JAIPUR TRAVEL JOURNAL #1



Mini bus yang akan mengantar kami selama 3 hari di Jaipur sudah siap di depan lobi hotel. Terlihat tulisan dengan ukuran besar bertuliskan ‘Tourist’, ntah apakah ini suatu hal yang biasa atau tidak, tapi bagi saya cukup janggal. Hari ini akan jadi hari yang panjang namun akan sangat menyenangkan, pikir saya.

Setelah semua peserta perjalanan yang diundang oleh AirAsia naik ke bus, disitulah cerita perjalanan saya dimulai.

Jaipur dikenal sebagai The Pink City. Hampir seluruh sudut dan tembok-tembok kota berwarna merah muda, tapi sejujurnya menurut saya sih.. warnanya lebih ke warna salem. Cerita awalnya pada tahun 1876, Prince of Wales dan Queen Victoria ingin mengunjungi Jaipur. Lalu untuk menyambut kedatangan para rombongan, Maharaja Ram Singh mengecat seluruh kota dengan warna merah muda sebagai tanda keramahan dan juga kesediaan untuk menerima tamu. Mungkin untuk cari perhatian kali ya?

Akhirnya tradisi ini terus dijalani oleh penduduk, makanya semua sudut warnanya pastel dan nggak membosankan untuk dipandang.



Destinasi pertama kami adalah Amber Fort, salah satu mahakarya yang dibangun oleh Raja Man Singh I pada abad ke 16. Begitu sampai di lokasi, saya merasa bak selebriti, dikelilingi oleh para pedagang yang menawarkan dagangannya tapi sangat agresif. Salah satu pedagang yang menjual topi langsung menaruh topinya di kepala saya, saya reflek menepisnya dan berlari ke rombongan saya.

Memang begitulah para pedagang disana, agresif dan berisik. Kalau kita tidak lantang bilang ‘tidak!’, mereka akan terus-terusan menawarkan dagangannya. Kitanya harus lebih galak. Sebetulnya hal ini juga gak bisa disalahkan ya, karena kesejahteraan ekonomi di India belum merata.

Untuk mencapai Amber Fort, disarankan untuk naik gajah supaya lebih seru dan menantang. Ini kali pertamanya saya naik elephant ride, kesan pertama? TEGANG DAN MENYERAMKAN.



Ketiak dan telapak tangan saya basah sangking ketakutannya, pasalnya medan untuk mencapai Amber Fort itu berupa tanjakan yang bisa dibilang cukup curam.

Gajah yang saya tumpangi juga ngebut, membalap gajah-gajah lainnya. Sang penjaga gajah juga terus-terusan meminta uang kepada saya dan Gani, untungnya saya sudah diwanti-wanti untuk tidak memberikan tip.

Dibalik ekspresi ceria sebetulnya kami berdua ketakutan hahaha.

Rasa takut dan tegang setelah naik elephant ride memudar begitu melihat Amber Fort dari sisi dalam, megah dan cantik sekali. Setiap spot sangat fotogenik, tapi saya sampai lelah foto-foto melulu.. karena sangking cantiknya lebih baik dinikmati saja selagi disana. Kalau diperhatikan memang istana-istana jaman dahulu megah sekali ya, kita bisa lihat betapa hebat dan juga kayanya kerajaan jaman dulu.




Setelah selesai mengeksplor Amber Fort, kami melewati jalan berupa tangga turun menuju Jagat Shiromani Temple. Sepanjang menuruni tangga, sandal saya rasanya sudah menempel dengan kotoran kambing dan juga sapi. Iya, sejorok, sekotor dan sebau itu. Duh.




Untuk menuju ke titik berikutnya, saya dan rombongan menaiki mobil jeep dan harus melewati jalan-jalan kecil dekat perumahan. Di Jaipur, kalau di gang kecil tandingannya bukan ojek online atau pedagang kaki lima saja, ada sapi-sapi berkeliaran dan juga hewan-hewan ternaik lainnya. Bahkan ada gajah lewat.

Aroma tak sedap tercium sepanjang perjalanan, saya menggelengkan kepala. Ya ini lah India, selamat datang!

***

Panna Meena Ka Kunh terkenal dengan tangga-tangganya yang disusun secara simetris, tapi yang saya datangi hanya versi kecil dari Chand Baori yang ada di film The Fall (sudah pernah nonton belum? The Fall adalah salah satu film terindah yang pernah saya tonton).

