Monday, November 2, 2015

MY BREASTFEEDING JOURNEY

 photo blog-IMG_5741_zpsgcsshb8u.jpgBagi saya tiga minggu pertama sejak Aura hadir di dunia ini adalah tiga minggu terberat yang pernah saya alami, especially the breastfeeding part. Sebelumnya persalinan saya selalu membaca buku tentang breastfeeding, membaca beberapa kisah dari teman-teman maupun blog-blog tentang parenting dan motherhood, mengikuti kelas laktasi, dll – tapi saya nggak menyangkan bahwa yang saya alami begitu berwarna.

Sama seperti calon ibu lainnya, saya selalu dihantui oleh pikiran dan rasa takut kalau-kalau Air Susu Ibu (ASI) saya nggak keluar setelah melahirkan. Nggak keluar, telat keluar atau nggak cukup. Saya berdoa terus tapi tak bisa dipungkiri bahwa saya cukup parno dan gelisah saat itu, tapi suami setiap malam selalu mendukung dan berusaha menepis kekhawatiran saya.

Saya menjalankan dan memilih persalinan C-Section. Bukan saya tidak mau atau takut menjalankan persalinan normal, saya memilih C-Section karena banyak sekali pertimbangan agar bayi yang saya kandung tidak terkena resiko apa pun – karena posisinya sudah sungsang dan tercekik tali pusat. Selain itu, obgyn saya berkali-kali mengingatkan bahwa kehamilan saya adalah kehamilan langka, dimana saya bisa hamil karena program bayi tabung. Tapi keputusan saya harus C-Section justru membuat saya tambah khawatir, benar gak sih kalau operasi C-Section terus ASInya jadi delay?

Ternyata nggak kok.

ASI yang berupa kolostrum langsung keluar 1-2 jam setelah saya selesai persalinan.

Apa saya berhasil Inisiasi Menyusui Dini (IMD)?

Nggak berhasil, karena saya ditambahkan obat penenang saat operasi – jadi baru bisa IMD dua jam setelah persalinan.

**

Saat awal menyusui, saya kerepotan dan clueless. Semua teori-teori yang saya pelajari selama hamil langsung buyar.

Blar! Hilang begitu saja dari kepala.

Saya meminta suster menemani saya agar mendapat posisi menyusui yang benar. Anak saya, Aura, langsung mencoba menyusu begitu saya mencoba skin-to-skin contact. Pintar sekali anak ini, pikir saya. Beberapa jam kemudian saya juga diminta suster lagi untuk menyusui.

Di hari kedua setelah persalinan, puting kanan saya mulai terasa perih. Saya melihat kulit yang retak, warnanya kecoklatan, ketika saya pencet rasanya perih. Seperti saran teman-teman, saya mengoleskan puting dengan nipple cream agar lukanya cepat membaik. Saya pun menyusui Aura sambil meringis-ringis karena rasanya seperti disayat-sayat. Mungkin karena seumur hidup belum pernah merasakan puting lecet, jadi rasanya benar-benar sakit sekali – mengalahkan rasa sakit jahitan C-Section saya.

Di malam kedua kami di rumah sakit, tiba-tiba suster menyampaikan bahwa Aura harus disinar di ruang bayi karena bilirubinnya tinggi. Saya panik. Belum lagi saya sedih saat melihat wajahnya penuh bintik-bintik merah (yang ternyata karena alergi dengan makanan yang saya makan). Bibirnya yang kecil terlihat kering. Seluruh kulit wajahnya berwarna kuning.

Malam itu rasanya saya seperti ditampar, baru saja saya dan suami ingin berbahagia dengan kehadiran Aura di dunia – tapi Aura harus disinar di ruang bayi dan saya setiap menyusui harus pergi ke ruang bayi.

Dengan kondisi tubuh saya yang masih tergopoh-gopoh, setiap 2-3 jam sekali saya pergi ke ruang bayi yang jaraknya sekitar 30 meter dari kamar tidur saya di RS. Cukup jauh untuk ukuran seorang pasien yang baru operasi C-Section.

Ada saatnya saya shock karena melihat pipi Aura terkena darah, yang ternyata adalah darah dari puting saya yang terluka. Setiap saya mengunjungi Aura di ruang bayi, perasaan saya sedih sekali. Baru saja tiga hari saya menjadi seorang ibu, tapi saya sudah dipisahkan dengan bayi saya. Rasanya sakit dan sesak di dada.

Yang membuat lebih sedih lagi, kami kedapatan Dokter Spesialis Anak (DSA) yang kalau ngomong kayak nggak pakai filter, nadanya seperti mengancam lalu ujung-ujungnya ngomongin susu formula karena saya dan Aura sama-sama belum lancar menyusu. Sebagai orang tua baru yang ingin memberikan ASI Eksklusif pada buah hatinya, saya dan suami lantas geram sekali mendengarnya.

*Sedikit catatan, saya nggak anti dengan susu formula. Tapi pada saat itu saya geram sekali karena ingin memberikan anak saya yang terbaik yaitu berupa ASI Eksklusif. Mohon ditanggapi dengan bijak :)

Di hari keempat, setelah Aura disinari selama 2 x 24 jam, kami diperbolehkan pulang oleh DSA-nya. DSA tersebut berpesan untuk datang dan check up 3 hari lagi, karena berat badan Aura harus dipantau. Oiya, saat lahir berat badan Aura 2.855 gram dan saat dibawa pulang beratnya sekitar 2.500 gram.

Nah, ini dia yang seru.. Selamat datang realita!

Tiga hari setelah Aura kami bawa pulang, saya tetap belum bisa menyusui dengan benar. Aura sering nangis sampai jejeritan dan saya hanya sendiri di rumah karena suami harus bekerja dua hari berturut-turut sampai larut malam. Saya kecapean, begitu juga Aura. Setiap saya bilang ke suami bahwa Aura rewel dan cranky, suami saya yang saat itu hanya bersama Aura sebentar-sebentar menganggap Aura anteng-anteng aja. Saya mulai stres dan gelisah.

Sesuai dengan yang dijadwalkan, kami membawa Aura ke DSA-nya di RS PIK. Tapi kali ini kami langsung mengganti DSA dan akhirnya kami memutuskan untuk konsultasi dengan dr. Conny Tanjung.

Hari itu antrian dr. Conny ramai sekali, saat kami mengantri Aura jadi bahan tontonan suster-suster yang sedang menggendong anak majikannya. Mulai deh komentar-komentar bersautan, mulai dari komentar kenapa Aura ngga dibedong, ngga dipakein topi, dll dll. Saya dan suami yang sedang riweh sama tangisan Aura, langsung bingung dan panik. Dan yang lebih bikin panik lagi, ternyata Aura bilirubinnya belum juga turun. Seingat saya bilirubinnya menembus angka 18 saat itu. Dr. Conny menyarankan kami untuk pergi ke RS yang dekat dengan rumah kami dan minta agar Aura disinar lagi.

Kami langsung bergegas pulang ke rumah, packing barang-barang (karena saya tau kami harus menginap di RS) dan langsung menuju ke RS Asih. Di RS Asih, DSA-nya menyarankan agar Aura menginap selama 1 malam. Tapi ternyata kamarnya penuh, akhirnya kami dirujukkan ke RS Brawijaya. Kami check in sekitar pukul 5 sore hari itu, kamarnya sudah disiapkan dan Aura langsung disinari.

Setelah maghrib, suster-suster datang ke kamar kami. Ntah setan dari mana, salah satu susternya bilang, “Bu, dede-nya minum dari botol aja Bu. Supaya minumnya banyak. Karena kalau disinar, dede-nya jadi haus banget.”

Saya dan suami langsung saling melihat. Kami menjelaskan bahwa kami nggak mau pakai botol dot (sok idealis ceritanya), tapi karena saya kasihan sekali melihat Aura yang kehausan.. akhirnya ntah bagaimana kami setuju untuk memberikan Aura ASI yang sudah diperah.

Berhubung suami saya belum tidur cukup selama 2 hari dan suami belum hafal dengan barang-barang menyusui saya, saya nekat menyetir pulang ke rumah – padahal hari itu adalah hari kelima paska operasi C-Section dengan jahitan vertikal.

Where there’s a will, there’s a way. Saya berhasil pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang saya dan Aura, tanpa rasa sakit di bagian perut! Malam itu Aura langsung minum susu dari botol dot, yang diberikan oleh suster jaga. Anehnya, suster ‘setan’ yang menghasut kami untuk ngasih botol dot itu ngga keliatan lagi malam itu.

Besoknya saya meminta suster jaga untuk membuatkan appointment dengan Dokter Laktasi, dengan tujuan agar cara menyusui saya bisa dievaluasi dan saya diajarkan menyusui dengan benar. Setelah makan siang, Dokter Laktasi datang dan saya bercerita tentang Aura yang diberikan botol dot. Muka si dokter langsung berubah, “Sudah dikasih berapa botol?”

Saya celingak-celinguk.

“Ehm.. kira-kira 5-6 botol, dok.”

