Into the Nature

 photo blog-IMG_2253_zpsd2839884.jpg photo Blog-IMG_2256_zps54f19c4e.jpg photo blog-IMG_2261_zps747873ea.jpgDRESS BY WINDA TANTOJO - THANK YOU SO MUCH WINDA FOR BEING SWEET & KIND! 
NECKLACE BY ORIGO
PHOTOS BY ABENK ALTER

ZESPRI® 14-DAYS DAILY SCOOP OF AMAZING CHALLENGE

 photo zespri2_zps79c4f89e.jpgYay, akhirnya selesai juga Zespri 14-Day Daily Scoop of Amazing Challenge - yaitu dengan mengkonsumsi Kiwi selama 14 hari berturut-turut dan merasakan khasiatnya. Mungkin ada yang 'ngeh' kalau aku 2 minggu terakhir ini sering ngepost foto Kiwi di Instagram aku. Aku ikutan challenge ini karena ditawarin oleh pihak Zespri langsung, dan mungkin ini adalah challenge paling gampang seumur hidup karena aku memang suka banget sama Kiwi!

Kiwi merupakan salah satu power food yang selalu masuk ke list aku selain honey-lemon shot adalah Kiwi Zespri. Lagi-lagi aku tau manfaat Kiwi bagi kesehatan itu dari ayah aku (ayahku lebih health concious dari pada aku loh!). Selain itu, di rumah mertua juga hampir selalu ada Kiwi untuk sarapan. My mom-in-law juga selalu mengingatkan untuk makan Kiwi pas breakfast, sebelum mengkonsumsi makanan lain. Jadi total aku udah mengkonsumsi Kiwi sudah hampir setahun, walaupun diselingi dengan buah lain.

MAKE OVER SS'14 "Le Secret Fantaisie"

 photo blog-IMG_2353_zpse4ec4031.jpg 2-3 tahun lalu, aku inget banget waktu pertama kali dengar cerita tentang produk MAKEOVER dari dua orang teman dekatku, aku nyari kemana-mana demi nyobain produk-produknya. Dulu tuh tokonya ada di Pondok Indah Mall 1 dan ada counternya di Matahari Citos jadi aku suka bela-belain ke Citos demi beli produk Makeover hihihi. Sekarang sih enakkkk dimana-mana counternya udah ada :D

Aku udah cobain dari mulai primer, concealer, foundation (beneran deh foundationnya bagus banget untuk sehari-hari – aku sih cocok), two-way cake, eyeshadow, lipgloss, matte lipstick sampai yang aku suka banget adalah loose powdernya – gak beda jauh kualitasnya sama loose powdernya Bobbi Brown!

OH NO! CHANEL CC CREAM

 photo ccc-chanel_zps08df6d41.jpg Aku selalu mikir kalau kulit wajahku cocok dengan segala macam produk. Tapi ternyata kali ini aku SALAHHHH!

Bulan Maret lalu aku berinisiatif membeli produk tanpa tanya-tanya teman atau baca review dulu, yaitu Laura Mercier Oil Free Supreme Foundation yang ternyata ngga ada matte-mattenya pas aku pake, malah mukaku berminyak banget (padahal katanya oil free!). Ternyata setelah aku research, beberapa produk Laura Mercier ternyata memang kurang cocok sama iklim di Asia. Sejak hari itu aku janji sama diri sendiri, ngga akan beli produk ‘ngasal’ tanpa nanya-nanya ke teman-teman makeup artistku.

Nah, kali ini aku beli Chanel CC Cream yang lagi hits banget dan direkomendasikan oleh beberapa makeup artist. Harganya yang cukup pricey bikin aku mikir-mikir pas mau beli, tapi akhirnya beli juga karena penasaran. Kebetulan aku beli di Malaysia jadi harganya lebih murah.

BRAND NEW ME

 photo photo-bfrafter_zps88f9cd00.jpg
Beberapa malam yang lalu, aku dan suami lagi iseng-iseng cari foto lama kami berdua. Gara-garanya, tiap ketemu teman, pasti kami berdua dibilang kurus banget. Nah pas nemu foto di atas (foto tengah), aku kaget sendiri! HAHAHA! Gak nyangka dulu aku chubby banget! Aduh itu lengannya berisi banget!

Sebenarnya sehabis operasi, aku belum berani olahraga lagi - karena olahraga yang aku suka semuanya high impact. Tapi benar-benar ngga nyangka, malah beratku dan badanku makin mengecil! Sempat mikir-mikir apa ini karena lemon? Apa memang benar ya, berat badan itu bisa turun kalau pola makan kita benar?

Jadi, sejak awal tahun 2014 aku memang sudah niat banget mengubah pola makanku dan aktifitasku yang aku sebut dengan "healthy habits". Motivasi awalnya adalah karena ibu aku terkena Lymphoma Cancer, beliau adalah orang keempat dari delapan saudara kandung yang terkena cancer (ibu aku divonis kanker pada Agustus 2013 dan dinyatakan sembuh pada Januari 2014 setelah menjalankan 6x kemoterapi).

Serem kan?

HOW TO BE A GREAT PERSON: HAVE GOOD MANNERS!


Say please and thank you, it will make people feel appreciated.

Never intentionally embarrass another person, because everyone deserves respect.

