Wednesday, March 16, 2016

MY FINANCIAL JOURNEY #2: FINANCIAL FREEDOM

Memang setiap perjalanan ada suka-dukanya maupun kisah-kisah menarik yang bisa dibagikan untuk jadi inspirasi bagi orang lain, termasuk kisah keluarga kecil saya yang menyewa jasa Financial Manager demi menuju kebebasan finansial. Supaya nggak ketinggalan, monggo dibaca dulu bagian pertama.

Selama 6 bulan terakhir ini, banyak suka-duka yang saya dan suami lewati demi mencapai kebebasan finansial. Kebebasan finansial tuh apa sih? 

Kebebasan dimana seseorang nggak takut lagi dengan krisis finansial yang bisa membuatnya miskin. Gampangnya, nggak mikirin duit melulu tiap saat. Kalau setiap malam kamu mikirin kapan duit dari proyek A dan B turun atau kalau hamil terus mau resign dari kantor dan takut nggak punya uang, artinya (bisa dibilang) kamu belum bebas secara finansial.

Awalnya suami yang menyarankan agar keluarga kami menyewa jasa Financial Manager, alasannya karena saya dan suami benci banget sama urusan uang yang kadang belibet banget bikin pusing tujuh keliling sampai kadang bikin stres dan susah tidur. Plus, kami suka banget shopping dan mengoleksi sesuatu jadi kadang-kadang uang kami ‘hilang’ begitu saja di pusat perbelanjaan.

Selama 6 bulan di bawah bimbingan Financial Manager bisa dibilang hidup kami bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Setiap bulan kami hanya punya porsi secukupnya untuk hidup, hampir seluruh pendapatan kami ditabung dan dijadikan investasi. Kasarnya, kalau udah biasa makan nasi sepiring setiap hari terus dipaksa diet karbo – NAH KAYAK GITU RASANYA! Oke, saya akan sharing apa aja yang saya pelajari selama 6 bulan menyewa jasa Financial Manager.

1. ZAKAT DAN AMAL ITU NOMOR SATU!
Ini yang sering kelupaan sebelum saya menyewa jasa Financial Manager. Sekarang saya paling rajin bayar zakat dan amal setiap baru gajian. Alhamdulillah, rejeki malah datang terus!

2. KEBUTUHAN VERSUS KEINGINAN
Bagian paling sulit adalah membedakan mana yang benar-benar jadi kebutuhan, mana yang hanya ‘pengen-pengen doang’ sama yang jadi korban ‘lapar mata’. SUSAH BANGET! Faktanya adalah.. Saya dan suami hanya punya jatah operasional masing-masing sebesar IDR 1.700.000,- per bulan, termasuk pulsa telfon. Kaget nggak? Setiap saya cerita ke teman-teman saya, mukanya langsung shock hahaha. Sejujurnya jatah operasional segitu tuh cukup banget untuk hidup di Jakarta, apalagi saya dan suami kan lebih banyak kerja dari rumah.

Jatah operasional kami pakai untuk bayar taksi, bayar parkir, beli kopi atau makan saat meeting di luar rumah. Untuk jatah belanja bulanan dan shopping (skincare, baju, makeup) juga sudah ada porsinya, tapi nggak banyak. Jadi saya kalau mau beli apa-apa sekarang mikir banget, dan nggak gampang tergoda sama hal-hal yang bukan prioritas saya. Setelah 6 bulan, saya dan suami sadar bahwa kami sering jajan nggak penting seperti beli cemilan saat mau pulang dari mall, beli majalah, beli baju walaupun di rumah masih ada baju baru yang belum dipakai, beli ina itu yang akhirnya di rumah cuma tergeletak begitu saja. Jadi kalau cuma ‘pengen’ doang, kami nggak memprioritaskan hal tersebut.

Kalau lihat foto ini pasti jadi makin semangat nabung untuk masa depan Aura Suri.