Dokternya hanya diam, menatap saya dan Aura.. Lalu ia meminta saya untuk menyusui Aura. Drama pun dimulai, Aura meronta-ronta ketika disusui langsung. Istilah bekennya, bingung puting. Saya mulai stress, Dokter Laktasi pun wajahnya agak kebingungan. Setelah beberapa saat, dokter membuka mulut Aura. Lalu ia bilang, “Pantes! Ini tongue tie.”

ARGH! Apaan lagi sih nih.. Yang belum kenal dengan istilah tongue tie bisa baca di sini ya.

Jadi pada saat proses menyusui berlangsung, bayi mengerakkan lidahnya dengan gerakan peristaltik dari depan ke belakang menyentuh langit-langit, sehingga ASI keluar ke mulut bayi. Intinya kalau tongue tie tuh bayinya nggak bisa minum dengan benar. Dokter Laktasi juga sempat bilang lidah Aura pendek jadi susah menelan. Saya berulang-ulang membuka mulut Aura karena rasa nggak percaya.

Dokter Laktasi menyarankan agar Aura menjalankan tindakan frenotomi alias pengirisan frenulum! Saya dan suami shock, pusing, bingung. Stress lebih tepatnya. Dokter memberikan waktu untuk kami berpikir matang-matang sampai sore hari. Saya pun kebingungan sepanjang hari. Googling sana-sini dan tanya-tanya kerabat soal tongue tie ini.

**

Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk tidak mengambil tindakan pengirisan frenulum. Sorenya saat saya belajar menyusui Aura lagi, Dokter Laktasi datang lagi dengan ibu-ibu yang sepertinya petinggi di RS Brawijaya. Dokter meminta saya untuk menyusui Aura, saya pun mencoba dengan berbagai macam posisi – dan gak ada yang berhasil. Aura malah semakin menjerit setiap saya coba menyusuinya. Dokter laktasi dan si ibu nontonin saya dengan wajah kasihan.

IYA, MUKA KASIHAN.

Si ibu yang gak saya kenal itu sibuk ngeliatin saya dari berbagai posisi, sedangkan saya sibuk memegang Aura yang lagi jejeritan. Di sisi lain, ASI saya tumpah-tumpah dan muncrat ke segala arah, daster saya basah gak karuan. Saya mulai menangis karena stres, gak tau harus bagaimana. Perasaan saya campur aduk dan tangisan pun nggak bisa dibendung. Aura masih meronta-ronta di pelukan saya. Dokter berusaha menenangkan saya dengan berkata, “Sabar ya Mba.” Lalu si ibu juga menepuk bahu saya sambil pamit, “Mba, yang sabar ya.”

Sabar? Haduh rasanya dunia runtuh saat melihat Aura meronta-ronta menolak untuk disusui, saya pun menangis-nangis karena bingung dan marah. Saya marah karena si ibu ini datang ntah dari mana, pakek acara dibawa-bawa segala sama si Dokter Laktasi.

Rasanya gak becus banget jadi orang tua. Rasanya kesel banget sama si suster ‘setan’ yang menghasut saya malam itu. Rasanya lebih kesel lagi karena suami saya juga masih blank, gak tau mau bantuin apa dan harus bagaimana.

Saya keluar ke balkon, menangis-nangis sesenggukan ditemani suara bising dari flyover Antasari. Suami saya berusaha menenangkan tapi gak berhasil. Ibu saya juga berusaha menenangkan tapi saya minta waktu untuk sendirian.

Rasanya kacau banget hari itu.

Saat lagi stress banget, saya langsung curhat dengan teman saya via Whatsapp karena ia sedang berada di Paris bersama keluarganya. Teman saya ini ibu dengan dua anak, yang jelas udah lebih ‘senior’ dari saya. Lalu ia menyarankan saya untuk memberikan Aura ASIP dengan cup feeder atau sendok, selang-seling sambil saya belajar menyusui. Ia pun mengalami hal yang serupa saat melahirkan anak kedua, sama-sama susahnya waktu menyusui dan sempat stres. Tapi teman saya telaten banget, setiap 1-2 jam anaknya selalu disusui sampai ia dan anaknya bisa sama-sama menyusui dengan benar. Ia juga berpesan bahwa saya gak boleh panik karena kuning akibat bilirubin yang tinggi baru menghilang setelah anak berusia 4-6 minggu.

Inget ya ibu-ibu, gak boleh panik! :D

Saya langsung mendadak semangat dan dapat pencerahan baru.

Malam itu juga, saya dan suami mempraktekkan saran teman saya. Kami bangun setiap 1-2 jam untuk memberikan Aura ASIP dari cup feeder, berselingan dengan menyusui langsung. Walaupun banyak ASIP yang terbuang, kami coba terus sampai saya dan Aura sama-sama bisa mendapatkan posisi menyusui yang benar dan nyaman. Puting saya masih luka, perih banget dan rasanya seperti disayat-sayat. Perut saya sakit sekali setiap menyusui karena sedang terjadi kontraksi rahim.

Esok harinya, Aura diperbolehkan pulang tapi kami diminta kembali lagi ke DSA 3 hari setelah pulang ke rumah.

**

Tiga hari kemudian, hasil tes darah Aura menunjukkan bilirubinnya belum turun, tapi ada kenaikan berat badan walaupun sedikiiiiit sekali. Saya juga bertanya-tanya soal breastmilk jaundice (saya dan Aura berbeda golongan darah), tapi dokter bilang kami gak perlu khawatir karena Aura masih adjusting tapi kami harus kontrol lagi minggu depan.

Karena saya dan suami sangat lelah bolak-balik ke dokter, akhirnya kami bertekad nggak mau ke dokter lagi hingga Aura berusia 1 bulan. Nekat? Bodo amat deh, dari pada saya stress ke dokter.

Setiap malam kami telaten memberikan Aura ASIP dari cup feeder, saya juga belajar berbagai macam posisi menyusui yang benar. Saat Aura berusia dua minggu, Aura mulai bisa menyusui dan saya pun semakin nyaman menyusui Aura.

 photo DSCF3033_zpsvpznofb1.jpg
Aura saat berusia 3 minggu (kiri), Aura saat berusia 4 bulan 2 minggu (kanan).

Walaupun di awal-awal proses menyusui, dramanya panjang yah ibu-ibu..

Memang satu bulan pertama setelah kehadiran Aura adalah hari-hari yang paling berat bagi ibu baru seperti saya. Tapi dari semua yang saya alami dan perjuangkan akhirnya berbuah manis. Setiap saat saya selalu menikmati waktu-waktu dimana saya bisa menyusui Aura, sambil menatap mata bulatnya yang bersinar-sinar.

Moral of the Story
Jangan pernah langsung percaya dengan satu diagnosa saja. Dokter juga manusia, jadi bisa saja salah diagnosa. Tapi lebih parahnya kalau di Indonesia cerita soal ‘salah diagnosa’ itu terlalu banyak hehe. Gak berarti bahwa anak tidak bisa menyusu itu pasti tongue tie, lip tie atau apa lainnya. Tetap positif dan yakin bahwa kita bisa menyusui. Menyusui memang butuh waktu, kesabaran dan juga pengorbanan. Satu hal yang tidak pernah disebutkan di buku, proses menyusui itu seperti kita PDKT (pendekatan) waktu sama pacar atau calon suami. Perlu adaptasi, nggak selalu mulus seperti yang kita bayangkan. But in the end, it’s all worth it.

Saya mengerti banyak sekali ibu yang tidak dapat menyusui bayinya karena berbagai macam alasan, mulai dari psikologis maupun alasan medis. Setiap orang memiliki kisah dan perjuangan masing-masing, jadi saya harap kita semua saling menghargai. Semua ibu adalah ibu yang terbaik untuk anaknya :)

Happy breastfeeding!

Read more: My IVF Success Story, Breastfeeding FAQs & How I Build A Freezer Stash of Breast Milk

 photo x-andra4_zps7f1083c1.jpg

72 comments:

  1. I love the way you write, Mba...
    Ceritanya mengalir, pembaca ikut terbawa emosi daaannnn... betah bacanya!

    Aku juga selalu suka sikap positif yg Mba Alo bawa dalam setiap tulisan. Mau kenyataan sepahit apapun, kalau positif jadinya asyik-asyik aja.

    Tks Mba ^_^

    ReplyDelete
  2. Andra, aku yang sekarang lagi hamil, urusan menyusui ini jauh lebih mengusik pikiran dibanding proses kelahirannya sendiri. Belajar apapun soal menyusui rasanya masih ada aja yang bikin hati kebat-kebit deg-degan.
    Tapi namanya orang tua terutama ibu, memang perjuangannya nggak berhenti cuma sampai di hamil dan melahirkan ya.. Menyusui pun butuh perjuangan baaaanget. Seneng dan bangga juga pastinya kalo perjuangan kita terlihat hasilnya. Itu Aura bisa montok gemes begitu *gigit pipi Aura* Semoga Aura sehat selalu dan mama Andra dilancarkan dan dicukupkan ASInya. Aamiin!
    Eh, btw maaf sebelumnya aku penasaran, diagnosa finalnya apa Aura beneran tounge tie? Trus jadi frenotomi? Tounge tie salah satu momok juga soalnya. Bikin perlekatan jadi kurang sempurna dan puting jadi lecet. Thanks sebelumnya ya Andraa.. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Helloooo.. tenang kamu gak sendirian kok! Apa yang kamu rasain, aku rasain juga waktu hamil :)

      Akhirnya Aura gak di frenotomi kok, soalnya setelah kejadian itu Aura makin pintar menyusunya. Dan ternyata lidah Aura panjang banget, waktu baru lahir kami pikir ototnya belum luwes aja hihihi. Kalo puting lecet katanya karena lidah/gusinya bayi masih tajem, banyak yang bilang puting ibu diolesin minyak kelapa aja biar cepat sembuh dan gusi/lidah bayinya lebih lunak. Good luck! :)

      Delete
  3. Hasil perjuanganya menbuahkan hasil kok mamaalo, Aura bulet kayak lontong!