Never talk only about oneself, instead, ask how the other person is doing.

Never ask personal questions in your first meeting. Why so nosy anyway?

Greet people, say hello more often whether it is the mailman or the barista making your coffee, just say hello where you come into contact with another person.

Speak politely by never talking over someone and interrupting them. Just because you are busting to say something that fits the conversation, wait and slip it in when you can.

Congratulate others on their success, and be genuine about it.

Drive nicely. It can be hard to do, but is it such a big deal to let someone into your lane ahead of you? All in all, put safety first.

Introduce others into the conversation rather than let them be wallflowers on the edge. Introduce them to the group and highlight what you have been talking about so they can get up to speed quickly.

Never smoke in front of others without seeking approval. Ask if you can smoke or leave it until later.

Never arrive late or not at all without calling ahead. Everyone’s time is important and again, it reflects back on your character.

Laugh, smile, giggle, cry with dignity. Do not make a scene.

Smile, be interested in the surroundings.

Dress appropriately, because it is generally rude to call a certain attention to yourself. Such as wearing jeans to a wedding, looking sloppy.

Speak properly, make it a habit to pronounce your words clearly and refrain from mumbling or speaking too fast.

Never assume anything about anyone. "She's so rich, it'll be okay if I don't pay her back for lunch."

Never touch another person's things or children unless invited to.

Never talk about money. "How much does it cost?", "What did you pay for your house?", "How much do you earn?", "How much do you make from your business.".

Practice good manners, because manners are kindness. :)

***

ORIGINAL POST BY DIANA RIKASARI

Yellow Glow Lace Kaftan

 photo ava2-alodita_zpsb1bd28fb.jpg KAFTAN DRESS BY AVA COLLECTION - INFO.AVACOLLECTION@GMAIL.COM
PHOTOS BY ABENK ALTER

MY A.M. BEAUTY ROUTINE

 photo am-skincare1_zpsecda51ac.jpg Seperti yang pernah aku tulis di blog ini, kulitku pernah breakout parah dan akhirnya diselamatkan oleh skincare dan beauty habits yang paling cocok untuk aku. I still have breakouts here and there, usually because of hormones/periods, but there's nothing like they're used to be. Overall, tekstur kulitku udah jauh lebih membaik sekarang.

Ini beauty routine aku setiap pagi.

NÖCHE, PURELY OVERNIGHT OATS BY PÜRA VÏDA

 photo PV2_zpsa2c11d30.jpg Dulu aku ngga pernah suka oatmeal dan teman-temannya, karena rasanya aneh menurut aku (ya mungkin dulu aku emang belum suka healthy food hahaha). Pertama kali aku coba PÜRA VÏDA itu karena aku dikirimin tester setelah aku kenalan dengan PÜRA VÏDA ladies di sebuah workshop Jamu.

Ada cerita lucu waktu aku pertama nyobain NÖCHE "Chunky Monkey", suapan pertama rasanya aneh, suapan kedua aku mulai terbiasa, selanjutnya malah enak banget dan alhasil, ludes sampai bersih!

Thoughtful Gift from NAD'S Fleuriste

 photo IMG_0025_zps178c4a3e.jpg  photo IMG_0022_zpsed010079.jpg photo IMG_0039_zps24be26b4.jpg photo IMG_0037_zpseff990e5.jpg photo IMG_0026_zps1560046d.jpg A very thoughtful gift from a friend of mine. Thank you so much Nadia! You really brighten up my day.

NADSFLEURISTE@GMAIL.COM
PIN: 743C98B1

LEMON LOVE

 photo lemonlove-by-cocobi_zpsef38a4e3.jpg Boleh dibilang aku agak obsessed sama lemon, sampai-sampai aku bikin foto beauty pakai lemon! Hihihi..

Sejak aku membiasakan diri minum honey-lemon shot, memang terlalu banyak benefits yang aku rasain. Dari kulit makin glowing, badan lebih fresh, pikiran lebih positif juga karena semakin hari makin sadar akan pentingnya kesehatan. Malah setelah operasi, bentuk tubuh dan berat badanku menurun dengan sendirinya.

Banyak orang yang bilang aku lebih kurus dan suamiku juga makin kurus, lalu kami berdua selalu heran kalau ada yang bilang kami kurusan.

Masa sih gara-gara lemon?

GlamGlow Brightmud™ Eye Treatment

 photo gg-eye_zps472dce58.jpgJujur aja, ini produk GlamGlow pertama yang aku punya (hahaha basi banget ya!) dan pertama kali liat packagingnya.. I was like WOOOOOOWWWW.. Akhirnya punya juga! 

Karena aku gak punya knowledge apa-apa dengan produk ini, aku langsung googling review GlamGlow Brightmud™ Eye Treatment ini. Aku juga sempat bahas produk ini dengan Agnes dan kami punya pendapat yang sama. Yuk, ini reviewnya..

