Aku dilarikan ke UGD, karena sudah terlalu lemas dan nggak bisa berdiri terlalu lama. Di bagian perut bawah rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan pisau. Rasanya gak pernah sesakit itu. Alhasil aku harus dirawat inap di rumah sakit. Beberapa prosedur medis aku jalankan, tapi apa hasilnya? Nihil.

Selama menginap di RS aku punya waktu untuk merenung, berpikir dan menyendiri. Berkali-kali aku bertanya, “Apa yang sebenarnya yang terjadi dengan diriku?”

Dan aku teringat perkataan mertuaku, mungkin aku punya kecemasan (anxiety). Setelahnya aku baru tau kalau kondisi yang aku alami disebut psikosomatis – atau penyakit yang dipengaruhi oleh efek psikologis (stress, tertekan, pikiran).


Setelah kondisi fisikku membaik, perlahan-lahan aku menyadari bahwa aku mengalami kecemasan yang luar biasa! Trauma-trauma masa lalu datang seakan menghantuiku, padahal ya kejadiannya sudah lewat, tapi ternyata memorinya membekas di pikiranku. Kalau kata orang, “Yang berlalu biar lah berlalu.” Tapi tidak bagiku, reaksiku terhadap masa lalu tentunya harus dibenahi, kalau tidak.. hal ini akan terulang dan terulang kembali.

Sambil mencari-cari cara untuk membantu aku membenahi beban yang ku pikul, akhirnya aku memutuskan untuk konsultasi ke mbak Diwien Hartono dan juga ke mertuaku sendiri. Mertuaku adalah seorang pengajar Living Values Education, Marital Therapist dan salah satu pendiri Yayasan Indonesia Bahagia.

Lewat sesi-sesi yang aku ikuti, akhirnya aku melanjutkan untuk mengembangkan dan memperkaya diriku dengan mengikuti beberapa workship Mindful Living yang difasilitasi oleh mertuaku, Mama Rani. Lucunya selama 7 tahun aku menjadi mantu-nya mama Rani, yang pertama ikut kelas-kelasnya mama ya aku duluan. Suamiku sendiri malah dulu belum pernah hahaha.

Nah balik lagi ya soal trauma-trauma masa lalu. Sejujurnya gak pernah sangka sih kalau trauma masa lalu yang terkadang teringat kembali itu harus dihadapi. Ada juga beberapa memori yang masih ‘ganjel’ karena aku belum bisa memaafkan seseorang yang pernah menyakiti aku di masa lalu (tenang, ini bukan soal mantan pacar kok! Hahaha!).

Karena sudah melewati masa psikosomatis, terapi, belajar, sadar, menerima, memaafkan, aku merasa hidupku semakin hari semakin membaik. Aku mulai menerima hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu, karena kejadian-kejadian tersebut yang membentuk diriku di masa sekarang.

Dan aku bisa bilang, trauma masa lalu itu gak sepenuhnya akan hilang :) tapi aku belajar bagaimana untuk bereaksi terhadap memori-memori tersebut. Contohnya seperti 2 minggu lalu, ada aja memori masa lalu yang tiba-tiba nongol di kepala. Tapi aku malah bertanya dengan diriku sendiri, “Kenapa ya kamu tiba-tiba muncul? Apa yang kamu mau dari aku?” – akhirnya aku berusaha menerima, memaafkan dan tetap melangkah ke depan.

Jujur aja sih, tidak mudah dan tidak instan untuk menghadapi kasus seperti ini.

Sejak aku belajar banyak lewat kelas-kelas Mindful Living, aku menaruh mindset dalam pikiranku.. bahwa aku bertanggung jawab dengan kebahagiaanku, aku ingin menjadi manusia yang damai dan bahagia. Mindset tersebut aku ulang-ulang terus menerus ke dalam pikiranku, aku tulis di jurnal, isi media sosialku juga sebisa mungkin yang hepi-hepi aja. Pertemanan juga aku filter, aku lebih memilih siapa yang mau aku ajak berteman, karena aku nggak mau buang-buang energi aku lagi.

Setahun berjalan, aku nggak nyangka aku bersyukur banget setiap hari bisa berada di titik ini.. walaupun rintangannya selalu ada, kadang suka sedih mendadak, tapi ya udah semuanya harus disyukuri. Energiku akhirnya bisa jadi magnet tersendiri, karena ntah kenapa setiap hari seriiiiiing banget ketemu orang baik, orang random yang tiba-tiba bantuin di MRT lah, orang yang tiba-tiba kirimin makanan ke rumah di saat aku belum sempat belanja. Ya karena setiap hari aku ingin hariku bahagia, dan ingin didekatkan dengan orang-orang yang baik.

Satu hal yang aku tekankan, kesehatan mental itu penting sekali, teman-teman!

Aku ngerti ini mungkin bukan sesuatu yang sudah umum, karena pasti ada aja yang bilang ke kita 'ya elo stres doang kali, lo kurang ibadah kali, ah elo lebay!' Tapi, anxiety, stres ataupun depresi bukan sesuatu yang main-main. Kita bisa lihat sendiri efeknya seperti apa jika kita tidak menyadari kondisi kita, dan kenapa aku berani cerita seperti ini? Karena aku ingin sekali mengajak teman-teman mengetahui tentang pentingnya kesehatan mental.

Kebahagiaan, kesehatan dan kewarasan itu bisa diusahakan kok, asal kita mau dan kita bekerja kerasa untuk mendapatkan itu.

