Monday, September 19, 2016

WEEKLY JOURNAL #17 – BAD DAYS

Jawaban soal hari-hari buruk yang saya alami minggu ini, terjawab sudah! Lega rasanya ketika mengetahui hari-hari tersebut sudah berakhir, energi positif dan semangat pun datang kembali. Buat yang penasaran apa yang terjadi dengan saya, silahkan baca lebih lanjut.

Bagian I – Drama Pertama

Payudara bengkak? Saya kira hanya terjadi ketika seorang ibu memiliki bayi di bawah 6 bulan, bukan bayi berusia 15 bulan. Sebelumnya saya pernah mengalami payudara bengkak hingga demam selama 2 malam. Alasannya karena produksi ASI yang banyak banget, tapi saya nggak sempat mompa. Akhirnya payudara terasa bengkak seperti ada gumpalan di dalamnya. Minggu ini saya mengalaminya lagi, sama parahnya seperti Aura saat berusia 1 bulan – minus demam.

Sore itu, kedua adik saya meluangkan waktu ke Casa Maitreya dan menghabiskan sore di rumah kami. Saya mulai terasa terganggu dengan kondisi payudara kanan saya dan akhirnya meminta adik saya yang sedang kuliah Kedokteran untuk memeriksanya.

“Iya ini mastitis, Kak. Ya harus dipompa, dikeluarin.”

Payudara saya terlihat merah keunguan saat itu, rasanya ngilu sekali. Saya dalam hati ketawa miris, mompa? Breastpump saya masih ketinggalan di rumah mertua saya. Sempat labil mau-mompa-atau-gak, akhirnya saya pesan ojek online untuk buru-buru mengambil breastpump ke rumah mertua. Harusnya sih, bisa nitip mertua saya cariin breastpump-nya. Tapi seingat saya, manual breastpump saya merek Pigeon itu sudah berada dalam tumpukan boks dan sulit sekali untuk mencarinya.

Nggak lama ojek datang, saya langsung memakai jaket parka saya dan pamit dengan orang rumah. Selama perjalanan, supir ojek selalu ‘menghajar’ polisi tidur. Saya nggak nyaman, apalagi payudara kanan saya nyut-nyutan nggak karuan. Sampai akhirnya setelah belasan polisi tidur di ‘hajar’, kami hampir oleng karena sang supir harus ngerem mendadak.

Saya teriak, “Pak! Hati-hati dong! Ini bakal banyak polisi tidur di depan.”

Si supir enteng aja bilang, nggak keliatan polisi tidurnya. Akhirnya supir ojek mengemudi lebih pelan, tetap saja payudara saya nyut-nyutan. Masa saya harus bilang, “Pak! Pelan-pelan kali.. Tete saya lagi bengkak.” Doh!

Sampai di rumah mertua saya, saya langsung lari ke atas untuk mencari breastpump. Ternyata breastpump-nya ada di pantry, mertua saya bilang, “Tau gitu Andra titip Mamah aja. Kasian banget naik ojek malam-malam.”

Saya langsung melipir ke kamar, berusaha memompa dan memijat-mijat payudara yang bengkak. Terasa sekali ada benjolan di dalamnya, sesekali saya berhenti dan memijatnya dengan minyak zaitun. Sakit banget ya Allah! Tanpa sadar mata saya berair karena menahan sakit. Karena pakai breastpump pun nggak terlalu ketara, akhirnya mau nggak mau saya memijat dan mengeluarkan ASI dengan tangan. Habis itu jauuuuuh lebih enakan.

Karena sudah malam, saya memesan Uber untuk kendaraan pulang. Legaan banget sih memang habis dipompa, tapi di rumah harus dipijat dan kompres lagi. Perasaan was-was karena takut demam malah meninggalkan rasa lelah dalam tubuh, akhirnya saya memilih beristirahat seharian di rumah esok hari.



Bagian II – Aura Kenapa?