Today's Detail

 photo dkny1_zpsa912aa37.jpg  photo dkny2_zps2f050136.jpgSUMMER DRESS - DKNY JEANS
NECKLACE - CARNATION JEWEL
LUX GOLD WATCHES - ZECA

PHOTOS BY ABENK ALTER

FRUIT & VEGGIE CHIPS BY NAMASTE ORGANIC

 photo veggiechips_zps77b4f8de.jpgBulan lalu, aku saling berkirim e-mail dengan Novita - owner dari NAMASTE ORGANIC. Kebetulan sekali aku beberapa bulan lalu pernah beli produk kreasi Novita di sebuah toko yang menjual makanan/minuman sehat, lalu aku tag foto tsb ke account Instagram @namaste_organic.

Melalui e-mail, aku dan Novita ngobrol banyak sekali, dari mulai tentang Namaste Organik sampai ke obrolan mengenai kesehatan keluarga kami - tapi yang kali ini aku mau ceritakan adalah cemilan sehat dan homemade dari NAMASTE ORGANIC yaitu Fruit & Veggie Chips!

NO OIL, NO MSG, NO SWEETENER!

All organic fruits and veggies. Benefitnya.. You can enjoy snacking without guilt! Dan rasanya enaaaaaakkkkkkkkkk banget! Habis makan ngga berasa tenggorokan 'seret' atau ngerasa bersalah hihihi.. Oiya, kalau makan Veggie Chipsnya pakai Japanese Vegan Mayo rasanya lebih enak lagi! *suamiku aja heran banget kenapa rasanya bisa enak banget, padahal ngga pakai MSG*

Do you like healthy food?

I do.

Sorry, NOT Sorry


Just want to share this inspiring and smile worthy video by Pantene.

If you say "Sorry"way too often, you must watch this! Stop saying "Sorry" for everything without reason.

#ShineStrong everyday!

EASY WAYS TO HAVE FLAWLESS & GLOWING SKIN NATURALLY

 photo DSC_5978_zpsced7af71.jpg
Banyak banget yang tanya sama aku bagaimana cara untuk mendapatkan kulit yang sehat dan glowing tanpa harus bergantung dengan produk skincare atau perawatan kulit yang mahal. Aku sering sekali berbagi tips, tapi satu hal yang perlu diingat: untuk mendapatkan sesuatu yang diimpikan, tentunya perlu usaha dan waktu untuk mewujudkannya.

Rata-rata sih dari riset aku terhadap teman-teman di sekitarku, banyak yang malas untuk menikmati proses untuk mendapatkan kulit sehat dan glowing secara alami. Dulu aku juga malas sih, tapi akhirnya kapok sendiri dan merasa sangat rugi karena kulit aku sempat breakout parah dan akhirnya terselamatkan oleh produk SK-II. Tapi gak berenti sampai disitu saja loh, kalau kita tidak merawat kulit dari ‘dalam’ tentunya hasilnya tidak ada signifikan.

Lovely Day

 photo blog-IMG_9976_zpsbbd66319.jpg RUCI JUMPSUIT BY GEULIS
NIKITA SHAWL BY ORIGO {SILVIA.KURNIASIH@GMAIL.COM}
SUNGLASSES BY MARC BY MARC JACOBS

PHOTO BY ABENK ALTER

SEMBEM Travel Set Compact

 photo sembem1_zpsb203acb6.jpgJust want to share with you this simple yet economical product I discovered last month and has become my travel essential, Sembem Travel Set.

Biasanya kalau lagi traveling, toiletries termasuk yang paling berat di koper dan lumayan 'makan tempat'. Dan apa pun jenis perjalanannya, mau itu long-flight, road trip atau naik kereta, beauty ritual  kita tetap ngga boleh dilewatkan dan harus lebih simpel karena kita ngga mungkin bawa semua produk yang kita punya.

Dreaming of Eden

 photo ava-2_zps6ea5eaa3.jpg photo ava-4_zps615b7bb7.jpg photo ava-6_zpsa7dd6211.jpg photo ava-3_zps61707e4b.jpg photo ava-5_zpsba997644.jpg KAFTAN DRESS BY AVA COLLECTION - INFO.AVACOLLECTION@GMAIL.COM
PERSONALISED PERSPEX CLUTCH BY MNO.LOGIE
SHOES BY ZARA
FUSCHIA & BEACH BODY RING BY DUEPUNTI

PHOTOS BY ABENK ALTER

MY TTC JOURNEY

Hello, melalui artikel ini saya ingin sekali berbagi cerita dengan teman-teman yang juga sedang berjuang untuk mendapatkan buah hati. Artikel ini saya tulis pada 4 Juli 2014, saya revisi dan update pada tanggal 18 Maret 2015 agar bahasanya lebih mudah dan ringan untuk dibaca. Saya senang sekali bisa berbagi cerita ini dengan banyak orang dan juga bisa menginspirasi banyak orang untuk mengikuti program bayi tabung (In-Vitro Fertilization) di Loh Guan Lye Specialist Centre dengan Dr. Devindran Muniandy. Terima kasih atas dukungannya selama ini, selamat membaca!

***

Ngga terasa, saya sudah melewati minggu kelima pasca operasi besar. Banyak sekali yang bertanya soal operasi apa yang saya jalani, but I never told the full story karena panjang sekali untuk menjelaskannya, dan terkadang banyak orang yang bertanya cuma sekedar basa-basi saja. Setelah saya cerita, mereka-mereka ini juga belum tentu mengerti cerita saya, tapi ternyata ada saja teman-teman yang bercerita dengan saya tentang perjuangannya untuk memiliki buah hati.