    ReplyDelete
  4. Subhanalloh... itulah hebat nya seorang ibu ya Mbak... terkadang kita (istri) suka gemesss banget kl suami lg ngga bisa dimintain tolong utk urus perintilan tapi penting buat kita... tapi some how kekuatan yg luar biasa tetiba pop up aj gitu... sehat dan sukses terus Mbak Alo, aura dan suami nya :)
    terima kasih utk sharing nya :)

    ReplyDelete
  5. I literally cried reading your story. I experienced it as well, the pain, the depression for not able breastfeed ur own baby. However I ended up failing. Eventually my baby used the bottle to breastfeed, and I could only had it for 7 months.

    ReplyDelete
  6. pagi alo :) senang sekali baca cerita ini,..jd ingat masa menyusui anak pertama 3 tahun lalu dan skr anak kedua yg sudah 2 bulan.

    betul sekali skr banyak yg dng mudah mengatakan tongue tie/lip tie, untung dulu obgynku bilang bahwa di dunia saja hanya ada 3 persen, tp skr di Indonesia hampir seluruh anak yang mengalami kesulitan menyusui dibilang seperti itu :( (tp mungkin saja ada yg benar2 kondisinya seperti itu).

    setelah melewati 2 anak yg dibilang tongue tie (pdhl sampai ke 3 dsa ahli bilang tidak), akhirnya saya berhasil membuktikan bahwa memang tidak tongue tie.. krn ternyata memang menyusui perlu proses belajar baik ibu dan anak, dan rasa sakit diputing kuncinya memang cuma ditahan sekuat2nya *ini part terberat buat gue juga 3 minggu pertama*.

    happy breastfeeding too alo ! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Arninta, duh senangnya aku gak sendirian. Sampai sekarang masih ada perasaan gemes sama si dokter laktasi di RS Brawijaya, semoga banyak ibu-ibu yang gak mudah menyerah cuma karena diagnosa seperti itu. Thanks Arninta for dropping by, happy breastfeeding juga! x

      Delete
    2. Pengalamannya samaa. Aku juga gemes sama dokter laktasiku. Tapi kalo aku waktu itu setuju untuk frenotomy, saking bingungnya dan bahkan sudah babyblues. Ah masa-masa itu. Pengalaman yang sangat berkesan sekali yah menyusui itu.

      Happy breastfeeding yah ibu-ibu semuaa!

      Delete
  7. Waaa, terima kasih buat sharing, kak Alo. Tetap semangat, berpikir positif. Dek Aura must be proud of her lovable parents.

    ReplyDelete
  8. Ia bener banget, kecemasan adakah ASI dan bisakah memberikan ASI eksklusif itu menghantui banget >.< ini aku sudah 9 bulan mengandung, mulai cemas ASI ku gak ada soalnya kata orang dan hasil googling kolostrum mulai keluar di usia 7 bulan u.u

    Postingan Mba Alo ini membuat kecemasanku sedikit reda ^^ terimakasih ya Mba :*
    Itu Aura gembilnya ngegemesin ihhh >.< *gigit* hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Dweedy, gak perlu khawatir kokkkk :) soalnya ASI aku juga gak pernah keluar saat hamil, udah aku pencet-pencet setiap hari padahal hahaha. Ternyata sekarang masih banjir-banjir aja kok walaupun udah stop mompa. Semangat yaaa dan semoga persalinannya lancar!

      Delete
  9. Memang proses melahirkan, menyusui & menjadi ibu bukan perkara mudah ya :-) Saya juga mengalami pada anak yg pertama.

    Dalam motherhoood memang ga ada yg benar atau salah, yg penting berusaha yg terbaik untuk anak.


    Semangat ya Mama Alo & Aura... Sehat terus yaaa...

    ReplyDelete
  10. Hi Andra! Baca ini jadi serasa flashback saat anak masih bayi.. Ngerasain banget tuh perjuangannya awal-awal anak kuning, nangis-nangis mompa asi, suami lagi di luar kota, jadi sama mama bolak-balik RS 2 jam sekali sampe jam 2-3 pagi, pakai cup feeder juga hihii.. Di awal emang dramanya panjang, tapi worth it banget ya!

    Semoga Aura sehat selalu, dan lancar terus menyusuinya :)

    ReplyDelete
  11. Whoaaa.. Perjuangan yaaa bu.. Tapi selalu seru, terharu dan informatif setiap baca tulisan Malo.. So happy to see Aura so healthy right now. Semoga koala suri dan malo selalu sehat yaaaa~ peluk cium buat baby koala :*

    ReplyDelete
  12. Mba Andra, saat lihat postingan foto2 di instagram semua terlihat baik baik saja.ternyata perjuangannya besar sekali untuk bisa menyusui. Baca caritanya jadi berkaca kaca.tapi salut sama Mbak Andra. Lanjutkan perjuangan sebagai pejuang asi..hehheh.si aura juga sekarang alhamdulillah sehat Dan ndut sekali.

    ReplyDelete
  13. Luar biasa perjuangan kamu Ndra menyusui Aura!

    Kalau aku, bersyukur Dre gak bingung puting tapi masalah justru datang dari.... mama saya sendiri yang kuatir kalau ASI saya gak cukup...

    Tapi saya pede aja ah, kan ASI itu supply demand, kalau sering disusui ya pasti cukup :)

    Puting lecet juga saya alami tapi berkat breast shell jadi cepet sembuh, nipple cream malah jarang banget dipake :D

    Semangat Andra! *sun sayang buat Aura*

    www.honey-scrapbook.blogspot.com

    ReplyDelete
  14. Hi Andra, it happened to me as well! Dari anak susah nyusu karena masih sama2 belajar, anakku bilirubin juga tinggi dan badan dia kuning sampe 1 bulanan tp aku juga ga ke dokter buat cek2, nekat aja susuin terus walaupun puting berdarah lecet, tetep insist di susuin dan pompa terusss.. Sampe uda nangis2 dan stress. Tapi memang positive thinking itu kunci paling utama :) good writing and always love your writing :)

    ReplyDelete
  15. Salam Kenal Andra :)
    Kejadian yang kami alami mirip sekali sama aku di awal melahirkan, rasanya kalau mau nyusuin kayak mau diterkam monster. Dulu aku ditemenin mamaku, keluarga kami memang tinggal di daerah, tipe orang yang memang nggak bersandar seratus persen sama dokter, mama agak keras untuk nguatin aku bahwa gak ada alesan untuk gak menyusui.

    Untungnya aku dapet Dsa yang kebetulan konselor laktasi, Nina Natalia penggiat AIMI ASI bagian Kal Tim. walaupun aku tau punya nipple yang flat beliau gak pernah bikin diagnosa apapun, yang paling aku inget Dr. Nina cuma bilang "bu.. Apapun kondisi payudara, mau besar mau kecil, mau seperti apapun kondisi anak, nanti keduanya akan menyesuaikan" dan rasanya aku lega banget dengernya.

    Sekarang anakku Ayesha sudah 15 Bulan, kalau flashback ke masa lalu skrg kesimpulanku semua soal jam terbang. Aku bisa jago banget nenenin juga baru bulan ketiga, tapi dari semua keribetan yang ada, melihat wajah anak kita ketika dia sudah lebih besar rasanya gak kebayar sama apapun.