Hari Kamis, saya menitip Aura Suri di rumah ibu saya karena saya ada meeting di Plaza Senayan. Saya ingin bersantai-santai saat meeting, ngobrol, makan tanpa diburu-buru. Rencana saya kurang berhasil karena ibu saya menelfon beberapa kali dan bilang Aura rewel sekali. Nangis terus dan nggak mau makan. Saat itu pukul 2 siang, akhirnya saya memesan ojek online agar pulangnya nggak kena macet. Mastitis saya menghilang, berkat saya pijat dan kompres setiap 1-2 jam sekali.

Sampai di rumah ibu saya, Aura memang terlihat rewel. Ketika ditawari menyusu, ia menyusu sedikit-sedikit seperti nggak fokus. Semakin sore, semakin rewel. Setelah maghrib ia terus-terusan menangis dan menjerit, ditawarin apa pun nggak mau. Ternyata Aura belum makan dari siang, tapi saya tetap kekeuh nawarin makanan.

Akhirnya karena tak kunjung berhenti menangis, ibu saya menawarkan saya untuk mengantar pulang. Tadinya kasihan kalau Mama nyetirin saya pulang walaupun rumah kami dekat sekali, tapi karena saya super capek dan bingung Aura kenapa, saya mengiyakan.

Sampai di mobil, Aura lebih diam tapi tetap nggak mau menyusu. Akhirnya ia menyederkan kepalanya di dekapan saya, tak lama kemudian ia terlelap. Nggak sampai 1 jam, Aura terbangun dan rewelnya berlanjut. Ia menangis-nangis, tidak mau menyusu. Saya pasangkan lagu-lagu Mother Goose Club favoritnya, baru ia agak tenang dan mulai ceria. Nggak lama kemudian ia menangis-nangis lagi, kali ini ditambah meronta.

Hal yang pertama saya lakukan menelfon suami supaya pulang lebih cepat, lalu mendoakan Aura supaya ia lebih tenang. Didoain, ditimang-timang, digendong diapain aja nggak mau. Diajak jalan marah, digendong meronta-ronta. Hayo loh?

Saya tawari terus untuk menyusu tapi Aura cuma ngeliatin aja. Sesekali ia menempelkan bibirnya ke puting, tapi nggak menyusu. Wah ada yang salah nih dari anak ini. Saya coba hibur terus sampai akhirnya suami saya datang.

Saya sudah terlalu lelah untuk menemani Aura Suri, akhirnya suami yang gantian jagain Aura. Saya sempat ketiduran sangking capeknya, sedangkan suami nemenin Aura main dan nonton televisi di ruang bawah. Hingga jam 22.30 malam, Aura nggak mau menyusu dan tidak mau tidur. Saya pikir, jam segini sudah terlalu larut untuk Aura karena bisa-bisanya ia masih melek dan rewel. Sempat stress juga karena Aura tetap nggak mau menyusu, sampai mikir.. Apa Aura menyapih dengan sendirinya. Sesekali ia tetap menempelkan mulutnya ke puting, tapi lagi-lagi ia tidak membuka mulutnya.

Gong-nya adalah.. Di saat saya ingin menyuapi kurma ke dalam mulutnya. Suapan pertama berhasil, suapan kedua di akhiri dengan jeritan kencang dan tangisan yang luar biasa. Ia meronta-ronta kesakitan. Di situ saya baru sadar bahwa dua gigi gerahamnya sedang tumbuh dan saya ingat kata beberapa orang yang bilang, kalau gigi geraham tumbuh itu sakitnya luar biasa. Anehnya, sewaktu dua geraham bawah Aura tumbuh, ia nggak serewel ini. Hanya susah makan aja.

Sampai jam 23.30 malam, tangisannya makin histeris, tubuhnya meronta-ronta, digendong salah, direbahin guling-guling. Nangissssss jejeritan nggak karuan, bukan seperti Aura yang biasanya. Saya dan suami mulai kebingungan, clueless. Nggak tau harus berbuat apa, bingung harus ngapain.