Sejak beberapa orang berani membuka diri dengan saya lewat kisah dan perjuangan mereka, saya merasa lebih lega dan bersyukur – saya tidak merasa sendirian lagi seperti dulu.

Berkat dukungan yang luar biasa dari suami saya, keluarga, sahabat-sahabat terdekat. Akhirnya saya berani untuk menulis panjang lebar tentang perjuangan saya untuk mendapatkan malaikat kecil. Terima kasih juga untuk kakak ipar saya, Kania, yang sangat mendukung saya untuk menulis dan berbagi cerita ini di blog saya agar banyak orang yang bisa membaca dan tidak merasa sendirian lagi. Tulisan ini adalah tulisan keenam saya yang akhirnya berhasil saya tulis hingga selesai, karena sebelumnya saya selalu ragu-ragu untuk menulis tentang cerita ini dan mempublikasikannya lewat blog.

 photo 224335625157889547_uOGAQKnc_f_zpsogfoqrxy.jpg

Semua masalah yang saya alami berawal dari operasi usus buntu di RS Pondok Indah pada tahun 2008 saat saya masih kuliah. Awalnya saya merasa sakit perut seharian, lalu esokan harinya membaik. Lusanya saya pergi dengan teman-teman ke Pondok Indah Mall, menjelang malam perut saya sakit sekali sampai saya menangis terus karena sesakitan dan benar-benar tidak kuat untuk bicara.

Malam itu juga saya harus operasi usus buntu di RS Pondok Indah. Operasi berjalan lancar, besoknya ketika saya sadar, dokter menjelaskan bahwa terjadi perlengketan usus yang menempel ke tuba falopi. Dokter menyarankan saya untuk menemui dokter kandungan, tapi karena merasa tidak puas, saya jadi malas konsultasi dengan obgyn yang praktek di RSPI. Salah satu obgyn di RSPI berkata bahwa hal ini jika dibiarkan saya bisa tidak punya anak – dari cara menjelaskannya saja saya tidak suka, seakan-akan masalah saya enteng untuk obgyn tersebut.

Setelah saya pulih, ibu saya selalu menemani saya mencari-cari dokter yang cocok untuk terapi agar tidak terjadi perlengketan lagi. Selama mencari-cari obgyn yang cocok di Jakarta, hampir selalu saya bertemu dengan obgyn yang ngomongnya suka ‘ngasal’ dan menakuti-nakuti. “Kamu nanti gak bisa punya anak loh!” “Operasi lagi aja, nanti gak bisa hamil” dan sebagainya.

Efek dari situ, saya jadi punya mental yang jelek sekali yaitu saya tau kalau saya susah hamil. Tapi karena saat itu saya belum ada rencana untuk menikah apalagi punya momongan, saya ngga terlalu ambil pusing.

Saya juga sempat konsultasi dan akhirnya menjalani terapi di Klinik Sam Marie dengan Dr.dr. T.Z Jacoeb. SpOg-KFER. Setelah melewati terapi, Dr. Jacoeb berkata bahwa kondisi saya sudah membaik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam waktu dekat. Setelah terapi di Klinik Sam Marie, saya tidak pernah periksa-periksa lagi ke obgyn karena saya pikir saya sehat-sehat saja.

Saya dan Abenk menikah pada bulan Juni 2012. Kami memang tidak pernah menunda-nunda untuk punya anak. Setelah hampir setahun menikah, ibu saya menyarankan untuk cek lagi ke dokter karena belum juga hamil. Ibu saya khawatir karena ada perlengketan usus di dalam perut saya, dan takutnya memang hal tersebut yang jadi sumber masalah kenapa aku belum juga hamil. Atas saran ibu saya yang rajin browsing-browsing, kami konsultasi ke seorang dokter senior dan ternama di RS YPK Mandiri – yang konon sih, terkenal banget dan banyak sekali yang berhasil hamil setelah mengikuti program dari beliau.

Melalui beberapa konsultasi dan pemeriksaan, saya baru tau kalau perlengketan usus yang saya alami membuat salah satu tuba falopi saya terinfeksi dan mampet. Istilah kedokterannya adalah hydrosalpinx. Lalu dokter menyarankan untuk mengangkat satu tuba falopi yang terinfeksi melalui operasi laparoscopy. Awalnya, berat sekali untuk menerima saran dokter dan mempersiapkan diri untuk operasi – saya memang takut sekali dengan kata-kata “operasi.” Akhirnya saya pikir-pikir dulu sebelum operasi selama 1-2 bulan, karena saya takut sekali harus kehilangan salah satu tuba falopi. Tapi akhirnya saya bertekad untuk operasi karena merasa sreg dan cukup yakin dengan saran yang dokter berikan, lalu saya menjalankan laparoscopy di RS YPK Mandiri.

Saat itu, saya bersiap-siap sekitar jam 4 pagi untuk operasi laparoscopy. Saat di ruangan tunggu, yang saya heran, dokter saya malah gak menengok saya terlebih dahulu. Justru Dr. Ceppi (asisten dokter senior yang akan mengoperasi saya) yang menengok saya dan menjelaskan tentang prosedur yang saya jalani. Sebelum dibius di ruang operasi, dokter saya juga gak banyak basa-basi. Saat di operasi, tuba falopi kiri juga dites oleh dokter apakah berfungsi dengan baik atau tidak, dengan cara disemprotkan cairan berwarna biru. Tentunya tuba falopi yang mampet tidak bisa dilewati oleh sperma, tapi ternyata tuba kiri saya kondisinya masih normal. Operasi berjalan cepat dan lancar, begitu juga dengan proses pemulihannya.

