Tuesday, February 10, 2015

6 THINGS TO DISCUSS BEFORE GETTING MARRIED

 photo IMG_1392_zpszz20oiwe.jpg
Pesta pernikahan tentunya menyita banyak waktu dan pikiran para pasangan yang ingin segera mewujudkan hari impian mereka. Sayangnya, terkadang karena terlalu fokus dengan persiapan hari pernikahan, tidak sedikit pasangan yang lupa mendiskusikan beberapa hal penting sebelum resmi menjadi pasangan suami-istri. Walaupun terkadang banyak pasangan yang mengaku sudah mendiskusikan hal-hal penting dalam pernikahan tetap saja banyak sekali yang belum siap mental menghadapi realita pernikahan yang sesungguhnya.

Dari pengalaman saya, gak sedikit loh, teman-teman saya yang baru menikah satu minggu sudah mengeluh tentang hal-hal yang tidak disukai dari suaminya atau keluarga besar sang suami. Lebih fatalnya lagi, hal yang diributkan biasanya karena tidak ada komunikasi mendalam sebelum menikah.

Saya termasuk orang yang sangat beruntung, karena ibu mertua saya adalah seorang marriage counselor. Enam bulan sebelum saya dan suami menikah, kami berdua sudah dibekali oleh nasihat dan bimbingan tentang pernikahan. Bukan hanya soal, nanti kalau sudah nikah, beda loh sama pacaran – tapi lebih kepada apa saja yang harus didiskusikan oleh kedua pihak sebelum sama-sama dipersatukan lewat pernikahan.

Berikut apa saja yang perlu didiskusikan terlebih dahulu sebelum menikah:

1. AGAMA
Percaya atau tidak, agama adalah hal yang sangat penting dalam pernikahan. Berbeda agama atau pun sama, sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu dengan pasanganmu sebelum menikah karena masing-masing datang dari latar belakang yang berbeda. Bagaimana Anda akan merayakan hari besar keagamaan atau bagaimana cara mengatur perbedaan agama dalam rumah tangga. Saya dan suami memang satu kepercayaan, tapi dari awal menikah saya sudah bilang bahwa keluarga dan teman dekat saya mayoritas yang merayakan Natal dan Imlek. Hal-hal seperti ini penting untuk saya karena saya sangat menghormati tradisi dan kepercayaan keluarga besar saya, untungnya suami tidak ada masalah dengan hal seperti ini. Setiap tahun di kala Lebaran, saya dan suami juga selalu memberi kebebasan masing-masing untuk memilih lokasi Shalat Ied. Dengan cara seperti ini, tentunya kami jadi lebih saling menghormati dan menghargai.

 photo andra-abenk-wedd28_zps7b72d5ff.jpg
Setiap tahun saya dan suami merayakan Lebaran, Natal dan Imlek bersama.

2. WAKTU DAN PRIORITAS
Bagaimana pembagian waktu setelah menikah nanti untuk diri sendiri, pasangan, keluarga, teman, dll? Apa prioritas pasanganmu? Apakah itu karier, keluarga, anak atau hal lainnya? Sangat baik jika hal ini didiskusikan terlebih dahulu, mengingat banyak sekali kasus-kasus seperti kurangnya quality time atau perbedaan prioritas dalam rumah tangga.

Tentunya cara mengelola waktu dan prioritas sebelum menikah dan sesudah menikah sangat berbeda, ada baiknya jika kedua belah pihak mempunyai persamaan prioritas dan pembagian waktu. Saya dan suami sepakat dari awal menikah untuk selalu meluangkan waktu dengan keluarga minimal 1x dalam seminggu. Bahkan jika hari libur atau liburan panjang, kami sengaja menginap di rumah orang tua secara bergantian supaya bisa mengobati rindu kami dengan orang tua. Sedangkan soal prioritas, kami sangat beruntung karena dari sebelum menikah, kami mempunyai prioritas yang sama dan sejalan. Hal mengenai prioritas juga selalu kami didiskusikan seiring berjalannya waktu. Dengan menentukan kesepakatan untuk prioritas bersama atau prioritas masing-masing, kami saling merasa nyaman dan tidak terbebani dengan prioritas kami.