3. INCOME BERTAMBAH, NGGAK BERARTI GAYA HIDUP JUGA BERTAMBAH
Masalah yang paling sering ditemui ya gini deh, pendapatan bertambah artinya gaya hidup juga berubah atau bertambah. Hal seperti ini sudah diutarakan dalam teori Parkinson, “Pengeluaran meningkat sesuai dengan penghasilan.” Artinya sejalan dengan meningkatnya penghasilan, maka pengeluaran Anda pun akan meningkat. Ini akan berlangsung, terlepas dari berapa besarnya pun penghasilan Anda. Dengan berjalannya waktu, Anda akan membangun kebiasaan untuk membelanjakan berapapun penghasilan Anda.” (Sumber: 101 Bisnis Online Paling Laris)

Sekarang saya dan suami lebih menyesuaikan dengan kebutuhan kami dibanding keinginan kami. Kami punya rekening Liburan khusus, jadi kalau saat berlibur keluar kota ya kami bisa sedikit lebih ‘lepas’ tapi tetap nggak menghambur-hamburkan uang. Tujuannya tetap sama, yaitu disiplin demi mencapai kebebasan finansial.

4. JADIKAN SEBAGAI KEBIASAAN ATAU HABIT
Sama seperti kebiasaan makan sehat, kebiasaan merawat kulit #teteup, hingga kebiasaan bangun pagi – kalau sudah terbiasa, semuanya pasti akan jauh lebih mudah. Disiplin menabung dan disiplin dengan prioritas membuat kita lama kelamaan akan terbiasa dengan itu semua. Jadi nggak usah dipikirin susahnya sekarang, lama-lama pasti terbiasa dan akhirnya jadi nyantai aja ngejalaninnya.

5. TANTANGAN SELALU ADA, TAPI KAMI JADI LEBIH KREATIF!
Dengan setiap jatah bulanan pada pos-pos pengeluaran dan tabungan yang kami miliki, kami malah merasa ditantang lebih kreatif. Contohnya, jadi masak di rumah dan mencoba resep-resep baru. Suami juga sempat mendaur ulang bahan-bahan yang tidak terpakai untuk digunakan sebagai media untuk melukis. Lagi nggak ada baju baru, tapi nggak punya budget untuk shopping? Saya dan suami memilih mencoba mix and match koleksi pakaian kami, seru banget!

***

 photo 007_FinancialTips_zpskdxojiwu.jpg

  • Disiplin dan tekad yang bulat! Karena susah banget buat irit-irit dan menjauhi godaan lifestyle apalagi buat yang tinggal di kota besar seperti di Jakarta. Apa-apa serba gampang dan serba ada, ya kan? Jadi balik lagi, harus disiplin dan punya tekad yang bulat demi mencapai kebebasan finansial.
  • Saya dan suami selalu menggaji diri kami sendiri setiap awal bulan, tepatnya tanggal 1. Semua pendapatan yang kami dapat dalam sebulan, kami kumpulkan dan pada akhir bulan baru deh dihitung sesuai dengan porsi dan jatah masing-masing. Hal kedua yang terpenting setelah membayar zakat adalah menabung untuk pos rekening Dana Darurat, Tabungan Jangka Panjang dan Jangka Pendek lalu setelahnya membayar hutang/cicilan (termasuk kartu kredit).
  • Sangat penting untuk memiliki pos Rekening Dana Darurat untuk hidup selama 12 bulan. Saya pernah bahas di sini.
  • Untuk pos rekening Hiburan bukan jadi prioritas kami. Jadi kalau kami lagi bokek, ya kami nggak bisa menyisihkan pendapatkan kami untuk pos rekening Hiburan. Artinya, kadang-kadang kami nggak bisa pergi nonton atau pergi keluar makan di restoran saat akhir pekan. Kedengarannya miris atau menakutkan? Sejujurnya, nggak segitunya kok. Kami lebih menghargai hal-hal seperti berkunjung ke rumah orang tua, masak di rumah, delivery makanan (sumpah yang punya GoJek dan supir-supir GoJek pasti masuk surga), jalan-jalan sore ke taman, mengunjungi museum dan art gallery, belanja di pasar, dan masih banyak lagi.
  • Semua yang kami butuhkan selalu masuk dalam perencanaan, lalu kami nyicil nabung dan dimasukkan ke pos Tabungan Jangka Pendek. Misalnya mau beli high chair dan car seat untuk anak, mau liburan dan check up ke Penang, semuanya masuk ke pos Tabungan Jangka Pendek. Beda sama dulu, kalau kami ada pendapatan lebih langsung dibelanjain hehehe.
  • Untuk budget beli skincare, makeup, ke salon, sudah ada jatahnya per bulan. Walaupun bukan prioritas saya, saya mau menghibur diri sendiri dong hehe. Kalau kadang-kadang mau beli yang melebihi budget, biasanya saya menabung dulu selama 1-2 bulan.
  • Belanja bulanan (kecuali bahan makanan yang fresh seperti daging dan buah) selalu dilakukan via online di awal bulan. Selain menghindari lapar mata, kami menghemat waktu belanja yang kalau dihitung-hitung juga menghemat biaya parkir dan transportasi.
  • Kami juga lebih pandai membagi waktu untuk keluar rumah. Jadi biasanya saya dan suami selalu pergi barengan, kebetulan memang kami adalah orang tua yang lebih banyak bekerja dari rumah. Dengan pinter-pinter ngatur waktu meeting di luar rumah, jatohnya lebih ngirit banget plus bisa pergi keluar rumah sekeluarga.
  • Ada saat-saatnya saya agak sedih karena jatah saya habis atau berkurang banyak dibandingan dulu. Ini yang saya bilang bagian dari 'duka', wajar aja sih soalnya dulu setiap habis gajian saya bisa langsung belanja-belanja hehehe. Biasanya kalau bad mood seperti ini menyerang, saya langsung mengalihkan pikiran ke hal lain. Setelah bad mood-nya hilang, saya malah ngerasa bahagia karena nggak tergoda dengan hal-hal yang sebetulnya nggak saya butuhkan.