Setelah operasi, dokter memberikan foto-foto hasil operasi laparoscopy yang ditempel di buku medis pasien, berikut dengan catatan-catatan yang selalu saya bawa saat konsultasi. Memang terlihat banyak sekali perlengketan di daerah tuba falopiku, perlengketannya terlihat seperti ingus kental dan bagian yang terinfeksi terlihat seperti luka yang sudah borokan.

Kondisi saya setelah operasi juga baik-baik saja, beberapa hari kemudian saya menstruasi dan semua berjalan normal.

Tapi ternyata, masalah baru datang sebulan kemudian.

Setiap hari kedua menstruasi, saya mengalami kesakitan yang luar biasa di area perut sebelah kanan, tepat dimana tuba falopi saya sudah diangkat. Saya benar-benar gak tahan dengan sakitnya sampai ngga bisa jalan kaki. Akhirnya saya dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) di YPK Mandiri agar bisa bertanya dengan dokter apa penyebabnya.

Seminggu kemudian, kami konsultasi lagi dengan sang dokter senior – kali ini kami dapat nomor antrian awal karena seminggu sebelumnya saya masuk UGD dan staff UGD membantu kami mendapatkan nomor awal untuk konsultasi. Kami bertanya-tanya, tapi dokter tidak menjelaskan secara medis. Malah ujung-ujungnya beliau selalu menyudahkan konsultasi secara cepat-cepat dan pertanyaan kami tidak ada yang dijawab.

Parahnya, dokter malah menyuruh kami untuk datang konsultasi lagi kalau saya sedang kesakitan – padahal setiap antri konsultasi, antriannya bisa 2-3 jam dan menurut saya hal tersebut gak masuk akal.

Kalau saya sudah kesakitan, lalu beliau masih tetap menyuruh saya menunggu? Kalau saya tiba-tiba pingsan di jalan karena kesakitan saat kerja atau pergi-pergi, bagaimana? Karena merasa lelah dengan antrian yang panjang, sikap dan servis yang tidak memuaskan, saya jadi capek dan kecewa secara fisik dan juga mental. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak akan konsultasi ke dokter senior tersebut lagi dan berbesar hati untuk menjalani hari-hari menstruasi saya dengan cara berbaring di kasur dan kesakitan. Di saat yang bersamaan, saya dan suami terus berusaha agar saya hamil, tapi ternyata saya belum hamil juga selama 8 bulan setelah operasi laparoscopy.

 photo ttc-journey2a_zps1w0t81yi.jpg
Kondisi tuba falopi saya yang terinfeksi dan terkena perlengketan usus selama 6 tahun terakhir.

Ada hari-hari dimana saya melewatinya dengan penuh tangisan, rasa kecewa dan marah. Saya ngga pernah marah dengan Tuhan, tapi marah dengan keadaan dan diri sendiri. Saya juga marah sekali dengan obgyn yang sudah mengoperasi saya dan tidak bertanggung jawab dengan pertanyatan-pertanyaan saya.

Sering sekali saya berpikir kalau memang saya tidak bisa hamil dan tidak bisa punya anak, apa saya dan suami harus adopsi saja? Saya juga sempat berpikir untuk mendatangi obgyn tersebut ke RS YPK Mandiri, saya ingin marah-marah dengan beliau karena jujur saja, saya menderita sekali setiap menstruasi datang. Saya kesal sekali. Tapi yah, buat apa saya marah-marah? Mengeluh dan marah juga tidak membuat keadaan saya membaik atau lebih lega, justru malah menambah “penyakit” saja.

Sering kali saya merasa jealous dan sensitif dengan teman yang baru mengumumkan bahwa dirinya hamil. Bukannya saya ikut senang, saya malah sedih kenapa orang lain mudah sekali untuk hamil? Sedangkan saya harus merasa sakit-sakitan setiap bulan tapi saya kok belum hamil juga. Apalagi di lingkungan saya, banyak sekali teman-teman yang sengaja menunda untuk punya momongan. Eh, sekalinya “tidak menunda” malah langsung hamil. Ada juga cerita-cerita tentang hamil karena “tidak sengaja”, tapi ketika saya tanya, jawabannya malah, “Sebenarnya gue ngga pengen hamil dulu, Ndra.” Pada awalnya hal ini terasa tidak adil, kenapa orang-orang bisa berbicara seperti itu? Padahal orang-orang seperti saya ingin sekali memiliki momongan, dan mereka tidak mengerti dengan kondisi orang-orang seperti saya. Tapi saya perlahan-lahan mencoba untuk tidak berpikir negatif seperti itu lagi, saya mencoba untuk mengerti keadaan orang lain – mungkin karena mereka mudah sekali untuk hamil, jadi mereka lupa untuk bersyukur. Padahal anak tidak pernah minta dikandung atau dilahirkan. Anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga.