Kami khawatir sekali karena Aura nggak mau makan dan menyusu sama sekali. Akhirnya saya memompa ASI, ditaruh di gelas dan menawarinya. Ini momen bersejarah banget karena sejak usia 4-5 bulan, Aura selalu menolak ASI perah. Ia menyeruput ASI perah di gelas sedikit demi sedikit, terlihat ia sangat kehausan – tapi tidak bisa menyusu. Lumayan sih, dapat sedikit. Tapi habis itu tangisannya berlanjut.

Saya dan suami mulai frustasi, lelah dan kebingungan harus melakukan apa lagi. Suami langsung berpikir, “Kita coba bawa ke UGD aja yuk.”

Tanpa pikir panjang saya langsung membawa perlengkapan, kali aja Aura harus dirawat inap. Saya lebih baik mempersiapkan the worst scenario dulu, supaya sampai UGD nggak drop-drop amat hahaha. Riweh dan terburu-buru, kami langsung ke mobil untuk menuju UGD di RS terdekat. Lagi-lagi, Aura lebih tenang begitu kami bawa keluar kamar. Wajahnya terlihat lelah tapi juga bingung karena ia tak bisa menyampaikan keluhannya. Jarang-jarang nih, Aura tertidur tanpa menyusu. Akhirnya ia pulas tidur selama perjalanan kami dari rumah ke RS.

Di UGD, dokter langsung memeriksa dan menanyakan beberapa hal yang terjadi hari ini. Aura pulas sekali tidurnya, walaupun malam itu di UGD ada suara tangisan anak kecil yang sedang di infus dekat bilik kami.

Dokter menyarankan untuk memberikan obat paracetamol dan kami boleh pulang, “Masalahnya anak ibu nggak demam.”

Kami akhirnya pulang dengan membawa satu botol obat rasa sirup jeruk yang mengandung paracetamol. Obatnya hanya kami kasih sekali ke Aura, sisanya dipajang di meja makan hahaha. Intinya ya saya simpan aja obatnya, jaga-jaga kalau ia jejeritan lagi. Suster UGD menyarankan untuk menyuapi Aura sirup ini saat ia bangun tengah malam. Tapi kenyataannya, saya nggak kasih malam itu juga.

Kami sampai di rumah sekitar jam 01.15 pagi. Walaupun sudah larut sekali, saya memilih untuk mandi air hangat supaya lebih tenang dan rileks. Air muka saya dan suami sudah lelah sekali, kami diam saja setelah pulang dari RS. Sekitar pukul 2 pagi, Aura terbangun dan saya masih terjaga karena belum bisa tidur. Karena mungkin ia sudah sempat tidur dan sakit giginya sudah mulai berkurang, ia mau menyusu. Saya berdoa terus supaya Aura mau menyusu, paling tidak dengan menyusu ia akan sedikit nyaman. Benar saja, Aura mau menyusu!

Tidak seperti biasanya, Aura menyusu dengan pelan dan lembut sekali. Seakan-akan berhati-hati karena gusinya yang ngilu. 10 menit menyusu, ia kembali terlelap dan saya masih melek seada-adanya. Perasaan kurang enak masih menghantui sampai akhirnya saya tertidur. Mulai dari mikirin betapa capeknya pikiran dan badan saya, mikirin Aura, mikirin film yang saya tonton, mikirin besok gimana..

Bagian III – Ada Lagi, Ada Lagi!

Seharian perasaan saya tidak enak dan tidak nyaman. Saya mulai lesu dan kehilangan semangat. Aura sudah kembali normal, mulai tersenyum dan terlihat asik main sendiri – tapi selera makannya belum kembali normal. Rasa khawatir sedikit menghilang karena ia mau menyusu tanpa penolakan.