***

Banyak bertanya sebenarnya jasa Financial Manager atau Financial Planner itu perlu atau nggak? Kalau itu sih, balik lagi ke kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Kalau kamu ngerasa pintar mengelola uang, go on! Tapi kalau kamu ngerasa kurang pintar dan ngerasa nggak ada waktu untuk mikirin semua kerempongan ini, cusss deh coba sewa jasa financial planner.

Berapa biaya yang dikeluarkan untuk menyewa jasa Financial Planner?
Setiap financial planner memiliki tingkat harga yang berbeda, disesuaikan dengan berapa lama jasa yang akan disewa hingga apa aja sih yang mau 'diberesin' sama si financial planner ini. Ada yang menentukan harga 5%-10% dari pendapatan costumer, ada juga yang menentukan harga 15-30juta untuk 6 bulan. Intinya sih beda orang, beda jasa, beda kasus, beda harga juga. Satu hal yang bisa saya katakan ke teman-teman dan para pembaca blog saya, jika kita disiplin dengan apa yang diterapkan oleh financial planner kita dan punya tekad yang bulat, pasti kita bisa mencapai kebebasan finansial!

Nanti kalau ada tips-tips lainnya yang saya ingat, saya akan menambahkannya lagi di artikel ini. Semoga sharing ini berguna dan tetap semangat menuju kebebasan finansial! Thanks for reading!

Read more: Time Management Tips for Work-at-Home Moms

 photo 2016_new-sign_zpsmxppxjue.jpg

59 comments:

  1. Hehehe.. pas banget perasaannya sama aku, and pas banget bacanya pas suami and baby udah tidur, beberapa hari ini susah banget tidur mikirin gimana caranya nabung yang banyak apalagi semenjak jd full time mom semenjak lahiran setelah kerja mandiri 6 tahun hehe.. rasanya nano nano manis asem asin, seneng ngurus anak tapi kalo mau belanja online shop sekarang mesti mikir dl ga kaya dl masi kerja tgl ambil key bca ga pake mikir hahaha.. serem ga si malo pake financial manager? apa mahal bgt ga bayar financial plannernya? tertarik juga nihhh :) walaupun suami masih ragu and ada bbrp yang ngmg ga kepake juga tu financial planner hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hello, murah dan mahal sih relatif ya.. Tergantung seberapa besar kita melihat jasa tersebut berguna untuk kita di masa sekarang dan masa depan. Menurutku worth it banget, kalau nggak worth it, mungkin artikel ini nggak akan pernah ada di blog aku :)