Tapi tidak jarang juga loh, ada suara-suara dan kata-kata yang bikin aku merasa down. Apalagi saat bertemu dengan kerabat orang tua, teman yang tidak terlalu kenal-kenal banget atau pun keluarga besar.

“Kamu sibuk banget sih.”

“Ngga usah terlalu mentingin karier. Uang kan bisa dicari.”

“Kamu KB ya? Ngapain sih KB? Jangan nunda-nunda dong.”

Saat-saat seperti itu saya jadi sensitif sekali dan tersinggung dengan beberapa orang yang tidak asal ngomong.

***

MARCH 2014

Bulan Maret 2014, saya dipaksa oleh kedua orang tua saya untuk menjalankan general check up di Penang, Malaysia, dan mencari second opinion tentang kasus yang selama ini aku alami. Akhirnya saya menyerah, dengan embel-embel “harga check up di Penang yang terjangkau” akhirnya saya berangkat dengan kedua orang tua saya. Saat itu suami saya ngga bisa menemani karena ada pekerjaan.

Kenapa ke Penang?

Karena ibu saya kemoterapi di Penang, dan kedua orang tua saya puas banget dengan servis RS-RS di Penang.

Tanpa berbekal informasi apa pun, secara random saya ditemani ayah saya, datang ke Loh Guan Lye Specialist Center dan bertanya dengan resepsionis soal obgyn yang bagus di Loh Guan Lye.  Akhirnya saya langsung ambil nomor dan diminta untuk datang lagi sekitar pukul 14.00 untuk konsultasi di hari yang sama. Saya amazed, begitu pertama datang saja sudah langsung dapat nomor antrian.

Kalau di Jakarta? Duh, jangan harap langsung dapat di hari yang sama.

Saat bertemu Dr. Devindran, saya membawa catatan medis dari RS YPK Mandiri beserta foto-foto hasil laparoscopy saya. Saat melihat rekam medis saya dari RS YPK, raut wajah Dr. Devindran langsung ngga enak. Beliau juga tanya, apakah sebenarnya saya mengetahui betul apa yang saya alami selama ini. Saya menggeleng. Sewaktu Dr. Devindran menjelaskan panjang lebar tentang kasus yang sebenarnya saya alami, saya lemas, shock dan kaget. Sebenarnya dua tuba falopi saya kondisinya sudah parah sekali, tapi dokter di RS YPK Mandiri tidak membahas soal hal ini. Malah dokter bilang bahwa saya bisa-bisa saja untuk hamil, kenyataannya saya harus menderita setelah operasi laparoscopy. Lalu soal alat-alat yang dipakai untuk operasi, memang harganya mahal sekali tapi alat-alat tersebut bukan berarti alat yang terbaik. Selain itu, ada satu obat yang ditaruh di tuba falopi saya saat laparoscopy – ternyata obat itu tidak diperlukan. Bentuknya seperti perban yang dipasang untuk melindungi tuba falopi yang terinfeksi, tapi ternyata saya dan suami membayar obat tersebut senilai Rp 8.000.000,- for nothing! Gila kan?

Dr. Devindran menjelaskan bahwa infeksi dan perlengketan pada tuba kanan saya juga mempengaruhi tuba kiri, beliau menyarankan saya untuk laparoscopy lagi untuk mengangkat tuba kiri. Ayah saya tanya, “Jadi Andra punya kesempatan untuk hamil natural, dok?” Dokter menjawab bahwa saya hanya memiliki kesempatan 5% untuk hamil secara alami.

Lima persen.

Kebayang ngga, hanya lima persen?

Kemungkinan yang sangat kecil sekali, dan saya shock. Saya berusaha menahan tangis, berusaha untuk tenang. Ayah saya terlihat tegang tapi tetap berusaha untuk tenang. Dr. Devindran juga menyarankan saya untuk mengikuti program bayi tabung atau In-Vitro Fertilization (IVF). Saran ini tidak saya terima begitu saja karena saya kecewa dengan kondisi saya yang tidak bisa hamil secara natural. Saya juga tidak bisa menerima kenyataan bahwa dokter senior dari RS YPK Mandiri tidak bicara jujur sepenuhnya tentang kondisi tuba falopi saya yang ternyata, sudah parah sekali. Dr. Devindran juga menyarankan agar saya tidak menunda-nunda untuk laparoscopy lagi, sebelum semuanya terlambat dan infeksinya semakin parah.

Karena saya tidak ditemani oleh Abenk saat konsultasi, dokter meminta untuk bertemu dengan Abenk saat beliau datang ke Jakarta. Saya masih ingat betul perkataan beliau, “Saya mau bertemu suami kamu, kebetulan saya akan ke Jakarta weekend ini. Biar saya yang menjelaskan semuanya tentang kondisi kamu, agar suami kamu bisa mengerti.”

Sepulang dari Loh Guan Lye Specialist Centre, saya merenungkan kondisi saya terus menerus. Orang tua saya menyarankan untuk tetap mencari second opinion dengan dokter yang berbeda. Esok harinya, saya datang ke Lam Wah Ee Hospital untuk konsultasi dengan Dr. Ng Peng Wah – tapi karena belum jodoh, Dr. Ng hari itu sedang tidak praktek. Saya akhirnya konsultasi dengan obgyn lainnya, saya lupa namanya, tapi dokter yang saya temui mengatakan hal yang sama dengan Dr. Devindran. Intinya saya harus merelakan satu-satunya tuba falopi yang sekarang saya punya, karena kalau dibiarkan saja malah jadi penyakit.