Feeling saya seharian kurang enak. Saya mencoba menarik dan menghela nafas berkali-kali, tidak juga berhasil. Saya mengalihkan perhatian dengan membaca buku, tidak berhasil juga. Berdoa, mandi, diam, mencoba tidur, mencoba aktifitas, tetap lesu aja gitu. Akhirnya saya memilih diam, sambil meneliti perasaan apa sebenarnya yang saya rasakan.

Hati dan pikiran saya seperti dihantui rasa khawatir, cemas, ketakutan yang berlebihan – tapi terhadap apa? Saya pun nggak tau.

Siang hari, suami saya mengingatkan bahwa nanti malam kami harus pergi ke pesta pernikahan temannya di Hotel Dharmawangsa pukul 20.30. Sebenarnya sih, cukup malam untuk ukuran saya untuk keluar dari rumah jam segitu apalagi harus membawa Aura Suri. Sekitar pukul 4 sore, suami meminta izin untuk ke rumah orang tuanya karena keperluan mengambil sepatu. Ia sudah pesan Uber Motor untuk mengantar jemput.

Saat suami pergi, saya sedang menemani Aura main di living room. Sambil bersantai-santai sambil menelaah perasaan saya, tiba-tiba suami mengirim pesan via Whatsapp seakan-akan menjawab perasaan nggak enak saya selama 3 hari terakhir.

“Sayang, aku jatoh dari motor ditabrak sama mobil dari belakang.”

ASTAGFIRULLAH! Dengkul saya lemas, jantung bergedup kencang, air mata rasanya ingin keluar tapi nggak bisa. Saya langsung menelfon suami.

“Kamu dimana?”
“Ini aku udah dekat rumah.”
“Kamu kena apanya?”
“Nggak apa-apa, aku kena lututnya sama bahu tapi nggak apa-apa.”

Langsung deh saya bergegas membuka pintu rumah, menunggu suami saya pulang. Seikitar 20 menit saya menunggu di depan rumah, berharap-harap cemas, suami tak kunjung datang. Satu jam berlalu, ternyata yang suami saya maksud ‘rumah’ itu adalah rumah kedua orangtuanya – bukan rumah kami. Haduh, udah bikin saya khawatir plus gemes juga!

Begitu sampai rumah, saya meminta suami untuk menunjukkan semua lukanya dan saya mulai mengompres dengan handuk hangat.

“Pantes deh, feeling aku nggak enaaaaak banget seharian.”

Untungnya nggak ada luka yang serius, cuma dengkul kanan suami lumayan bengkak. Untuk mengurangi bengkaknya, saya memberikan Young Living Oil Lavender + Peppermint + Lemon dicampur dengan virgin coconut oil. Kronologisnya, motor yang ditumpangi Abenk ternyata lagi jalan pelan di daerah Terogong. Ntah gimana, tiba-tiba ada mobil di belakang nyundul motor lumayan kencang hingga Abenk jatuh terpental guling-guling di aspal.

Hebatnya Abenk nih, pas jatuh terpental ia mencoba tidak menahan badannya supaya tidak terlalu sakit. Begitu terjatuh, ia bangun.. Menghela nafas dalam-dalam memeriksa bagian tubuhnya yang luka. Karena Abenk nggak merasa kenapa-kenapa, ia nggak minta ganti rugi sama orang yang nabrak. Lebih sebalnya lagi, yang nabrak itu supir Uber yang kelihatannya lagi teler dan ngantuk. Uber nabrak Uber. Zzz.

Walaupun kondisi lutut dan bahu yang bengkak, sedikit lecet di kaki dan tangan, Abenk masih merasa oke banget jadi kami tetap datang ke pesta pernikahan teman kami. Di sana kami bertemu dengan banyak orang dan mengakhiri malam kami dengan menyenangkan. Walaupun Abenk lumayan kasian sih, tapi ia tetap maksa nyetir sendiri. Yang penting semangat aja, nggak usah dibawa lesu atau bete.

Setelah hari-hari yang melelahkan, akhirnya saya tutup dengan.. Pesan mie aceh Bang Jaly!