      Delete
  2. Hallo, Mbak Andra... Semoga makin banyak orang yg sadar meningkatkan saldo tabungan daripada meningkatkan gengsi ya... 😁. Saya sangat disiplin soal pake uang dari jaman SMA dulu. Dulu terima uang bulanan dari Om Saya buat bayar sekolah, transport sampe beli keperluan pribadi. Setelah kerja Alhamdulilah masih disiplin, bahkan waktu jaman masih punya gaji 1,5juta, Saya rutin nabung 10% direkening khusus tabungan. 2 tahun cair Alhamdulilah rasanya lega punya uang cadangan. Sampai terkahir gaji sudah cukup besar, Saya hanya pakai setengahnya untuk biaya hidup (bayar kost, mimik-mimik cantik, beli baju 150ribu aja, makan hari-hari), setengahnya lagi masuk rekening tabungan. Ternyata untuk wanita single di Jakarta, cukup kok hidup dgn uang 3 juta.
    Dan berkat punya uang simpanan, Alhamdulilah banget setelah resign dan beberapa bulan belum punya project besar, Saya masih bisa bayar kost dan makan.
    I use my money wisely tp masih bisa happy-happy juga. Hidup kan ga cuma hari ini, Saya juga mau beli rumah, beli mobil.
    Mungkin bisa dibilang Saya menjalankan Frugal Lifestyle, kemana2 lebih sering naik angkutan umum, beli apapun sesuai keperluan, di kost pun ga ada AC hanya kipas angin (untung daerahnya masih enak).
    Sukses dan sehat selalu untuk Andra dam keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gengsi itu memang selalu lebih tinggi dari pada pendapatan hehe :D

      Beruntung sih aku punya temen-temen yang nggak gengsian dan harus pakai barang branded. Thank you juga Mbak sharingnya!

      Delete
  3. Nice post, kak Alo. Kalo kami, lagi pengencangan ikat pinggang krn masih penyesuaian KPR. Hihi ada yang bilang, jika sudah terikat sama KPR hidup seseorang bisa berubah drastis :p

    ReplyDelete
  4. Super love with this post... It's just like Allah SWT reminds me through your hands... Beberapa hari ini galau dengan pendapatan yang bertambah tapi koq mala tabungannya berkurang... Thanks anyway...

    ReplyDelete
  5. Hahaha ini pelajaran aku waktu dulu pas ikutan pranikah, salah satunya kelola uang. Emang agak horor awalnya, tapi setelah dijalani ternyata ga begitu susah, yg penting disiplin. Bener banget memang, mau senaik berapapun pemasukan kita, pasti deh inline dengan pengeluaran karena merasa masih ada 'jeda cukup'.

    Aku juga sependapat soal hiburan, selagi kita bad mood atau cari hiburan, happiness bisa dicari dengan yang simple things, misal daripada ke mall mending ke taman sore-sore sambil jogging, ngumpul2 dan masak bareng sama temen2, ngopi yg ga harus di tempat hype, mengerjakan hobi yg tertunda, dll.

    but always any space for lipstick, right? wakakaka

    stay inspired, ndra!


    Xoxo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Susy, hahaha jatah beli skincare sama lipstik itu hukumnya wajib. Biar tetap waras ;p

      Beda sih ya kalau memang udah hobi, lagian beli-beli skincare justru jadi investasiku dalam jangka yang sangaaaaaat panjang :)

      Delete
    2. Betul setuju banget kalo skin care, kudu wajib dibudgetin sama kaya kita beli sayur wakakakaka

      Delete
    3. Hahaha beli sayur aja kan mesti pakek sunscreen dulu biar gak cepet keriput kena matahari #ALESAN

      Delete
  6. Selama ini jadi silent reader aja, makasih kak alo artikelnya menginspirasi. Buat keluarga baru seperti aku dan suami ini berguna banget, meskipun sama2 kerja tapi emang perlu punya tabungan sesuai posnya, terkadang suka lapar mata beli ini itu padahal gak butuh. Jadi makin semangat deh nabungnya, apalagi kami jg sedang promil. Hihihi semoga bisa segera nyusul financial planning dan punya baby lucu seperti Aura.


    Cheers.

    ReplyDelete
  7. Hai Kak Alo, I've been waiting for this post since long time ago! Inspiring bgt post-nya jadi bikin aku lebih mikir utk tabungan jangka pendek/panjang dan dana darurat yg sebelumnya gak kepikiran sama sekali.
    Ya wlopun belom bisa pakai jasa Financial Manager saat ini, bisa deh curi-curi tips dari Kak Alo ;)
    Keep writing mom!

    xoxo

    ReplyDelete
  8. Halo Kak Alo.