Saya akhirnya googling terus tentang Dr. Devindran karena saya takut mengalami hal yang sama dengan dokter-dokter di Jakarta. Beberapa blog dan forum yang membahas IVF dengan Dr. Devindran juga hasilnya berbeda-beda, ada yang berhasil tapi ada juga yang gagal sampai berkali-kali. Lalu saya tidak sengaja menemukan blognya Putri Kansil tentang pengalaman menjalankan IVF dengan Dr. Devindran. Putri sudah menunggu buah hati hingga 7 tahun, dan akhirnya berhasil hamil hanya dalam satu kali treatment. Membaca tulisan Putri, saya juga yakin saya akan berhasil seperti cerita Putri.

The next couple weeks were difficult for me. Setelah pulang dari Penang, saya mengalami stres yang luar biasa karena saya belum ikhlas menerima kenyataan. Walaupun saya dan suami sudah konsultasi dengan Dr. Devindran sewaktu beliau datang ke Jakarta, saya tetap saja stress kalau memikirkan harus operasi lagi. Abenk sendiri merasa cocok dengan Dr. Devindran, dari cara menjelaskan secara detail dan beliau juga selalu menyemangati kami. Tapi saat itu sulit sekali rasanya untuk tetap tenang dan memiliki mental positif.

Saya sempat mikir, apa memang kami tidak akan punya anak?

Sempat mikir juga, bagaimana jika operasi atau treatment kami gagal? Kalau gagal, kami harus mulai lagi dari mana lagi?

There were several days when I was just crying. I cried on the bed, sometimes I cried in my bathroom. Kadang saya menangis meraung-raung di pelukan suami, kadang curhat dengan sahabat-sahabatku sambil marah-marah. Akhirnya, I decided to stop working. Cuti sementara dari dunia fotografi dan fokus untuk program hamil. Saya merasa ini saat yang tepat untuk fokus dengan diri sendiri. Setelah yakin dengan pilihan untuk cuti, saya menjalani hidup sehat, mengkonsumsi makanan sehat, memperkaya diri dengan pikiran-pikiran yang positif sambil mempersiapkan mental untuk menjalani operasi dan program bayi tabung.

Berkat kekuatan dan kasih sayang yang Tuhan berikan, saya semakin semangat dan sangat positif untuk menjalani hari-hari kedepan.

Dalam waktu dua bulan, saya menyelesaikan semua pekerjaan yang berhubungan dengan fotografi termasuk meminta izin dengan beberapa pihak untuk cuti sementara. Awalnya saya sedih harus cuti dulu, tapi akhirnya saya malah semangat dan fokus karena tidak sabar untuk cepat-cepat dioperasi dan menjalankan program IVF.

***

JUNE 2014

 photo ttc-journey1_zpsfpzl0auf.jpg

Sehari sebelum operasi laparoscopy yang ketiga kalinya dalam hidup saya, saya dan suami konsultasi dan melakukan pemeriksaan dengan Dr. Devindran. Dari hasil USG, terlihat benyak sekali perlengketan-perlengketan dan ada polip di rahim. Dokter mengatakan karena kondisi perlengketan saya yang cukup parah dan sangat sulit untuk membersihkan perlengketan-perlengketan tersebut, dokter akan melakukan “Plan B” yaitu operasi laparotomy – operasi besar dengan cara membuka bagian perut secara vertikal. Dr. Devindran menjelaskan kalau operasi besar ini jarang sekali terjadi, mungkin terakhir terjadi sudah 5-6 tahun lalu.

Tanpa pikir panjang, saya setuju dengan saran dokter karena saya sudah capek sekali bolak balik operasi karena masalah perlengketan. Sewaktu ibu saya tau soal “Plan B” ini, beliau langsung panik dan lemas. Khawatir, kalau saya malah kenapa-kenapa. Tapi saya berusaha tenang terus karena sudah yakin dengan pilihan saya, walaupun ini operasi yang kedua kalinya dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.

Esok harinya, saya dijadwalkan operasi sekitar jam 13.00. Dari pagi saya sudah diminta untuk bersiap-siap, saya memilih menginap di kamar VIP di gedung baru. Selanjutnya, ketika sadar dari pengaruh obat bius, sayup-sayup saya melihat kantong darah di samping kanan atas saya. Saya juga melihat Dr. Devindran sedang berdiskusi dengan suster. Dokter menghampiri saya dan bilang bahwa operasinya sudah selesai dan beliau “membuka” perut saya.

Selanjutnya yang saya diberi tau oleh dokter, suami dan ibu saya bahwa saya kehilangan banyak darah selama operasi berjalan. Saya juga tidak jadi menginap di kamar VIP, malah saya ditempatkan di kamar yang isinya sekitar 5-6 pasien. Setiap 15 menit suster datang mengecek kondisi saya, karena saya demam. Suami juga bercerita Dr. Devindran menempatkan saya di kamar yang beramai-ramai supaya dekat dengan ruang jaga suster, ternyata kondisi saya hampir kritis karena kehilangan banyak darah.