3. FINANCIAL
Di jaman modern seperti sekarang, banyak sekali pasangan-pasangan yang harus bekerja karena kebutuhan rumah tangga hingga tuntutan lifestyle pun semakin banyak. Tidak heran kalau pasangan suami-istri harus bekerjasama untuk mengatur keuangan rumah tangga. Tidak bisa dipungkiri bahwa urusan finansial adalah salah satu urusan yang paling sensitif dalam pernikahan. Ada baiknya sebelum menikah, kedua belah pihak sama-sama terbuka dalam mendiskusikan hal ini. Apakah nanti tabungan suami dan istri akan digabung? Apakah nanti semua penghasilan suami masuk ke rekening istri? Siapa yang akan mengelola keuangan dalam rumah tangga? Jika jenjang karier dan penghasilan istri lebih tinggi, maukah istri berbagi penghasilan dengan suami atau bahkah menafkahi suami jika suami sedang tidak punya pekerjaan? Berapa banyak uang yang akan ditabung setiap bulannya?

Satu hal yang perlu diingat, jika suami dan istri sudah dipersatukan oleh pernikahan tentunya rejeki yang didapat oleh masing-masing merupakan rejeki pasangan. Siapapun yang lebih besar penghasilannya, harus menanggap itu rejeki pasangan – bukan hanya rejeki masing-masing lagi. Hal ini sangat penting untuk diingat karena saya hidup di lingkungan para freelancer, dimana setiap bulan income yang masuk tidak selalu stabil. Kuncinya adalah komunikasi secara berkala tentang keadaan finansial rumah tangga dan cari solusi bersama untuk mengatur keuangan. Carilah waktu yang tepat dan nyaman untuk membicarakan soal finansial, karena jika tidak dibicarakan, justru akan bertambah rumit di kemudian hari.

Saya sendiri memakai cara joint bank account untuk membayar semua tagihan bulanan, shopping, investasi dan tabungan masa depan. Tapi untuk hobby atau traveling, kami pisah rekening karena kami punya hobi yang berbeda.

Read more: What My Dad Taught Me About Money

4. RENCANA JANGKA PANJANG
Tanyakan kepada pasanganmu, how do you see yourself in 5 years or 10 years? Lewat pertanyaan ini, Anda bisa mengetahui rencana dan mimpi pasangan Anda, dan juga bisa mendiskusikan bagaimana cara mencapainya. Dengan mengetahui rencana jangka panjang pasangan Anda, tentunya Anda bisa mem-supportnya untuk mewujudkan rencana-rencana tersebut. Dan begitu juga sebaliknya. Tentu saja, pasti ada rencana-rencana yang mungkin tidak sejalan dengan Anda – but it’s okay to disagree.

Waktu yang paling tepat untuk mendiskusikan rencana jangka panjang dengan pasangan saya biasanya setelah pergantian tahun baru dan kami selalu meluangkan waktu seperti ini sejak berpacaran. Kami meluangkan waktu untuk berdiskusi berdua, sambil mengeluarkan catatan-catatan mengenai rencana kami untuk tahun-tahun ke depan. Tujuan kami membahas rencana jangka panjang adalah saling membantu satu sama lain untuk mewujudkan rencana tersebut, sekaligus berdiskusi apakah rencana tersebut bisa tercapai dengan segala kemampuan dan keadaan kami. Memang rencana hanya rencana, Tuhan yang menentukan. Diskusikan hal ini dan cari solusi agar kedua belah pihak mendapatkan solusi yang baik.

5. TEMPAT TINGGAL
Ingin tinggal dimana setelah menikah? Apakah tinggal sendiri atau masih bersama orang tua? Jika tinggal sendiri, bagaimana dengan pengelolaan uang untuk menyicil rumah? Tentunya dengan mempunyai tempat tinggal sendiri, lebih banyak lagi yang harus dipersiapkan dalam hal materi, fisik dan mental. Tapi jika tinggal dengan orang tua/mertua, apakah Anda siap untuk berbagi dengan orang lain? Memang ada baiknya untuk pasangan yang baru menikah untuk langsung ‘lepas’ dari rumah orang tua. Tapi banyak juga yang menikah sampai 5 tahun pun, masih tetap tinggal dengan orang tua. Saya dan suami punya tempat tinggal sendiri, tapi kami sepakat untuk menginap bergantian untuk menemani orang tua kami setiap 2 hari dalam seminggu. Hal ini bagi kami sangat adil, berhubung orang tua kami dari pihak masing-masing sering kesepian. Saat kami menginap, kami bisa membantu orang tua mulai dari menemani ngobrol, beres-beres rumah dan yang paling penting, mengobati rasa kangen dengan orang tua.

 photo photo1_zps4bd3471d.jpg
Demi mendapatkan buah hati, saya dan suami rela mengorbankan banyak hal termasuk karier saya sebagai fotografer. Kami juga sepakat untuk membuang ego masing-masing demi mendapatkan keturunan. Baca cerita lengkapnya disini.