    Happy breastfeeding ya ndra, udah di posisi ini aja km udah hebat banget :)
    Kisskiss untuk Aura :*

    -Nanda-

    ReplyDelete
  16. Hi alo, boleh rekomendasi buku atau situs breastfeeding yg bagus ? Saya lagi hamil pertama dan masuk bulan ke 5, belum ada pengetahuan sama sekali soal breastfeeding. Semoga belum terlambat buat cari tahu. Makasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, aku pernah mereview buku-buku pregnancy & parenting yang bagus disini:

      http://www.alodita.com/2015/03/pregnancy-motherhood-books-1.html#more

      Paling rekomen yang Multitasking Breastfeeding Mama :)

      Delete
  17. Hai mbak alo.. saya mengalami apa yang mbak alo ceritakan di atas.. bisa merasakan sekali bagaimana sedih dan patah hati nya saat anak bingung puting.. apalagi karena baru anak pertama jadi rasanya entahlah ada kesal bingung harus bagaimana.. saya pilih frenotomi karena memang kondisi anak saya baru ketahuan tongue tie dan lip tie di usia 28 hari (mbak alo bisa bayangkan lecet puting sampai 28 hari gimana yaaaa.. TT) hingga saya mengalami abses dan harus insisi di payudara karena asi saya over supply namun si anak tidak menyusu dengan optimal. sehingga jalan itu harus dipilih yang insyaallah berbuah kebaikan.. memang saya awalnya juga tidak setuju dengan frenotomi namun setelah dilihat2 memang lidah anak saya tidak dapat menjulur sebagaimana anak pada umumnya. sekarang Alhamdulillah anak saya beratnya sudah naik pesat.. yang penting selalu positif thinking dan ikhlas mbak.. betul kata mbak Alo apapun yg terjadi kita jangan pernah panik.. karena kalo kita panik yang ada si anak malah makin heboh nangisnya.. baca tulisan mbak alo mengingatkan saya tentang bagaimana perjuangan yang mungkin sebetulnya tidak hebat jika dibandingkan dengan lainnya.. semangat ya mbak alo dan aura..

    ReplyDelete
  18. Hai mba Andra!aku ngikutin blog&ig mba dr jaman sebelum hamil dulu..kebetulan aku jg abis melahirkan 26juni lalu,..dan aku pikir mba Andra mulus2 aja breastfeeding storynya..tnyata!!aku juga ngerasain mba..anakku lahir 3.9 dan plg dg berat bdn 3.5..dr rs lgsg ke dr laktasi tp salahnya aku percaya u/frenektomi saat itu jg krn dr nya blg anakku lip tie dan tongue tie..dg kead.puting luka semua akirnya aku mau..tp selama 1bulan itu anakku ga naik2 beratnya..semua posisi nyusu dcoba..tp blm bhasil..tiap hr cup feeder in anakku krn kalo nyusu langsung dia spt ga kenyang2..stlh jalan bulan kedua..aku ke dsa lain yg ga laktasi malah dr nya nyemangatin u/terus nyusuin dan dselingi cup feeding juga..skrg anakku 4 bulan lebih dan beratnya ideal..walopun ga seendut aura tp bersyukur ya..gmnpun crt kita diawal nyusuin..masih bertahan smpe skrg asi nya..aaa..semangat ya buat kita!semua sehat terus mba aura..hehehe

    ReplyDelete
  19. Hai mba Andra!aku ngikutin blog&ig mba dr jaman sebelum hamil dulu..kebetulan aku jg abis melahirkan 26juni lalu,..dan aku pikir mba Andra mulus2 aja breastfeeding storynya..tnyata!!aku juga ngerasain mba..anakku lahir 3.9 dan plg dg berat bdn 3.5..dr rs lgsg ke dr laktasi tp salahnya aku percaya u/frenektomi saat itu jg krn dr nya blg anakku lip tie dan tongue tie..dg kead.puting luka semua akirnya aku mau..tp selama 1bulan itu anakku ga naik2 beratnya..semua posisi nyusu dcoba..tp blm bhasil..tiap hr cup feeder in anakku krn kalo nyusu langsung dia spt ga kenyang2..stlh jalan bulan kedua..aku ke dsa lain yg ga laktasi malah dr nya nyemangatin u/terus nyusuin dan dselingi cup feeding juga..skrg anakku 4 bulan lebih dan beratnya ideal..walopun ga seendut aura tp bersyukur ya..gmnpun crt kita diawal nyusuin..masih bertahan smpe skrg asi nya..aaa..semangat ya buat kita!semua sehat terus mba aura..hehehe

    ReplyDelete
  20. Hai Mbak Andra, terima kasih untuk cerita2 bermanfaat nya ya, khususnya buat saya yang sedang menunggu "waktu" persalinan (39 menuju 40 minggu). Ada rasa khawatir memang untuk urusan ASI, sejauh ini sih sejak dua bukan yang lalu sudah mulai ada cairan yg keluar dari puting, tapi rasanya tetap belum menjamin kelancaran ASI ketika persalinan nanti. Saya tipe yang agak panikan, semoga dengan cerita Mbak Andra ini bisa jadi "reminder" saya ketika bersalin nanti, karena sebelum nantinya menghadapi drama ASI, saya sudah dihadapkan dengan drama "sebaiknya SC", padahal ternyata masih banyak alternatif untuk normal, walaupun awalnya panik dan sempat memutuskan "oke SC" akhirnya minggu lalu saya dan suami memutuskan untuk "nekat" ganti dokter obgyn. Alhamdulillah dokter yg sekarang memberi banyak pencerahan.
    Benar-benar beragam ya ternyata pengalaman ibu dan calon ibu, apalagi untuk anak pertama :)
    Keep sharing ya Mbak Andra, semoga Aura tetap dan selalu sehat, semakin cerdas..

    ReplyDelete
  21. Ahhh.. baca cerita Mba Andra jadi berasa flashback sendiri. Bedanya aku kemarin minim ilmu, huhu.., RS tempatku melahirkan jg adem ayem aja soal IMD. ASIku sempat telat sampai 3 hari pasca C-Section, dan karna ga tau info, trs didukung jg sm family (lebih senior tp jg minim info *duh*), babyku berujung sufor deh. Plus serangan dot karna babyku jg disinar - pulang ke rumah - disinar lg, dan akunya iya2 aja pas dibujuk suster pake dot karna katanya baby disinar jadi lebih haus.

    Sempat stres jg, merasa bersalah bgt knp si baby sampai terjamah sufor. Mana si baby kena gejala bingput, nyusu bentar terus dilepeh, sedih bgt. Tp berkat terapi kanguru, sering2 skin-to-skin contact pas sdh dirmh, sekarang si baby sdh mau menyusu lg. Malah jd rakus ASI, maunya nempel trs, hihi..

    Kalo buat luka diputing, aku pakai cara mengolesi puting dengan ASI sebelum & sesudah menyusui.

    Cerita Mba Andra bikin makin semangat ASI nih. Biar pun jdnya mesti 'terikat' sm si baby. Semoga sama2 lulus S2 ASI ya Mbak, biar dede bayi sehat terus ;)

    ReplyDelete
  22. Hei Andra, sharing ceritanya hampir sama kaya aku dan anakku:) anakku tongue tie dan akhirnya di tindakan, rasanya ga karuan karena dia emang ngga bisa nyusu. Setelah tindakan pun belom terlalu lancar nyusunya, di rumah sakit malah tiap beberapa jam suster dan dokter laktasi bolak balik masuk kamar bikin stress krn anakku ga bisa nyusu. Dan kedapetan juga DSA yg kaya mak lampir, lgsg ganti DSA deh. Alhamdulillah pas udah plg kerumah anakku nyusunya langsung lancar dan pinter. Intinya emang ngga boleh stress yah. Semangat mama alo :)

    ReplyDelete
  23. Dear Andra,

    Kalau lihat foto di IG kayanya smooth aja ya setelah melahirkan, senyum lebar & sempet off agak lama pastinya karena sibuk pasca melahirkan. Sempet kepo, wah..kenapa nih nyetir sendiri pas lihat di IG. Dalam hati sempat nanya, Andra mungkin blm mau cerita, sudah lah let her finish the job.
    Dan ternyata memang huhuhuhuhuhu banget ya perjuangan seorang mama, pengen meluk rasanya atau entah apa yang bisa kita lakukan supaya rasa sakit, stress, otak ngeblank itu hilang. Belum lagi "new father" itu juga lebih ngeblank dari kita ya hihihihihi :'D

    Andra, thanks for sharing this story. Tulisan ini nggak cuma buat ibu-ibu menyusui di luar sana, mau yg seumuran atau jauh lebih tua dari kita karena memang baru dikaruniai, tapi juga untuk saya dan teman2 lain yg belum jadi Ibu (masih hamil, atau lagi pacaran, seru2an, sekedar nanya, atau terbiasa komentar ga jelas tapi kenal deket juga nggak), sama-sama belajar mengerti antar Ibu, belajar nggak asal njeplak soal cara memberi ASI dan hal-hal seputar itu. Aku jadi inget waktu kakak aku nangis2 karena ASInya dikit dan dia Ibu yang kerja kantoran, aku cuma mikir sebatas karena dia ga mau makan banyak sayur dan bayinya sempat kuning juga.


    Andra & all mothers out there, let us support each other. Bayi kecil, bayi besar, bayi normal atau berkebutuhan khusus, yang penting kita selalu berusaha kasih yang terbaik.