Saya juga dipasangi kateter urine, tapi juga saya melihat ada selang di antara perban besar yang melilit perut saya – yang ternyata selang tersebut berfungsi untuk mengeluarkan sisa-sisa pendarahan dalam perut saya. Awalnya saya diminta stay selama satu malam saja, tapi dengan kondisi seperti itu saya terpaksa menunda kepulangan saya ke Jakarta dan harus stay di RS selama 5 hari. Saya juga tidak diizinkan pulang ke Jakarta karena kondisi saya lemah sekali, jadi totalnya saya stay selama 10 hari di Penang.

 photo ttc-journey5a-blog_zpsk3z9kk88.jpg
Hampir kritis beberapa jam setelah operasi Laparotomy (kiri). Masih lemah seminggu setelah operasi (kanan).

Memang semua tidak seperti ekspektasi awal saya yang seharusnya hanya laparoscopy saja, but I was blessed, happy and very positive. Saya yakin perjuangan saya tidak akan sia-sia. Saya gak berhenti bersyukur dengan kondisi saya saat itu. Dan saya merasa lebih lega karena paling tidak, salah satu proses yang harus saya jalani akhirnya terlewati.

Selama lima hari dirawat di rumah sakit dan bedrest total di hotel, saya menikmati sekali masa-masa dimana saya harus belajar jalan lagi. Saya baru bisa jalan di hari ketiga paska operasi, biasanya kalau operasi C-Section, pasien lainnya sudah bisa jalan di hari kedua. Susah ke toilet, kadang-kadang juga masih demam, ngga bisa mengangkat kaki lebih dari 15 sentimeter, tidur juga hanya bisa nyenyak di posisi tertentu. Karena saya ngga bisa angkat kaki tinggi-tinggi, akhirnya setiap mau memakai atau melepas underwear juga harus dibantu Abenk atau ibu saya. Abenk juga sabar banget selalu nunggu dan nemenin pagi sampai malam, merelakan waktunya selama 10 hari untuk menemani saya di Penang tanpa bawa laptop dan alat-alat untuk bekerja. Abenk selalu terlihat tenang, makanya saya juga merasa lebih tenang.

Kami menginap di GLOW Hotel yang letaknya tidak jauh dari Loh Guan Lye. Selama bedrest di hotel, saya konsultasi dengan Dr. Devindran sebanyak 3-4 kali untuk memantai kondisi saya setelah laparotomy. Beliau perhatian sekali dengan kondisi kami berdua. Kami selalu disemangati dan diberi nasihat-nasihat bijak yang akhirnya selalu kami ingat. Bahkan Dr. Devindran juga sempat meminta maaf pada Abenk dan keluarga saya karena ‘terpaksa’ harus melakukan laparotomy, yang akhirnya kami jadi harus tinggal lebih lama di Penang.



Dokter menjelaskan bahwa paska operasi laparotomy yang saya jalani, kondisi saya hampir kritis dan hampir dirawat ke ICU – tapi ternyata badan saya cukup kuat dan mental saya sangat positif untuk sembuh dan berjuang, jadi akhirnya saya bisa dirawat di kamar biasa.

Dr. Devindran juga berusaha untuk biaya tagihan kami agar tidak membengkak. Beliau juga menyarankan Abenk untuk mengurus asuransi agar semua bisa ditanggung asuransi. Saya salut dan puas sekali dengan servis Dr. Devindran.

***

JULY 2014

 photo ttc-journey3_zpsyossw8hy.jpg

Minggu ini setelah satu bulan saya operasi laparotomy, saya datang ke Penang lagi untuk konsultasi dengan Dr. Devindran. Hasil USG menunjukkan bahwa kondisi saya aku bagus, tidak ada perlengketan lagi. Bekas jahitan laparotomy saya juga mengering dengan baik, hanya saja berbekas dan akhirnya menimbulkan keloid. Indung telur saya juga kondisinya sehat dan saya melihat ada telur-telur di dalamnya. Dr. Devindran menyarankan agar kami memulai program IVF bulan depan, tapi kami menunda sedikit selama 2-3 bulan agar kondisi saya sudah pulih total dan persiapan mental kami juga lebih matang.

Setelah operasi terakhir, banyak sekali hal-hal yang membuat aku lebih semangat, misalnya setiap lagi ke mall saya selalu melihat ibu hamil. Malah kemana-mana rasanya saya selalu melihat ibu hamil. Ada saatnya saya mimpi sedang hamil, bahkan sedang menyusui! Setiap bangun dari tidur, saya senyum-senyum sendiri karena tidak sabar semua mimpi-mimpi saya jadi kenyataan.

Hari ini adalah hari kedua menstruasi saya setelah operasi laparotomy dan saya tidak merasakan kram perut lagi seperti dulu. Everything’s okay now.

So, that's the story.. I decided to write and blog about my TTC journey, because I know there are so many out there who desperately want children and for some reason it just hasn't happened yet – YOU ARE NOT ALONE! I have no tubes but that doesn't stop me. I believe God moves in mysterious ways. Never give up, never lose hope.. Always. Thank you to all of you who still support and follow my journey and pray for us!

Read more: My IVF Success Story

 photo x-andra4_zps7f1083c1.jpg