    Aku juga selama ini jadi silent reader, tapi postingan yg ini minta dikomenin banget. :D
    Skrg aku lagi gitu tuh. Uang sering "ngilang" aja gitu. Kayaknya akupun butuh jatah financial planner ini. Huhu.

    Thanks for sharing, Kak. Keep inspiring. :)

    ReplyDelete
  9. Hi, Kak Alo!

    Salam kenal...

    Thank you for sharing this article. Dulu waktu masih single dan ga pny prioritas apapun, gaji saya selalu habis. Padahal boleh dibilang, penghasilan saya cukup besar waktu itu. Sekarang saya mau menikah dan sedang belajar mengutamakan prioritas2 kebutuhan keluarga kecil saya dl. Memang sih kebiasaan spt hangout, shopping dan jalan2 berkurang drastis bahkan tidak ada sama sekali. Tapi, seperti yang Kak Alo bilang, bersakit sakit dahulu dech... Kamu jadi semacam panutan aku untuk membangun happy family versi aku. Hehehe...

    Keep inspiring ya, Kak Alo.

    ReplyDelete
  10. Hai Kak Alo..

    Aku baru satu bulan terakhir nih baca artikel Kak Alo dan nonton video youtubenya..
    Menginspirasi banget, khususnya artikel ini (dan artikel sebelumnya yang bahas soal ini), bikin aku jadi pengen nabung. Walaupun belum menikah, aku pengen punya tabungan buat masa depan kelak. Sering-sering share tips hidup hemat donk Kak. Sama cara bisa berhemat walaupun tangan dan mata gatel banget pengen nyoba skincare dan make up baru. hihiii

    Thank you Kak Alodita..

    ReplyDelete
  11. Yaampun ka Andra aku barusan ngobrol sama suamiku gara2 financial ini, percaya atau gak dia lebih boros daripada aku hahah, karena selalu pingin beli gadget. Padahal kami baru punya pos tabungan jangka pendek, jangka panjang belum berisi (kami baru aja nikah). Stres banget ngurusin finansial ini, apalagi suamiku sedang sekolah spesialis yang mana gak ada penghasilan (disupport ortu), aku harus pinter2 banget prioritasin pengeluaran. Aku bakal tunjukin artikelnya kak Andra langsung ke dia hihi. Thanks for sharing kak Andraaaaa

    ReplyDelete
  12. kak Alo... boleh ngga pengen nyium pipinya Aura Suri yang keliatannya empuk empuk gimana gitu hehehe. Gemyeeeesssss :* :* :*

    ReplyDelete
  13. tq for sharing kakakkkk <3 <3 <3 <3

    ReplyDelete
  14. Thanks for sharing Malo! :*
    Oya, bocoran dooong kalau biaya untuk jasa financial planner nya gimana. Perkonsultasi atau perbulan gitu karena di pantau terus?
    Thank you!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dua-duanya, kalau aku yang per bulan :)

      Delete
  15. Prinsip aku banget tuh belum genap setahun kerja jadi masih super duper irit dulu. biar tahun depan bisa berdikari gak khawatir lagi kekurangan uang. Kalo aku yang wajib itu beli buku tetep waras setelah berpeluh - peluh bekerja hehehehehe

    ReplyDelete
  16. Andraaaaaaa. Asli yaa dari pas nonton periscope kamu udah pengen lebih disiplin sama hal yang begini-begini. tapi terus lupa lagi. Dan sekarang baca postingan ini jadi ketampar lagi. Thanks for the reminder ndraa. mudah2an abis ini bisa langsung direalisasikan bagi-bagi pendapat ke pos2 khususnya.

    emang yaa postingan blog kamu selalu superrr sekali. hehehe

    ReplyDelete
  17. Aku belum nikah tapi aku bakal terapan beberapan poin Kak Alo nanti di rumah tangga aku hehe. Aku stuju sama susahnya bedain kebutuhan dan keinginan. Apalagi kalo buka sosial media, tiba2 mupeng pengen ini itu.