Alhamdulillah keesokan harinya, bengkak di lutut Abenk mengempes dan perlahan-lahan membaik. Jadi inti cerita minggu ini: Andra kena mastitis, Aura masuk UGD walaupun cuma sekejap dan Abenk kecelakaan kecil. Sekarang kalau ingat-ingat malah pengen ketawa hehe.

Memang ada ya, masa-masa dimana adaaaa aja cobaan yang datang untuk menguji kesabaran. Saya nggak akan bosan untuk bilang bahwa hal-hal tersebut bisa jadi pelajaran di hari ini dan juga hari esok, agar kita jadi lebih baik dan bersyukur. Seorang teman saya mengingatkan, mungkin saya kurang sedekah. Walaupun saya nggak merasa 'kurang', ada baiknya saya bersedekah lebih banyak lagi :)

Selesai sudah dramanya, akhir pekan ini saya dan keluarga bisa berkumpul kembali dalam keadaan sehat dan bahagia. Thank you for reading my stories, it means a lot to me.

Watch on #JurnalAbenkAlter: Aura Suri Masuk UGD

 photo 2016_new-sign_zpsmxppxjue.jpg

23 comments:

  1. Minggu yang melelahkan sepertinya mba andra... semangat terus...

    ReplyDelete
  2. Asik banget bacanya, malo. Serasa baca cerpen ada menegangkannya ada harunya. Tapi bener quotes di atas, hal-hal buruk ada supaya kita bisa lebih menghargai hal-hal yang baik ^^

    Sehat-sehat selalu aura suri ^^

    ReplyDelete
  3. haloo..
    Alhamdulillah semua sudah terlewati yaa.. Mudah-mudahan menjadikan kita makin sabar dan kuat :*

    Mau share pengalaman masalah pompa-memompa nih. Saya emang rutin memompa saat pagi hari karena saya bekerja. Pas usia anak saya 16 bulan, samaa bangeeet ama yang dirasain mba. Jadi payudara saya bengkak, dinenen in ke anak saya pas malem, sakiiitt banget (kerasa tajem kayak kena pisau/silet gt lho) dan dipompa cuma keluar 1-2 tetes.

    Saya juga bingung ini kenapa yaa, akhirnya saya tingkatin intensitas mompa pas dikantor. Dan tetep disusuin langsung ke anak sesering mungkin kalo malem, lama lama ilang sendiri sakit2 di payudara. ALhamdulillaah..

    Setelah saya pikir-pikir kayaknya penyebabnya karena emang saya mulai mengurangi mompa karena anak saya uda ga mau minum ASIP di siang hari, sedangkan produksi ASI saya alhamdulillah masih banyak.

    Jadi, sesekali dipompa pas anak mulai berkurang minumnya rasanya perlu dilakuin kali yaa..


    Semangat ya mamalo! sunjauh untuk Aura :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Utari, makasih ya pengingatnya. Sehat selalu! :)

      Delete
  4. Iya bener juga Mbak, kadang nga hanya saat sudah menjadi istri, saat dulu masih single pernah ada saja merasakan 'bad feeling' yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
    Boro-boro tahu penyebabnya apaan, wong menerka-nerka saja kira-kira ada apa dengan kita, malah makin jadi bingung sendiri dan khawatirnya jadi makin bertambah.

    Kalo sudah begitu, yg bisa dilakukan cuman berdoa, berdoa dan pasrah. Eh teryata iya ya...manusia itu diberikan 'insting tajam' oleh Allah untuk bisa merasakan apa yang akan terjadi dalam waktu dekat. walahu'alam.

    Keep smile ya Mbak Andra. Emak-emak muda kudu tetep cerah-ceria n strong walau badai datang sekalipun ^_^

    Cheers,
    www.landelane.com

    ReplyDelete
  5. Kadang cobaan itu ada karena Tuhan ingin mendengar jeritan tangisan hati kita, Kak. Hehehe

    ReplyDelete
  6. Baca cerita ini keinget cerita "bad days" sendiri. Emang kadang bad days itu perlu ya kita lewatin, walaupun nggak enak banget ngejalaninnya, tapi setelah lewat ya bisa di-share kayak gini dan bisa bikin ketawa hahaha.