Masa lalu sudah pasti tidak bisa kita rubah, tapi kita bisa merubah cara pandang dan cara pikir kita agar kita bisa hidup lebih baik. Usahakan yang terbaik untuk dirimu, jangan patah semangat! Selalu ada jalan keluar untuk segala kondisi yang sedang kita hadapi. Apa pun yang sedang kamu hadapi, tetap semangat ya teman-teman! :)

Terakhir, aku ingin ajak teman-teman untuk memperkaya diri dan berinvestasi dengan mengikuti kelas-kelas yang sudah aku ikuti. Bisa cek di akun Indonesia Bahagia ya untuk updatenya :)

14 comments :

  1. Good to hear about this, Kak Alo! Seringkali memang kita mengabaikan pikiran-pikiran negatif tersebut dan akhirnya menjadi racun untuk diri kita sendiri ya ): tapi memang sih, walaupun tahun ini kak Alo jarang ngeblog, tapi konten di IG pun isinya positive vibe semua, jadi kita yang baca ikutan seneng. Stay healthy inside out ya! :D

    ReplyDelete
  2. Thankyou so much kak Alo. Ternyata secara kebetulan aku jg mengalami hal yg sama dgn kakak,yg awalnya aku nggak ngerti kenapa dgn diriku skrng udh lebih paham. Keep inspiring kak! ��

    ReplyDelete
  3. entah kenapa baca ini sambil nangis.. karena begitu ngerasain hal yang sama kali ya.. thank you kak Andra..

    ReplyDelete
  4. Aku pernah mengalami hal ini. Waktu itu nggak tahu namanya psikosomatis. Ternyata emang lagi stress dan banyak pikiran, bawaannya mual (tapi ngga hamil) dan migren banget. Setelah liburan dan menenangkan diri, ternyata jadi lebih fresh dan sehat.

    ReplyDelete
  5. Aku juga pengen sedikit cerita, sebenernya aku sudah lama punya OCD dan terkadang suka berpengaruh ke kesehatan mentalku. Bahkan dulu hampir sempat menuju depresi ketika seminggu benar-benar merasa stress dan ngga bersemangat melakukan apapun. Saking ngga mau merasakan itu lagi jadi setelahnya aku mengatur pikiran dan janji ke diri sendiri kalau kebahagiaan dan kesehatan mentalku harus jadi prioritas utama dalam hidup. Kemudian dari situ aku mulai belajar untuk selalu mencoba membahagiakan diri sendiri terlebih dulu, ngga boleh terlalu banyak pikiran, menjaga kesehatan mental jiwa dan raga. Ternyata memang dengan kita bahagia, kita juga jadi lebih tenang dalam menjalani hidup. Aku sudah 2x ikut kelas meditasi gratis di Rumah Remedi, dan alhamdulillah bisa membantu untuk sedikit memaafkan masa lalu dan melepaskan beban yang sudah mengganjal lama di dalam hati. Sepertinya aku juga bakal mencoba kelas-kelas yang direkomendasikan Malo, thanks for sharing Malo! Stay healthy and happy ya! :)

    ReplyDelete
  6. Sebel banget kalau penyakit mental atau pikiran dibilang kurang ibadah atau iman. Huhuhu.

    ReplyDelete
  7. Ah rasanya kayak ngaca. Dalam artian saya juga sering merasakan hal seperti itu. Teringat masa lalu, tiba-tiba merasa takut, terus mau muntah dan sakit kepala. Tapi makin kesini saya coba sugesti diri "seburuk apapun masa lalu, saya nggak bisa balik lagi ke masa itu untuk memperbaikinya. Tapi saya bisa memaafkan kebodohan pada masa itu dan berbenah di masa sekarang agar masa depan saya lebih baik".

    Kapan ada kesempatan mau ikut kelas serupa ah, atau konsul dengan psikolog (disini belum ada psikolog, harus ke kota).

    ReplyDelete
  8. Mbak Andra I feel too banget suka sakit perut karena cemas!!!! semua bisa diatasi dengan jaga pola makan & berdoa. keep spirit ya girl!

    ReplyDelete
  9. Kok aku merasa ada tanda-tanda itu ya. Bahkan pas nulis komen ini aku lagi demam karena dr kemarin spaneng banget mikirin sesuatu :( yas, perlu meditasi fokus dan release kayanya dan banyak bicara sama diri sendiri :)

    ReplyDelete
  10. saya lagi diposisi ini sekrang, tapi berusaha untuk menghandle kembali & berjanji sama diri sendiri, karena ini sangat menyiksa. jadi perlahan-lahan untuk mengatur pola pikir biar tidak menjadi beban, doakan saya malo hihihii

    ReplyDelete
  11. Dibutuhkan keberanian besar untuk mengungkapkan hal seperti ini. Akan tetapi, dengan keberanian itu bisa menjadi inspirasi bagi pembaca. Saya yakin saat ini banyak banget yang lagi menderita hal sama. Semoga saja semua orang mendapatkan kesempatan untuk memulihkan diri seperti kak Alo.

    ReplyDelete
  12. Bener banget mba aku juga dulu sering banget masuk UGD karena maghnya kambuh. Bisa dibilang setelah pulang rumah sakit, masuk lagi dan begitu seterusnya. Ternyata akibat stress itu benar adanya bikin kondisi fisik jadi lemah dan sakit-sakita. Sekarang aku sedang berjuang untuk mengurangi stress kak

    ReplyDelete
  13. Aku juga pernah ngalamin hal hal yang sama Malo, jaman kuliah dulu sakit perut seperti ditusuk-tusuk, hampir di operasi karena disangka usus buntu, tapi ternyata Nihil. Kadang suka gitu ya, kita ga nyadar kalau sedang stres sampai fisik pun yang harus ikut mengirim sinyalnya. Thanks for sharing Malo 💙

    ReplyDelete