6. ANAK
Masalah anak bukanlah hal yang harus dibicarakan ‘nanti-nanti’ atau setelah menikah, tapi justru sebelum menikah. Wajar saja kok bila kita memikirkan soal anak sebelum menikah. Apakah Anda dan pasangan menginginkan momongan? Kalau iya, ingin punya anak berapa? Hal ini juga berpengaruh ke poin-poin di atas, tentunya dengan punya momongan, semua akan berubah. Mulai dari waktu, finansial, karier sang istri hingga quality time untuk berdua. Tak ada salahnya juga untuk sedikit ‘menunda’ agar pasangan suami-istri juga bisa beradaptasi dengan dunia pernikahan. Soal anak tentunya harus dibicarakan dengan detail, jangan sampai salah satu dari pasangan merasa keberatan karena kehadiran si kecil. Tentunya persamaan prinsip, prioritas dan pembagian tanggung jawab sangat berpengaruh nantinya untuk mengurus dan membesarkan anak.

Kira-kira dari poin-poin di atas, sudahkah Anda mendiskusikannya dengan pasangan? Jika belum, jangan ditunda-tunda ya. Good luck!

Read more: Throwback: Our Wedding Day

This article was also published in The Bride Dept

18 comments:

  1. wah terima kasih artikelnya, mb Andra. sangat membantu sbg referensi sy dgn pasangan sy. sukses selalu :)

    ReplyDelete
  2. Noted Mba. Bermanfaat banget bagi saya yang belum menikah, Makasih banyak, Semoga kehamilannya lancar, Mba Alo dan baby sehat selalu, amiin :)

    ReplyDelete
  3. Kereeeen....
    Pengen bisa chit chat sama mba alo tentang IVF.
    Saya ada rencana untuk IVF tahun ini ^_^
    Doain ya mba, biar bisa hamil jg seperti mba alo ^_^

    ReplyDelete
  4. kak'andra thanks postingannya selalu menginspirasi:*

    sehat selalu kak'andra,, :*

    ReplyDelete
  5. My thought when I read the title was, I may don't get married anytime soon but I need to know this. And My friends who got married recently and still in first year of married.

    Permission to share this Mba Alo??!

    Thanks for the article

    ReplyDelete
  6. baru baca artikel yg ini! :D Terimakasih mbak andra :)

    ReplyDelete
  7. tengkiuuuu ka alo..suka bgt sama artikel ini..

    ReplyDelete
  8. Artikel yg sangat membantu. Dan semua point diatas sedang dalam proses, danke!! :))

    ReplyDelete
  9. Dear Kak Alo,

    Baru hari ini bisa baca artikel ini and to be honest, it made me in tears... Ahhh kak Alo, makin lama makin kenal dengan sosok kak Alo. You are really loving care, warm, low profile and sincere. That is true what you said in this article for 1000 percents. Marriage is about comitment together, for now and future life in order to get a happiness and a success life. Semoga keluarga kak Alo dianugerahi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah ya, aminnn... Ahhh beruntungnya kak Abenk dan dede bayi punya istri dan ibu yang amazing kayak kak Alo, stay healthy and beautiful ya kak Alo cantik :)

    ReplyDelete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. sangant inspiratif. walaupun saya belum mau menikah tetapi postingan ka alo jd membuat mata saya terbuka bahwa point2 di atas sangat penting di diskusikan sebelum menikah bahkan jauh sebelum menikah. lots of love ka alo.... <3

    ReplyDelete
  12. saya sangat menyesal kenapa saya baru baca artikel ini sekarang huhuhu T.T karena saya sudah menikah pada Desember 2014 lalu dan sudah punya satu anak. but overall, i love this article..and tak habis habisnya saya menyesali kenapa saya telat membaca ini..hihi

    ReplyDelete
  13. bagus nih jadi bener2 memperhitungkan segala hal untuk persiapan pernikahan... sekali2 review tentang make up artist jakarta dong.
    www.thebridestudio.com barusan saya ngunjungi situsnya.

    ReplyDelete