    Makasih Kak Alo, tulisannya secara ga langsung ngingetin aku untuk lebih bersyukur mulai dari hal-hal yang sederhana yang kadang kita ga pikirin :')

    ReplyDelete
  18. duh, ini berguna banget infonya ndra, walaupun belum nikah, tapi beberapa udah aku praktekin caranya walaupun pos-pos-nya tentu berbeda sama yang udah berkeluarga ya, apalagi kebutuhan untuk anak, pasti pos-nya lebih besar.
    tapi kadang masih suka kegoda sih, apalagi kalau lagi stres, trus tiba tiba liat akun olshop, bisalah 1-2 kali beli cuma biar bikin mood naik, huhuhu.
    tapi kalau sudah berkeluarga patut dicontoh itu yang saling menggaji diri sendiri

    ReplyDelete
  19. halo kak Alo, mau nanya nih ttg belanja bulanan online. Ini semacam kebutuhan dapur kan ya? boleh tau beli nya dmn? apa Far*ers Market itu? atau ada yg lain?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku biasa belanja di Bilna dan Sukamart :D

      Delete
  20. Wah, ini topik penting banget mbak buat yang sudah menikah maupun yang masih single. Terima kasih sudah berbagi, terutama karena topik keuangan masih dianggap privacy dan sungkan untuk dishare.

    The Twisted Moth

    ReplyDelete
  21. Hai kak Alo,

    thanks for sharing ya. Nah, yang mau aku tanyakan adalah, dari semua tabungan jangka pendek, jangka panjang dan, dana pos darurat, serta jatah operasional, ini nabungnya dalam satu rekening, atau tiap tabungan masing-masing punya rekening sendiri. Soalnya aku sering bingung di bagian ini nih. Kalau digabung dan dicampur, malah nanti kacau. Tapi kalau dipisah dalam beberapa rekening yang berbeda, repot juga ya. Hehe. Mohon bimbingannya.

    Thank you kak Alo :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Ribka, semua rekeningnya terpisah semua supaya nggak kecampur dengan keperluan/pos rekening lainnya. Sebaiknya dicatat jadi tau berapa yang ditabung per bulannya.

      Delete
    2. Oke, jadi memang harus sedikit repot di awal, tapi kelihatan di akhir ya. Baiklah kak Alo, terima kasih :)

      Semangat menabung! :D

      Delete
  22. halo kak aloo,

    selalu suka baca blog kak alo yang berguna bgt utk kehidupan sehari.
    bisa kasih tips ngga kak untuk pacar/suami yang pendapatannya lbh kecil dari kita?
    hal ini mungkin emg tabu diomongin tapi aku yakin lmayan byk yg mengalami hal yg sama =)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tipsnya kedengaran simpel tapi sangat susah untuk dijalanin, yaitu harus menerima kenyataan kalau pendapatan pasangan lebih kecil. Kalau sudah menikah, pintu rejeki bisa datang dari suami, istri, bisa juga malah dari anak yang belum berusia 17 tahun (coba bayangin artis cilik). Jadi sebenarnya sama-sama aja, paradigma masyarakat yang bilang itu "tabu" tapi sebenarnya balik lagi ke orangnya masing-masing.

      Delete
  23. Duh ka Alo, thanks banget ya sharingnya..nambah lagi masukannya untuk pinter-pinter nabung dan hidup-tidak-terlalu-kemakan-gengsi ahahaha :)

    ReplyDelete
  24. hai kak Alo, aku mau tanya ttg tanggapan keluarga besar apakah strategi financial freedom ini membuat kita terlihat pelit di mata mereka dan bagaimana caranya agar tidak terlihat demikian?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perencanaan keuangan kan nggak berarti jadi pelit, semua udah ada pos-posnya kalau memang mampu (mampu untuk traktir keluarga, liburan keluarga dll). Kuncinya hanya komunikasi dengan keluarga aja, tanpa komunikasi yang baik bisa aja bikin seseorang/masyarakat memiliki asumsi tertentu terhadap sesuatu.