    Terima kasih untuk tulisannya yang bermutu, berilmu, dan beresiko bikin mata berkaca-kaca. HUGE HUG from Me & My Big Belly :'D

    ReplyDelete
  24. Mbak Alo... i feel you!! Memang ya perjuangan ibu baru pasti adaa aja ya mbak..
    Mbak, anakku skrg usianya 3bln13hari. C-sec juga aku mbak, setelah diinduksi nggak berhasil ada bukaan..
    Mbak aku mau komentar dan share jg tentang bilirubin dan suster 'setan'. Hahaha. Aku pun merasakan hal yg sama mbak.
    Hari ketiga aku udah boleh pulang sama obygn ku, tp waktu DSA cek, anakku ada kelainan di glukosa nya(jadi waktu hari pertama dan kedua, bayiku kejang2 tiap hbs dimandiin), stlh dicek tyt kadar gula rendah. Jadi harus diinfus. Saat itu jg aku langsung nangis kejer, pas itu suamiku udah kerja lagi, mamaku gbs nenangin aku. Dan selain harus diinfus, anakku jg harus disinar karena bilirubinnya tinggi mbak ,21. Aarghh rasanya kaya disayat ya mbak hati ini. Liat anak sendiri harus diinfus, disinar.. Dan saat itu jg blm pulih dari operasi. Sama mbak, akupun tiap 2-3jam ke kamar bayi (di lantai 3, kamarku di lantai4). Anakku disinar 3x24 jam. Waktu aku dikamar bayi, namanya ibu baru ya,masih adaptasi dan belajar menyusui.. Tiap istirahat dari disinar, aku susui langsung kira2 stgh jam sampai satu jam.
    Lalu ada suster galak tau2 bilang.. Mbak mending susuin pake dot aja, kalo istirahat lama banget gini nanti makin lama disinarnya. Dalam hatiku suka2 gue dong yaa anak2 gue mau main berapa lama hak2 gue dong. Hahahaha. Dan pake dot itu aku jg idealis mbak. Tp sama kaya mbak Alo, entah gimana aku akhrnya setuju pake dot. Alhamdulillah anakku pinter nggak bingung puting. Dan kuning anakku baru ilang pas usia 2 bulan mbak, krn anakku breastfeed jaundice.
    Seru ya mbak kalo saling share info begini. Yg jelas setiap ibu pasti akan memberikan yg terbaik untuk anaknya, apapun dan gimanapun pengorbananannya.
    Semangat ya mbak dan Aura semoga anak2 kita tumbuh sehat dan pintar.

    ReplyDelete
  25. Dear Andra,

    Kalau lihat foto di IG kayanya smooth aja ya setelah melahirkan, senyum lebar & sempet off agak lama pastinya karena sibuk pasca melahirkan. Sempet kepo, wah..kenapa nih nyetir sendiri pas lihat di IG. Dalam hati sempat nanya, Andra mungkin blm mau cerita, sudah lah let her finish the job.
    Dan ternyata memang huhuhuhuhuhu banget ya perjuangan seorang mama, pengen meluk rasanya atau entah apa yang bisa kita lakukan supaya rasa sakit, stress, otak ngeblank itu hilang. Belum lagi "new father" itu juga lebih ngeblank dari kita ya hihihihihi :'D

    Andra, thanks for sharing this story. Tulisan ini nggak cuma buat ibu-ibu menyusui di luar sana, mau yg seumuran atau jauh lebih tua dari kita karena memang baru dikaruniai, tapi juga untuk saya dan teman2 lain yg belum jadi Ibu (masih hamil, atau lagi pacaran, seru2an, sekedar nanya, atau terbiasa komentar ga jelas tapi kenal deket juga nggak), sama-sama belajar mengerti antar Ibu, belajar nggak asal njeplak soal cara memberi ASI dan hal-hal seputar itu. Aku jadi inget waktu kakak aku nangis2 karena ASInya dikit dan dia Ibu yang kerja kantoran, aku cuma mikir sebatas karena dia ga mau makan banyak sayur dan bayinya sempat kuning juga.


    Andra & all mothers out there, let us support each other. Bayi kecil, bayi besar, bayi normal atau berkebutuhan khusus, yang penting kita selalu berusaha kasih yang terbaik.

    Terima kasih untuk tulisannya yang bermutu, berilmu, dan beresiko bikin mata berkaca-kaca. HUGE HUG from Me & My Big Belly :'D

    ReplyDelete
  26. Hai Andra. Aku sekarang uda masuk 37 minggu nih, harap2 cemas karna ini kehamilan pertama. Iya, persiapan ASI justru lumayan bikin cemas dibandingkan ngebayangin lahirannya nanti seperti apa. Boleh saran ya Ndra, apa kita sudah perlu bawa pompa asi ke rumah sakit pada saat lahiran ya? Saran dari teman dan keluarga deket beragam soalnya, ada yg bilang gak perlu, nanti aja klo memang ASI nya uda melimpah ruah, kalau awal2 cukup langsung aja di susuin sama Ibunya, tapi ada juga yang nyaranin uda disiapin dari sebelum lahiran. Cukup bikin galau heheheh

    ReplyDelete
  27. Semangat ya Mama Alo!
    Jadi keinget anak pertama yg sukses bingung puting.. Dan godaan yg terberat sbnernya malah justru datang dari kelg sendiri.. Duh sedihnya klo keinget gagal asi ekslusif anak pertama..
    Sekarang sudah bertekad bulat mau memerangi bingung puting utk anak kedua.. Dan hasilnya amazing bgt.. Bonding yg luar biasa.. Subhanallah..
    Oya puting lecet bisa diatasi dengan mengoleskan asi kita ke puting sebelum dan sesudah menyusui.. Tp klo sampe berdarah aku kasih nipple cream..
    Welcome to the Motherhood World ya Mama Alo!

    ReplyDelete
  28. aku sesek nafas bacanya...ikutan emosi hehehehe.... semangat mb alodita...

    ReplyDelete
  29. halo mbak andraa.. baca ini kayak flashback 2 tahun lalu saat saya melahirkan aqilah, saya yang "niat" dan siap hamil ternyata ga belum siap ngurus bayi, saya baby blues 2 minggu krn 2 minggu itu aqilah kuning krn AOB. 3 malam saya berpisah sama aqilah krn harus disinar.. seharian di RS hermina galaxy untuk berjaga menyusui aqilah secara langsung dan perah asi.. kalo inget sedih banget rasanya...

    tapi alhamdulillah semua udah lewat, saya yg kerja berhasil ngASI aqilah sampai 2 tahun, kejar tayang dan aqilah minum asip pake sendok dari bayi.. dan proses nyapihnya pun dimudahkan.

    Ayo mbak andra semangaat ya, saya bisa apalagi mbak andra, semangaaat nenen... sun sayang untuk suri =)

    ReplyDelete
  30. halo mbak andraa.. baca ini kayak flashback 2 tahun lalu saat saya melahirkan aqilah, saya yang "niat" dan siap hamil ternyata ga belum siap ngurus bayi, saya baby blues 2 minggu krn 2 minggu itu aqilah kuning krn AOB. 3 malam saya berpisah sama aqilah krn harus disinar.. seharian di RS hermina galaxy untuk berjaga menyusui aqilah secara langsung dan perah asi.. kalo inget sedih banget rasanya...

    tapi alhamdulillah semua udah lewat, saya yg kerja berhasil ngASI aqilah sampai 2 tahun, kejar tayang dan aqilah minum asip pake sendok dari bayi.. dan proses nyapihnya pun dimudahkan.

    Ayo mbak andra semangaat ya, saya bisa apalagi mbak andra, semangaaat nenen... sun sayang untuk suri =)

    ReplyDelete
  31. Dear Mama Alo!
    Aku pernah ngalamin di anak pertamaku.. Sukses bingung puting.. Dan yang lebih menyedihkan, kadang godaan justru datang dari kelg sendiri.. Hikz..
    Tp skrng di anak kedua, udah bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yg sama.. Alhamdulillah sukses S1 asi eksklusif, dan bonusnya bonding yg luar biasa antara ibu dan anak.. Subhanallah..
    Oya, utk puting yg lecet di awal2 menyusui bisa diatasi dgn mengoleskan asi pada puting sebelum dan sesudah menyusui. Ini aman utk si bayi.
    Semangat utk para ibu baru ya! Perjuangan utk anak2 tercinta kita masih panjang, and everyday is learning day!
    Welcome to the motherhood, Mama Alo!

    ReplyDelete
  32. halo kak andra, anak saya seumuran dgn aura.

    sama sperti keputusan kak andra dan suami, sy dn suami jg ingin memberikan asi eksklusif namun setelah1 bln stelahnya saat suami sy sdg dinas luar negri sy "dipengaruhi" mertua yg slalu melihat anak sy cranky utk d beri sufor dgn alasan dada sy kecil tdk mgkn cukup asi .

    krn tidak tahan dgn tekanan mertua dan melihat anak yg cranky trs akhrnya sy putuskan memberikan sufor, sbnrnya suami menolak dgn tegas pemberian sufor dan percaya asi saya cukup.

    sambilan diberi sufor sy pun melancarkan asi sy kembali dgn mnm pelancar asi,vangun tiap malam untuk sering memompa stlh menyusui bayi, makan yg super banyak dan terus dirangsang bayi sy walaupun dy ngamuk saat menyusui dan tdk lupa berdoa agar asi dicukupkan.

    sekarang anak sy sudah lepas dr sufor. sy pun menunjukkan kepada mertua dan mama sy waLaupun dada kecil jg cukup asi untuk anak sy. skrg mereka sama2 mendukung sy untuk memberikan asi walaupun sdh tdk lg ekslusif.

    sy mengerti sekali perjuangan memberikan asi sgt berat dan kagum pada pejuang2 asi lainnya. but its worth.