Konon tempat ini adalah tempat kremasi, sayangnya tidak ada informasi lengkap mengenai tempat ini.




Oh ya, karena pernah terjadi kecelakaan dimana ada turis yang terjatuh karena menaiki tangga-tangga ini makanya sekarang Panna Meena Ka Kunh dijaga ketat oleh sekuriti. Kalau mau iseng foto ala-ala duduk di pinggiran saja, sekuriti meniup pluit dengan kencang – yang artinya tanda peringatan. Tak segan-segan mereka mengusir kita dari tempat kita berfoto.

Setelah makan siang di Baradari Café yang letaknya persis disamping City Palace, saya terkagum-kagum karena banyak sekali spot berupa pintu dan gerbang yang sangat fotogenik di Jaipur. Memang Jaipur ini cocok sekali untuk para aesthetic seeker, traveler maupun peminat sejarah. Semuanya cantik! Saya merasa berada dalam film Wes Anderson begitu melihat betapa cantiknya bangunan-bangunan bersejarah di Jaipur.



Dari City Palace, saya berjalan kaki cukup jauh menuju Hawa Mahal yaitu salah satu landmark yang paling menarik di Jaipur. Konstruksinya mengadaptasi simbol mahkota Dewa Krishna, arsitekturnya memang luar biasa. Ada sekitar 900 lebih jendela kecil yang didesain dengan ventilasi agar tetap sejuk saat musim panas.

Mirisnya, istana secantik ini adalah ‘penjara’ bagi para wanita.

Jaman dulu sang raja mengurung selir-selirnya di istana, nah jendela-jendelanya itu didesain agar selir bisa mengintip keadaan kota, tapi mereka nggak boleh sekalipun untuk memperlihatkan diri apalagi keluar istana. Kenapa sih kok selir-selirnya dikurung? Katanya sih kalau wanita-wanita tersebut memperlihatkan dirinya pada orang asing, martabatnya jadi turun.




Tak jauh dari City Palace, terdapat sebuah situs UNESCO World Heritage bernama Jantar Mantar Observatory. Tempat ini merupakan tempat observasi untuk astronomi yang dibangun oleh Maharaja Sawai Jai Singh II. Disini adalah tempat untuk mengukur, menganalisa dan observasi bintang, orbit planet hingga mengukur waktu. Gila sih, orang jaman dulu ternyata secanggih itu ya ternyata.

Buat yang suka banget sama zodiak dan astrologi, wajib untuk datang ke Jantar Mantar ya!



Destinasi terakhir sebelum menutup hari pertama saya di Jaipur adalah mengunjungi Chokhi Dhani. Chokhi Dhani adalah pusat budaya dan juga hiburan di Jaipur, dimana turis maupun orang-orang lokal bisa menikmati berbagai macam hiburan juga mencicipi hidangan khas India.

Menurut saya Chokhi Dhani itu seperti Taman Mini Indonesia Indah versi lebih kecilnya, karena ada beberapa contoh rumah-rumah adat di India hingga sejarahnya.

Salah satu momen yang menyenangkan adalah ketika masing-masing peserta diajak untuk menari India, yang ternyata koreografinya susah juga ya hahaha!



Malam pertama walaupun saya capek, tapi menyenangkan sekali bisa mengeksplor Jaipur bersama AirAsia. Sebelum tidur, saya hanya berdoa mudah-mudahan saya nggak diare atau terkena infeksi salurah kemih selama di Jaipur :)

 photo 2016_new-sign_zpsmxppxjue.jpg

8 comments :

  1. Malo, suka banget sama pilihan outfit-nya. Menyatur bener sama tujuan wisatanya. Love it!

    ReplyDelete
  2. Foto-foto bangunannya kayak lukisan, artsy banget <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang semua sudut sangat fotogenikkkk, jadi keliatannya artsy semua :D

      Delete
  3. Begitu baca ceritanya, lihat fotonya, aku merasa harus memasukkan Jaipur sebagai dream place-ku. Bangunannya, sejarahnya, paling yg nyebelin itu part pedagang agresif. Tapi semua spot yang Malo tampilkan di sini benar-benar bikin aku sepenasaran itu sama Jaipur

    ReplyDelete
  4. Setelah baca cerita dan lihat foto-foto Malo yang selalu keren, jadi makin pengen ke Jaipur!

    ReplyDelete