    Tetap semangat ya, Kak Alo! Tetap sehat buat sekeluarga dan salam buat Aura, get well soon ya!

    ReplyDelete
  7. Thank you kak ceritanya. Menguatkan tapi juga menginspirasi buat selalu bersyukur :)

    ReplyDelete
  8. good reminder for me too, kak Andra..
    sedekah emang kata banyak orang itu solusi dari "pemecah" segalanya...

    ReplyDelete
  9. Hahaha kak Andra, I feel you yang soal kak Abenk bilang rumah itu ternyata bukan Casa tapi rumah orang tuanya hahaha. Gemes pasti pengen nguyel-nguyel :D

    ReplyDelete
  10. and it means a lot to me too andra. Thanks for share

    ReplyDelete
  11. it means a lot to me too Andra Thanks for share.

    ReplyDelete
  12. weekend yang seru dan banyak petualangan kak :)

    ReplyDelete
  13. Wah....bad days nya bisa beruntun gitu ya mbak andra. tetap positif dan tetap semangat. semoga sehat selalu buat mbak andra dan keluarga.

    ReplyDelete
  14. Wah ceritanya seru banget, menegangkan Kak! Tapi namanya hidup ya, ada ups and downs.. banyak-banyak ngomong sama diri sendiri deh, "this too shall pass" Hehehe.

    Theprimadita

    ReplyDelete
  15. Hai ndra, udah lama juga ngga ninggalin komen disini. Ngeliat postingan di IG slalu keliatan cantik, bahagia, ternyata banyak drama yang kamu alamin beberapa hari terakhir. Untungnya udah lewat yaa cobaan beruntunnya, aku sampai sedih sendiri ngebayangin aura nangis ngga berenti berenti karena gigi tumbuh, apalagi graham belakang, kitapun orang dewasa yg tumbuh gigi graham bungsu sakitnya bukan main, apalagi anak kecil.
    Btw itu mie acehnya menggoda banget ndra, mendadak pengen >.<

    ReplyDelete
  16. Halo malo sebelumnya selalu jadi silent reader tapi kali ini mau komentar hehe selalu suka dengan tulisan malo. Tulisanya sederhana, jujur tapi selalu berbekas di hati tiap malo posting. Setiap hari selalu ngecek update-an malo, dulu paling suka tulisan tentang review kosmetik tp belakangan selalu nunggu cerita "weekly journal' malo. Sehat selalu malo dan keluarga 💖

    ReplyDelete
  17. Aku bacanya sambil ngebayangin di posisi ka Andra saat itu. sambil ngerasa jengkel jugak sama pengendara mobil yg nabrak heuuh . tapi syukur yah ka abenk gak kenapa kenapa . sehat sehat terus buat Kak Alo Kak Abenk dan Aura yah :)

    ReplyDelete
  18. sedekah itu baik dan tidak terbantahkan lagi. namun pertanyaan saya, jika kita sedekah sebanyak2nya lantas hal2 buruk tidak akan terjadi dalam hidup kita? imho, bad things happen to good and bad people. yang membedakannya ialah, orang baik selalu bisa melihat hal positif di setiap kejadian buruk yang dia alami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Mbak Henny, saya setuju kok sama mbak. Kejadian buruk memang tidak bisa dihindari, tapi lagi-lagi saya diingatkan untuk berbuat lebih baik lagi dan menjadi lebih baik. Thanks for the reminder ya! :)

      Delete
  19. Mbak andraa aku juga pernah bgt ngalamin seminggu yg kaya gini, beda runtutan dan jalan ceritanya aja.. Suami kecelakaan, anak diopname trus aku yg teparrr hohoho...kalo dikilas balik jadi penuh syukur ya krn bad things passed...

    ReplyDelete