    ReplyDelete
  33. Dear mbak Andra,

    Your story were look alike with mine. Anakku lahir di minggu ke 35, which is quite shocking me and my husband. Prematur donk, trus gmn ini,gmn itu..stress awalnya,bingung,kaget krn semuanya kecepetan. Untung udah baca2 soal nyusuin dan ikutan kelas laktasi bbrp pertemuan. Tetep aja masih bego. Hihii..

    Dan bener aja, dramanya bukan main. Mulai dr lahir di usia prematur, tp alhamdulillah BB udah 2,6kg, trus dilanjutkan dgn bilirubin tinggi yg membuat nambah stay di RS utk disinar trus drama tongue tie yg bikin susah nyusu dan bawaannya si baby rewel. Selama stay di RS,akhirnya rajin pumping dan bpikir positif bahwa ASI akan meningkatkan bilirubinnya. It works.

    Drama lahir prematur bikin deg2an, ya yg utama adalah soal kemampuan kita sbg ibu utk nyusuin. Bayiku, Rafie didiagnosa tongue tie sehingga pelekatan nyusu gak sempurna. Sama kayak mbak Andra, aku juga lgsg lemes, galau, kecewa dll. Lgsg lah browsing dan tanya kanan kiri, apakah harus dioperasi jg anak sekecil ini. Fyi bulan pertama BBnya susut jd 2,3kg. Sediih bgt tapi aku tetep optimis karena entah gmn Allah SWT ngasih ASI yg banyak yg cukup utk disimpan sbg ASIP. Soal tongue tie, emang perlu cari second opinion jd gak lgsg gt aja terima diagnosa DSA. Aku jalanin cara nyusu dgn pake selang,cup feeder dan sendok. Oallala..repotnya bukan main tp kita harus happy demi ASIX. Aku sempet konsul ke dokter senior laktasi di Carolus,and she didnt suggest any surgery for tongue tie. Ini cuma masalah kesabaran aja utk adaptasi menyusui antara ibu dan anak. Alhamdulillah berhasil. Ngurusin bayi sendiri tanpa bantuan suster,cuman dibantu Ibuku. Nikmatnya ya ketika usaha maksimal kita berhasil.

    Setelah konsul itu, makin sabar utk nyusuin segala cara, cup feeder lah, sendok lah. Akhirnya BB Rafie naik 1,7kg ttiap bulan dan mencapai BB maksimal di usia 6bln .alhamdulillah I have passed those 6mo ups downs. ASIX it is. Aku mgkn gak ngerasain puting lecet, tp I can feel you. Soalnya setelah gigi si anak bayi tumbuh, drama puting lecet baru aku alamin.

    Rafie skrg sudah 14bulan dan alhamdulillah masih anak ASI. I was truly blessed having this being a mother experience since I've waiting for a year and half. Semangat menyusui ya Mbak Andra..it is truly worth having ������

    ReplyDelete
  34. Ngerasain juga perasaan harus pisah dengan anakku karena harus di sinar..
    Sempet drama nangis segukan sama suami karena ngerasa gagal jadi ibu karena gak bisa nyusuin yang benar..
    Untungnya suamiku orang yang tenang & bisa nenangin aku saat itu..

    Ahh, memang bener kata orang perjuangan baru dimulai setelah melahirkan, drama di 2 minggu pertama, sama banget!!

    Semangat mama alo !!!

    ReplyDelete
  35. Andra, I love every story that you write down here, saya ibu bekerja, proses yg Andra alami kurang lebih sama dgn saya, tp saya kalah dgn sempat memberikan susu formula smp sy ktmu dr Laktasi di RS Puri Indah, tp pd akhirnya debgan kegigihan dan usaha keras, sy berhasil menyusui anak sy selama 12 bln walau ada 1-2 kaleng susu formula jika bangun malam, I'm proud sy bisa go through walau sy seorang working mom, bekerja penuh target di bank dan dgn segala kesibukan sy msh diberi kesempatan utk membekali anak saya 90% ASI

    ReplyDelete
  36. Mbak Alo aku serasa senasib sama mbak, sebulan pertama sehabis lahiran nightmare banget bagi aku n salah satu dokter laktasi vonis anakku tongue tie n disuruh insisi, aku gak mau n cari opini lain akhirnya ke salah satu dsa rekomendasi temen kantor akhirnya anakku gak perlu insisi. Sekarang usianya 6 bulan dan alhamdulillah masih asi.
    Semangat mbak alo :)

    ReplyDelete
  37. it's easier said than done, bener banget mba
    walaupun aku sebagai Suami
    stress ku cuma setengah dari istriku
    gak kebayang sebagai Ibu

    hilang semua yg pernah dipelajari
    cuma butuh guidance dan support


    mau sharing pengalamanku juga disini
    http://audityanugraha.tumblr.com/post/116891951054/im-a-father-now-a-breastfeeding-father

    ReplyDelete
  38. Senangnya baca blog ini mbaak(Ada teman untuk berbagi rasanya jauh lebih plong,dibanding curhat sama suami sendiri hihi)... Dulu waktu anak pertama, saya nyerah soal asi ekslusif, Karena anaknya ga mau sama sekali dikasih puting (ditambah putingku datar, ud bolak balik ditarik pake suntikan puting ga mempan) ditambah lagi,lidah anakku katanya pendek. Lengkap sudah putus asa.Karena ga tega liat tangisannya yang kayanya laper berat waktu 1 jam setelah lahiran (ilmu masih cetek baru tahu bayi lahir bisa tahan lapar sampai 2 atau 3 hari,dokter am suster nya ga ad yg info).alhasil lah jadi anak sufor. Anak yg kedua...aku pikir bakal sama apalagi kekurangannya kan ada di aku (puting datar), tapi ternyata salah, anak yg kedua lebih mau usaha.aku juga ngerasain drama anak harus disinar karena bilirubinnya tinggi 22an. Dan aku juga ngalamin puting lecet.sampai sibuk googling cara ngatasinnya (Dari mulai pake minyak,mentega,obat yg warna biru sampai semua underware dan bajuku jadi biru) sampai dilema kalau tau waktunya menyusui detik2 mulut bayi mau ngarah ke puting rasa perihnya seakan udah berasa. Tapi hari hari perjuangan menyusui sudah terlewati sekarang mau posisi apapun udah oke... Hihi..sehat selalu ya Mbak buat aura dan bundanya..

    ReplyDelete
  39. selalu selalu dan selalu menginspirasi sekali, sama banget dengan pengalaman saya mba, banyak mmbaca literatur dan sebelum melahirkan merasa sudah menguasai semuanya, ternyata buyar semuaaaaaa, ditambah keluarga dr samping yang tidak mendukung ASI ekslusif krna faktor kasian bayinya menangis terus, rasanya sediih bangeet,seakan akan ga becus jadi seoarang ibu baru,trnyata semua ibu baru dimanapun dan negara manapun punya pengalaman yang sama yaa, di bayar tunai ketika anak kita sehat,lincah, hehe,, sehat selalu baby aura dan mba aloditaa

    ReplyDelete
  40. Peluk yayooooo ��������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rejeki sama pahala lo banyak banget pasti, selalu nolongin gue setiap gue lagi kesusahan dari dulu sampai detik ini :*

      Thanks Wynda for your endless support x

      Delete
  41. Hai Alo,hebat banget perjuangannya dan gak mudah menyerah meski banyak serangan ya 😊
    Mau sharing juga,aku lahiran sc dan di awal kelahirannya eiffel (babyku) juga banyak tidur jarang nenen. Pas pulang ke rumah kuning tapi masih oke belum perlu disinar.
    Pas kontrol seminggu kemudian malah makin kuning and diambil darah dan harua di fototerapi.
    Hatiku hancur liat bayi kecil harus ditutup mata n disinar ga pake baju. Akhirnya pompa asi n kasih pake botol. Beruntung, eiffel ga bingung puting dan besoknya boleh pulang.
    Ternyata drama belum berakhir, lecet maksimal puting bikin aku tegang n takut tiap nyusuin selama 2 bulan di awal2 menyusui. Alhamdulillah memasuki bulan ketiga kami sama2 nyaman menyusui.

    Betul kata alo, pada akhirnya semua yang sudah dilewati itu memang layak diperjuangkan.
    Sekarang eiffel sudah 22 bulan dan masih semangat nenen (pe-er yaaa nanti nyapihnya 😂)

    Thank u for sharing Alo 😊

    ReplyDelete
  42. Hai Alo,hebat banget perjuangannya dan gak mudah menyerah meski banyak serangan ya 😊
    Mau sharing juga yaa,aku lahiran sc dan di awal kelahirannya, eiffel (babyku) juga banyak tidur jarang nenen. Pas pulang ke rumah agak kuning tapi masih oke belum perlu disinar.
    Pas kontrol seminggu kemudian malah makin kuning, diminta ambil darah dengan hasil bilirubin wajib fototerapi.
    Hatiku hancur liat bayi kecil harus ditutup mata n disinar ga pake baju. Akhirnya pompa asi n kasih pake botol. Beruntung, eiffel ga bingung puting dan besoknya boleh pulang.
    Ternyata drama belum berakhir, lecet maksimal puting bikin aku tegang n takut tiap nyusuin selama 2 bulan di awal2 menyusui. Alhamdulillah memasuki bulan ketiga kami sama2 nyaman menyusui.

