Thursday, February 9, 2017

WEEKLY JOURNAL #25

Sejujurnya saya prihatin dengan kondisi lingkungan saya akhir-akhir ini. Dalam debat Pilkada yang saya tonton beberapa waktu lalu, salah satu calon wakil gubernur terlihat lelah dan lesu dalam debat - walau itu hanya terlihat beberapa sekian menit di mata saya. Beliau mengutarakan bahwa proses kampanye dari tahun lalu hingga sekarang, banyak pro kontranya juga di dalam keluarga dan lingkungan beliau.

Kasarnya gini: yang teman bisa jadi musuhan, sesama anggota keluarga pun bisa jadi sebel-sebelan. Jangankan sebel-sebelan. Bisa sampai nggak mau saling bicara cuma gara-gara beda pendapat soal pilihannya masing-masing.

Memang sih, saya akui ini terjadi juga di lingkungan saya. Banyak yang saling unfollow/unfriend di media sosial, keluarga jadi berantem lah, jadi keluar dari group chat keluarga, saling menjatuhkan, saling merasa benar. Yang lebih sedih lagi kalau sudah bawa masalah SARA. Saya sendiri sudah nggak punya akun di Path atau pun rajin buka Facebook. Tapi mendengar cerita dari teman-teman dekat saya, kondisinya makin kurang nyaman jelang Pilkada seperti minggu-minggu ini.

Para netizen pun saling berdebat satu sama lain, tak jarang yang terbawa emosi ketika mengutarakan pendapatnya.

Setiap ada teman yang membahas ini, saya pun ikutan was-was, merasa tak nyaman, terkadang terusik juga sih dengan beberapa komentar yang menurut saya kurang nyaman di baca di depan publik seperti media sosial.

Saya rindu suasana yang tenang, saling dukung bukan panas-panasan seperti ini. Memang terkadang terlihat seru, tapi saya melihatnya sih.. Nggak usah gitu-gitu banget. Mari menghargai satu sama lain. Let's agree to disagree. Yuk, berpelukan! :)

 photo 2016_new-sign_zpsmxppxjue.jpg

14 comments:

  1. Iyaa duh sampe2 unfriend socmed segala... Berbeda dan damai itu jauh lebih indah...

    apalagi ngumpul pake masakan Indonesia kaya mie aceh kan sedappp :D

    ReplyDelete
  2. Malo, aku tuh paling ngga nyaman kalo chit-chat dengan driver taksi, selalu ditanya siapa yang akan dipilih pas Pilkada nanti. Aku selalu jawab "belum menentukan pilihan, semuanya bagus," karena ga nyaman kalo nanti ujung-ujungnya ngajak debat kusir. Itu kan privasi juga ya. Kalau di socmed, ada yang posting bernada mengejek atau nyinyirin calon yang aku jagokan, aku unfollow aja, hehehe.

    ReplyDelete
  3. aku juga g nyaman,,,milih diam atau kabur

    ReplyDelete
  4. Menurut saya, mungkin netizen seringkali berpendapat namun dengan cara yang tidak tepat/tidak asertif seperti bernada marah yanh bisa menyebabkan pihak lain tersinggung dan jadi terpecah belah, Kak

    ReplyDelete
  5. Sepakat sama Kak Alo. Beda pilihan bukan berarti harus musuhan. Toh gak ada untungnya juga berdebat, sampe saling benci begitu. Lebih enak damai-damai aja. Tenaaang. Adeeeem.

    ReplyDelete
  6. Jakarta lagi rame buat pemilihan gubernur, tasikmalaya juga lagi rame buat pemilihan walikota baru tapi bagusnya nggak serame debat pemilihan gubernur, bersyukur adem-ayem.

    ReplyDelete
  7. iyaa... beneran deh apalagi klo uda masuk ranah yg sensitif seperti agama, jadi bikin ga nyaman dan rasanya privasi gw uda diganggu sekali. Sebenernya kan cukup kita pelajari sendiri dan tentukan sendiri, ga perlu saling memaksakan pendapat yang ujung2nya malah jadi bikin berantem.

    ReplyDelete
  8. hmm.. bener banget ini.. saya sampe berpikir "kemana orang Indonesia yang katanya ramah, saling "tepo sliro", saling menghargai dan menjaga perasaan orang". Dengan alasan "kebebasan berpendapat" jadi saling menyakiti teman, even keluarga. sedih sekali. :)

    ReplyDelete
  9. Setiap orang yang berfikir 'saya bebas berpendapat', kadang tidak tahu cara berpendapat yang baik dan sopan. Masing-masing orang merasa pendapatnya benar, hingga kadang melupakan etika yang lain.
    Miris rasanya kalo lihat orang yang 'mencari massa' yang berfikiran sama untuk menjatuhkan orang lain.
    Saya bukan warga Jakarta, tapi rasanya risih juga kalau di jalan ketemu orang yang lagi debat tentang para calon gubernur Jakarta, padahal yang debat itu juga gak bisa ikut pilkada. Haha.

    Btw, salam kenal, KaAlo. Baru nemu blog KaAlo dan langsung menjelajah. Padahal udah ngefollow IGnya sejak lama. Postingannya sangat menginspirasi :)
    Salam untuk Aura Suri ^^

    ReplyDelete
  10. iya gerah banget rasanya,, pengen cepet-cepet kelar pilkada trus udah deh tenang dan di kedepannya nanti semoga gak keulang lagi kayak gini.

    ReplyDelete
  11. sepertinya terlalu berlebihan ya kalau beda pendapat sampai saling bermusuhan karena ketika masa kampanye selesai lalu sudah terpilih, hidup akan kembali normal tetap kerja, tetap sekolah dll. Intinya hidup semua orang akan berjalan biasa-biasa aja termasuk cawagub yang ga kepilih. Saya sih ga mau terbawa suasana kampanye yang memanas di lingkungan sekitar, semua program yang disampaikan cawagub diterima dengan baik terus tinggal menentukan pilihan deh tanggal 15 Feb, jangan GOLPUT hihii..Ya buat temen2 yang terlalu pakai hati di masa kampanye ini semoga diberikan ke ikhlasan kalau pilihannya ga menang, dan yang pilihannya menang juga ga perlu berlebihan euphorianya karena tugas kita itu memantau program kerjanya 5 tahun kedepan sesuai ga sama janji2nya. Untuk sekarang mari kita berpelukan seperti kata Malo :)

    ReplyDelete
  12. Betul mba alo, seharusnya bisa menghargai tanpa melukai sih :)

    ReplyDelete
  13. Agree to disagree!! ini langka banget sekarang

    ReplyDelete
  14. Setuju :(
    Saya pernah mohon-mohon ke Instagram supaya bisa dibuatin fitur untuk blok akun yang nggak akan bisa diliat lewat mana pun, termasuk di explore.
    Saya pengennya hidup tenang gitu, hahahah.. Nggak mau liat yang berantem berantem walau cuma di socmed.

    ReplyDelete