      Delete
  25. hai ka andra,.... aku suka sekali dengan artikel kk. bagi aku yang masih baru menginjak setaun menikah tentunya artikel seperti ini sangat membantu menjadi pertimbangan dalam mengelolah keuangan...
    semoga kedepannya makin banyak artikel yang bisa kk sharing :)

    ReplyDelete
  26. Pas lagi galau soal Financial Freedom dan coba search di google dan dapat link blog nya andra. Habis baca, merasa lega sedikit karena ada solusinya. Mungkin agak lega banyak kalau sudah mulai konsultasi dengan Financial planner ya. Thanks Andra, it's really enlighten:)

    ReplyDelete
  27. disiplin dan tekad kuat itu kayaknya yang paling susah, tapi harus dibiasakan.
    sempat diketawain temen2 waktu nyatet pengeluaran, bahkan sampai yang kecil-kecil dan receh2. tapi tetap ga peduli, harus tangguh supaya bisa tracking uangnya keluar kemana aja dan bisa kelola uang lebih baik. baca tulisan ka Alo jadi nambah semangat! :)

    ReplyDelete
  28. Wah makasih banyak ya kak sharingnya! Pas banget buat aku yang fresh graduate dan baru mulai belajar ngatur keuangan sendiri.

    Keep inspiring, Kak :)

    ReplyDelete
  29. halo, kak alo!!

    aku baru aja blogwalking lagi blognya ka alo.. baru bgt kemarin ngebahas ini sm suami.. well, kita berdua kerja dan bentar lagi mau punya baby.. mesti dibilang kalo skrg harus pintar2 ngatur yah karena setelah suami mengambil kta berupa tanah, gaji suami berkurang 60% for 4 years.. jadi pelan-pelan nabung dlm rekening ataupun logam mulia.. tapi memang kadang2 hidup di Jakarta cukup mahal yah (baca : lifestyle)..apalagi kemarin baru menyadarii setelah membeli semuaa kebutuhan baby.. rasanya pengen dibeli semuaaaaaaaaaa.. huaaaaaaa

    ReplyDelete
  30. Hai Kak Andra!
    Walaupun belum berkeluarga kayaknya ini bisa aku pakai juga sih caranya. Harus mulai selektif mana yang emang kebutuhan dan mana yang cuma laper mata. Pasti susah banget sih, apalagi sekarang belanja tuh gampang banget, sambil tiduran pun bisa, huh! But, Thanks for sharing ya, Kak :)

    ReplyDelete
  31. aaaaaaaahh trully inspired mba alo,
    berasa kena gampaaaar haha thx u sudah mengingatkan, klo suami yg ingetin berasa gmn gt tapi pas baca ini hahaha malu sendiri (inget anak)
    thx u for sharing ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Hani, iya aku juga awal-awal ngerasa ketampar banget hehe walaupun sekarang juga masih suka ngos-ngosan ngejalaninnya :) Makasih ya, semoga terbantu dengan artikel ini <3

      Delete
  32. Tipsnya masuk akal dan realistis untuk dilakukan. Terimakasih mba Andra. Saya sadar godaan terbesar justru saat merasa ada uang,biasanya kebablasan lupa menabung dan bayar utang.

    ReplyDelete
  33. Protes keras: AAAPPPPAAAHH??? 12 BULANN???? Perasaan dulu 6 bulan dong disuruh nabung sama papahnya Andra *mewek* *sakit kepala*

    Baiklah... hiks hiks..demi cepet lunas utang, demi anak..demi anak..

    Semaanggaat Nanaaa!! Thank you ya Ndra, absolutely inspiring dan agak2 bikin shock *teteup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Nana! Makasih ya baca komen kamu, jadi sukses ketawa sendiri bacanya :D

      Iya dulu papaku ngajarin 6 bulan, sekarang 12 bulan terus harus mikirin dua orang lainnya (suami dan anak, begitupun suami.. mikirin istri, anak dan calon anak satu lagi ;p) Hahaha. Insya Allah bisa dan dimudahkan jalannya yaaa kita. Amien! :D

      Delete
  34. Haii aloo..ini prinsip yg ampir sama kya yg ppah aku ajarin, kl gajian itu zakat dlu, nabung, baru sisanya dipakai buat belanja sehari2. Jadi prinsipnya nabung jangan dari 'uang sisa' belanja tapi hiduplah dr uang sisa gaji setelah ditabung, lama2 kita jg akan terbiasa menyesuaikan dgn budget yg ada ko.. Apalagi saya sejak menikah memutuskan resign setelah 5 tahun jd wanita karir, bner2 kerasa bgt harus tahan lapar mata n pinter2 milih barang kalo belanja :D

    ReplyDelete
  35. Hai Alo.. Salam kenal.. Nice to find this article.. Sbnrnya udah prnh baca financial planning kya bgini sih di bukunya Mb Prita Gazali, tp atlh nemu blog ini kmrn lgsg deh aq terapin brg suami. Btw fee financial planner kaya'yg kamu pake gitu brp ya klo bulanan, kisaran aja, kalau per konsultasi? Knp Alo pilih yg bulanan? Apa dibantu utk review begitu? Thx b4..