    Betul kata alo, pada akhirnya semua yang sudah dilewati untuk proses menyusui itu memang layak diperjuangkan.
    Sekarang eiffel sudah 22 bulan dan masih semangat nenen (pe-er yaaa nanti nyapihnya :))))

    Thank u for sharing ya Alo :)

    ReplyDelete
  43. Hi, Alo! A really nice story you have here. Seneng akhirnya semua berbuah manis ya. Aura super sehat & super montok juga :D

    Btw, dulu aku juga lahiran di RS.PIK dan kayanya DSA kita sama deh. Aku jg waktu itu mau full ASI, dikata2in sama dia. Ngga encouraging sama sekali. Buntut2nya jualan formula. Kesel bgt ih! Mana lagi pusing anakku beratnya susah naik, malah disemprot sama mulut judes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah hahahaha ada beberapa orang yang email aku juga mengeluhkan hal yang sama. Si DSA itu bener-bener jualan Sufor yah kayaknya :D

      Anyway setiap ibu kan beda-beda ya, ada juga yang dari awal ngga mau kasih ASI, maunya sufor aja. Gak masalah sih kalau emang pasiennya mau kasih sufor.. Tapi yang bikin keselnya si DSA itu ngomongnya ketus banget. Benar-benar gak mencerminkan profesinya ya hahahaha :D

      Delete
  44. Haaay ka aku juga mengalami hal yang sama bedanya Anak ku prematur dengan berat badan saat lahir hanya 1710gr kami harus terpisah ruangan selama 1 bulan 4 hari , saya hanya dirawat 2 hari 1 malam saja . Setiap hari setiap 4 jam saya mengantar ASIP (pada saat itu anak saya baru bisa minum 18ml x 8 . Jadi saya hanya mengantar ASIP 4 jam itu pun masih sangat banyak sisanya karna blm bisa terminum semuanya ������
    Setelah kami tabah menerima semuanya bayi saya pum diperbolehkan pulang padahal beratnya masih 1950gr , tapi kami bertekad mampu dan bisa membuat anak kami gempal sehat dan ceria dengan cara kumpul bersama di satu tempat ��
    Dan Alhamdulillah saat ini anak saya usianya 4 bulan 2 minggu mempunyai berat badan 7250gr ������

    Tenang ibu ibu terutama ibu muda kita harus berfikir baik jauhin pikiran tentang sufor , karna yang dibutuhkan bayi 0-6 bulan hanya ASI ASI ASI , Kasih Sayang , pelukan hangat di tiap tidurnya ��

    ReplyDelete
  45. Haaaay aku juga ngalamin hal yang sama terlebih lagi anakku lahir prematur dengan berat 1720gr dan kami harus terpisah ruang dari setelah bayi saya lahir sampai 1 bulan 4 hari 😢
    Setiap mau nyusuin harus ASIP karna banyak kabel terpasang di badan anak saya , dia minum ASI dengan bantuan NGT karna berat badannya yg kecil blm punya tenaga untuk menghisap sekalipun lewat botol . Sedih piluh sakit ngeliatnya tapi semua demi kebaikannya .
    Setiap hari tak pernah terlewat untuk menengok bayi mungil saya di RS , Alhamdulillah saya dapat DSA baik mensuport ASI ekslusif , saya semakin optimis .
    Setelah bayi saya 1 bulam 4 hari di RS bayi saya diijinkan pulang karna keadaannya sudah stbil walaupun beratnya masih 1950gr , tiap 2 minggu kami kontrol naik berat badan sedikit2 tapi kami senaaang karna sudah pintar nyusunya tanpa bantuan botol .
    Hingga akhirnya di usia koreksinya 2 bulan 3 minggu (koreksi : dihitung dari HPL sampai hari ini ) beratnya sudah 7200gr , btw Usia kronologis dari dia lahir 4bulan 2 minggu yah sama seperti aura .. Harus semangat yah ibu ibu , percaya kalau Allah sudah siapin Sumir ASI di setiap PD perempuan 😊💗

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo mba mo tanya, sumir asi itu apa yah ? tnx

      Delete
  46. Hai alo...

    Sama banget masalah menyusui dan puting lecet. Masalah jaitan bekas csect aku bisa ga nangis, tapi ga tahan pas nyusuin karena puting lecet. Anakku juga susah nyusuin pas pertama kali krn payudaraku yang besar, tapi putingku kecil. Tapi alhamdulillahnya suster di RS tempat aku melahirkan terus semangatin aku, ngajarin aku gimana cara nyusuin ke anakku. Memang agak susah setelah pulang dari RS karena ga di bantu suster. Tapi aku coba terus dan alhamdulillah lama2 bisa sendiri. :). And you know what, setelah anakku 5bln baru aku tau dr salah satu DSA anakku kalo ternyata anakku tongue tied (aku emank gantiganti DSA terus hihihi). Makanya aku bersyukur banget dikasih suster yang sungguh baik mau ngajarin aku dan dokter yang ga ngejudge dari pertama kalo anakku tongue tied. Bener banget kalo kita harus selalu cari opini2 lain yang at least bikin kita tenang sebagai baru. Happy breastfeeding Alo. Semoga ASI nya terus banyak yaaa... :)

    ReplyDelete
  47. Hai alo...

    Sama banget masalah menyusui dan puting lecet. Masalah jaitan bekas csect aku bisa ga nangis, tapi ga tahan pas nyusuin karena puting lecet. Anakku juga susah nyusuin pas pertama kali krn payudaraku yang besar, tapi putingku kecil. Tapi alhamdulillahnya suster di RS tempat aku melahirkan terus semangatin aku, ngajarin aku gimana cara nyusuin ke anakku. Memang agak susah setelah pulang dari RS karena ga di bantu suster. Tapi aku coba terus dan alhamdulillah lama2 bisa sendiri. :). And you know what, setelah anakku 5bln baru aku tau dr salah satu DSA anakku kalo ternyata anakku tongue tied (aku emank gantiganti DSA terus hihihi). Makanya aku bersyukur banget dikasih suster yang sungguh baik mau ngajarin aku dan dokter yang ga ngejudge dari pertama kalo anakku tongue tied. Bener banget kalo kita harus selalu cari opini2 lain yang at least bikin kita tenang sebagai baru. Happy breastfeeding Alo. Semoga ASI nya terus banyak yaaa... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mba mau tanya, anakmu kan tongue tie lalu berat badannya normal atau kurang ? wah hebat baru ketauan saat 5bln. krn anakku br seminggu kontrol k laktasi n di diagnosa tonguetie n hrs di insisi, sedih bgt smg g knp2 smpe besar nanti.

      Delete
  48. Hi andra, buat ak menyusui itu lbh berat daripada hamil sampe proses melahirkan lho.. Duhh dramanya kurang lebih sama deh, penuh tangisan, stress, sakit, dll.. Dan waktu anak kedua (umurnya cm beda bbrp minggu sama aura) aku ngerasa udah lebih pede, lebih siap utk menyusui, ternyata kejadian drama anak pertama keulang lg di bulan pertama, aku sampe ketawa sambil nangis. Kaya mikir "really, again?? I have to get through this again?" Pengaruh baby blues jg kali ya, hahaha.. Anw intinya menyusui itu sulit, ga bisa digampangin walaupun ngerasa udah pernah, tapi at the end everything is soo worth it..

    ReplyDelete
  49. Hai alodita..

    aku jadi nostalgia waktu bayiku masih newborn trus ASI ku ga langsung keluar hingga DSA di RS anakku lahir langsung mendoktrin, "ini kalau dalam 24 jam dia ga minum ASI, saya bisa minta suster resepkan sufor." :(( aku akhirnya dapat donor ASI jadi bayiku bisa pulang, cuma setelah seminggu di rumahdan beratnya turun banyak (dari 2,9kg ke 2,5kg) dan bilirubinnya sampai 19,5 hingga akhirnya dia disinar dua lampu.. sedihnya ga ketulungan..

    hingga akhirnya saat dia kontrol saat umurnya sebulan, bayiku beratnya naik tapi ga banyak.. kemungkinan karena pelekatan saat dia menyusu blm pas dan aku sebagai ibu baru juga belum mahir menyusui (hanya bisa sambil duduk).. akhirnya setelah pindah DSA lagi ke Dr. Fransisca Handy, SpA, IBCLC, ICBLE, dia mendengarkan keluhanku dan tidak men-judge bahwa bayiku tongue tie atau apapun itu namanya.. dia menyemangati aku untuk terus menyusui bayiku, "Obatnya cuma ASI bu," katanya. Setelah itu aku menyusui bayiku sekaligus menyelinginya dengan memberikan ASIP dari dot (Alhamdulillah dia tidak bingung puting). Lalu perlahan tapi pasti berat badannya bertambah dan dia makin montok saat usia 4-5 bulan.

    tetap semangat ya alodita..