    ReplyDelete
  36. Hi alo... mau tanya bocoran donk financial planner yg kmu rekomendasikan siapaa?

    ReplyDelete
  37. Mba Alo.. Klw posisinya suami istri bekerja, apakah uang istri itu juga digunakan utk keprluan bersama utk seluruh aspek? (Seperti yg mba sebutkan klw semua pendapatan dibulan itu di kumpulkan di akhir bulan dan dibagi2 ke posnya masing2). Atau istri hanya memberikan sebagian uangnya utk di tabung di pos khusus (anak contohnya).
    Utk uang jajan istri apakah ttp d kasih oleh suami, atau dr biaya oprrasional yg didapatkan masing2?
    Utk uang makeup, berarti sudah termasuk ke uang operasional masing2 ya mba? Atau ada pos khusus utk make up mba?

    Utk kondisi istri tdk bekerja (hanya jd IRT saja), apakah istri hanya dpt uang jajan saja mba? apakah uang jajan istri tsb di ambil dr uang gaji suami yg sudah di pos kan utk keperluan operasinal masing2?

    Maaf banyak nanya, karena saya dengar dr tmn sy yg udh nikah dan udah punya anak, klw uang istri ttp milik istri (kecuali sebagaian dikeluarkan utk ditabung bersama suami utk keperluan anak) dan istri walaupun sudah bekerja ttp mendapat uang jajan dr suami (tanpa masukin uang gaji istri).. Saya tunggu balasannya mba~~~
    Dan makasih sudah memberikan gambaran dan ide utk mengatur keuangan secara baik ^_^

    ReplyDelete
  38. Hai kak alo! Aku tertarik banget sama financial plan nya kakak.. Aku sama suami jadi coba ngikutin nih :D

    Ada yang aku bingung kak, setelah aku bagi2 uang aku ke zakat, hutang dan kewajiban, dana proteksi, biaya hidup, dan gaya hidup, terus selanjutnya uang sisanya dialokasikan ke dana darurat dulu atau dibagi dua dana darurat dan dana investasi ya kak? *ceritanya aku belum pernah alokasiin danaku ke dana darurat atau dana investasi hehehe baru mau mulai nih kak :D

    Terimakasih kak alo! Sukses dan sehat terus buat kakak dan keluarga :)

    ReplyDelete
  39. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  40. Dari semua artikel mbak alodita....aku suka semua... paling suka yang ini......terima kasih buat sharingnya....

    ReplyDelete
  41. Hmmm...kemudian manggut-manggut, kudu ditanamkan dan konsisten. Kebutuhan bukan keinginan!

    Trims sharingnya Mba cantik.

    ReplyDelete
  42. Been a silent reader of ur posts, just read this one and it's a reminder to me 😀
    Thanks for sharing mbak alo, keep inspiring us yaaa ❤️

    ReplyDelete
  43. Udh lama baca artikel ini tp krn dulu blm punya anak jadi blm berasa terlalu penting, skrg udh ada anak baru berasa penting bgt dan tiba2 inget artikel ini hiks kalo boleh tau, isi tiap2 pos itu brp persen dr penghasilan kita ya mba? Trs menurut mba andra lebih prioritas pos cicilan/hutang apa pos dana darurat? Aku br mau mulai pk cara ini tp penghasilan suami bisa dibilanh kecil jadi bingung mengatur prioritas di tiap pos huhu

    ReplyDelete
  44. Udh lama baca artikel ini tp krn dulu blm punya anak jadi blm berasa terlalu penting, skrg udh ada anak baru berasa penting bgt dan tiba2 inget artikel ini hiks kalo boleh tau, isi tiap2 pos itu brp persen dr penghasilan kita ya mba? Trs menurut mba andra lebih prioritas pos cicilan/hutang apa pos dana darurat? Aku br mau mulai pk cara ini tp penghasilan suami bisa dibilanh kecil jadi bingung mengatur prioritas di tiap pos huhu

    ReplyDelete