    ReplyDelete
  50. Hi mb aloo�� Mau tnya skrg aura susu slain breastfeeding pake botol ga?
    Ankku blkgan kurang mau pake botol, lbh suka langsung, gmn cara ngatasinnya ya? Apa hrs pake cupfeeder jg? Thx u mb☺️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aura cuma bisa menyusu langsung, aku sengaja gak kasih botol/cup feeder lagi soalnya Aura ngamuk-ngamuk. Dan ada beberapa alasan yang sangat personal kenapa aku bela-belain menyusui langsung, jadi kemana-mana aku bawa aja deh anaknya :)

      Delete
  51. Salut luar biasa dengan Andra. Memang worth it banget ngasi ASI ke anak - irreplacable bonding time :)

    ReplyDelete
  52. Semangat menyusui mamaalo.. Proses menyusui itu memang luar biasa dan menyenangkan.. dan sesuatu yg ngangenin banget ya :-)

    ReplyDelete
  53. Hi andra.. Terharu banget baca perjuangnya.. :)
    Saya mau tanya ada bagian yg menyebutkan bayi kuning biasa nya berangsur hilang 4-6minggu.
    Kemudian ut aura hilang nya brp lama?
    Anak saya dr hari ke 4 kulitnya kuning. Tanya dsa katanya masi normal tidak apa2, banyak menyusui aja. Tapi hingga hari ini hari ke 23, anak saya kulitnya masi terlihat kuning.. Apa memang proses nya begitu lama? Mohon jawaban nya ya..
    Anak saya tetap aktif menyusui sih, 2jam sekalk setelah bak pasti minta asi lagi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak.. Sekedar sharing, anakku kuningnya baru hilang di hari ke 50an kalo nggak salah, yang jelas pas Abi (anakku) mau umur 2bulan, kuningnya baru bener2 hilang. Kalo di kasusku, Abi nggak cocok sama enzin di asi ku. Tapi kata dokter gpp, terusin asinya. Karena kalau diliat fisik dan Bak & Bab nya lancar. Oia, sempet cek darah jg Abi, di usia ke 35 diambil darah untuk tau apa yang bikin kuningnya blm hilang. Setelah keluar hasilnya semua bagus. Bilirubin Abi 7. Pas hari ke 4, bilirubin Abi 21 mbak, tinggi banget, jadi disinar 3x24jam. Hari ke 10 keluar dari Rs dengan bilirubin 12.
      Yang aku lakuin, aku jemur Abi tiap pagi selama kurang lebih 15-30menit. Dan aku gencarin asi nya. Karena makin sering asi, makin sering bak dan bab, kuningnya ilang sendiri dari situ mbak.
      Semangat asi nya ya mbak.. (Maaf ya mbak Alo, aku ikut komen disini ;) )

      Delete
  54. Hallo Alo,
    Udah lama gak mampir ke sini. Dan baru baca cerita ini. Kemaren lihat Aura di Le Meridien, gemes banget. Lucu banget. Emang masa-masa menyusui itu paling berwarna ya. Akupun juga ngerasain gitu. Apalagi pas anak pertama. Hidih.. Malah gak di dukung sama sekali untuk ngasih ASI sama keluarga. Untungnya akhirnya suami ngerti dan bantuin. Kalo enggak, gak tau deh harus gimana lagi. Anak pertamaku kurus dan langsing pula. Makin di hujat deh jadinya. Padahal makin besar, emang ternyata perawakannya begitu. Padahal makan banyak banget.

    Oh iya, kalau nipple lecet, cara yang paling gampang dan terbukti ampuh itu sebetulnya gak di kasih nipple cream. Cuma di pencet aja supaya asinya keluar, lalu di olesin di nipplenya. Abis itu angin-anginin biar kering, baru di tutup. Dulu anak pertama sempet pake nipple cream. Tapi aku suka sebel juga karena kadang lengket. Eh sejak tau kalo bisa pake asi, akhirnya pake asi aja. Lebih ringkes, cepet dan mujarab. :)

    ReplyDelete
  55. Hai mbak hapsari.. Tengkiu banget ya info nya. Buat agak tenangan jadi nya. Hehe.. Ini beberapa hari jg perhatiin anak kayaknya kuning dimuka mulai kurang dikit2.. Smoga cepat hilang d.
    Anak ku baru mulai jemur di minggu ke 2 karna disni kabut asap.. :(

    ReplyDelete
  56. Hi Alo..
    Seru banget kisah nya, aku baru baca story nya jadi reminding perjalanan breastfeeding ku waktu itu.
    Sama seperti Aura, anakku juga baru pintar menyusui setelah usia 2 mingguan. Sempat stress banget karena lingkungan ku gak sepenuhnya mendukung ASI Eksklusif, even pak Suami pun terkadang malah ikut2an kasih saran pake supaya anakku pake Sufor. Tapi aku tetap berkeras, aku bisa kasih yang terbaik untuk anakku, walopun hanya sampe 5 bulan aja dia dapet ASI Ekslusif (ada rasa sedih dan perasaan bersalah karena gak berhasil memberikan ASI eksklusif di 6 bulan pertama kehidupannya) dan selebihnya sampai sekarang (sudah umur 7 bulan), sudah di bantu MPASI dan Sufor.

    Aku juga baru pertama ini lahiran, setelah menunggu hampir 4 tahun setelah menikah. Dan sama persis kondisi nya seperti Aura, saat dikandungan dia nyaman sekali dengan posisi melintang dan kondisi leher kelilit tali pusar. Jadi Obygin ku menyarankan untuk tindakan C-Section.
    Dan ada ketakutan sebagai new mommy karena bilirubinnya meningkat saat bayi usia 10 hari, tapi Puji Tuhan, kami masih boleh pulang ke rumah bersama. Saat itu DSA bilang kalau masih tahap normal (karena bayi ku hanya minum ASI).


    Semangat terus ya Alo dan baby Aura...
    Keep rockin' and enjoying the momyhood. ^____^

    ReplyDelete
  57. Mbaa i love your story. HPL ku bulan depan dan sejak masuk trimester ke 3 ada rasa waswas soal kemampuan menyusui ini. Sama persis kaya cerita mba, takut asi ga keluar, susah keluar ataupun hapangan lainnya. Baca cerita mba jd ga merasa sendirian. Semangat terus mba, doakan ya persalinan dan menyusui ga ada halangan yg besar. Saya doain juga buat semua ibu dan calon ibu di luar sana biar segalanya dimudahkan.. buat mba penulis, keep inspiring others :)

    ReplyDelete
  58. baca semua cerita alodita sungguh bagus, sangat layak disebut penulis hebat dengan bahasa penulisan sopan enak sekali dibaca, maju terus ya....


    salam hangat,
    http://www.yukhamilsehat.blogspot.com
    (tempat berbagi untuk informasi kehamilan yang sehat)

    ReplyDelete
  59. Ahhh samaaaa.... 1bln pertama drama baby blues jg melandaku. Tetep semangat ya.

    ReplyDelete
  60. Hi, Mba Andra,

    Saya baru membaca artikel ini, biasanya lihat IG Mba saja, saya pikir perjalanan setelah Aura lahir segalanya lancar2 saja, ternyata challenging juga! Dan pengalaman menyusui yg Mba hadapi hampir sama seperti saya, minus diagnosa tongue tie.

    Bulan pertama adalah masa yg paling challenging. Pertama kali jadi ibu, pertama kali menyusui, bisik kanan kiri agar anak dikasih sufor (bahkan dari dokter dan suster). Syukur tantangan2 tsb sudah dilewati, dan hanya bisa mengelus dada mengingat kenangan2 kemarin. Anak saya sudah 12 bulan sekarang, syukur sehat kuat, saya menyusui langsung hingga birthday pertamanya.

    Mudah2an banget para dokter dan suster dan ahli2 kedokteran lainnya bisa lebih meningkatkan cara dan kualitas pelayanannya kepada pasien. Hanya di Indonesia yang saya selalu was-was setiap ke dokter, pasti selalu dapat kejutan2 menarik. Hehehe...

    ReplyDelete
  61. Hai Mbak Andra,

    Lg baca2 blog mbak eh baca soal ini. Your journey same like me mbak,sama pula 3 minggu pertama struggling mati2an menyusui, kayaknya setiap menyusui itu pake drama. Nangis kesakitan, takut nyusuin krn sakit ampun2an tapi tetep ngotot harus bisa nyusuin langsung krn ibu2 lain bisa masa aku ngga bisa (hehehe). Dan stlh googling dan konsul alhamdulillah stlh 3 minggu itu akhirnya bs menyusui dengan lancar 😊

    Sama juga kok, wkt anakku pulang habis disinar semuaaaaa suster dan ibu2 yg lihat mempertanyakan kok ga pake topi? Kok ga dibedong? Kok ga bawa selimut? Hehe tp akhirbya malah jd belajar utk jd ibu yg "waras" emg better dengerin diri sendiri dan suami aja 😊

    Semangat menyusui mbak, salam utk Aura ❤

    ReplyDelete